
"Ibu," panggil Afrinda yang menyusulnya keluar setelah beberapa saat mengabiskan rindu pada ayahnya.
Nurma menoleh ke arah Afrinda sekilas kemudian kembali membuang muka lurus ke depan, membiarkan Afrinda duduk di sebelahnya.
"Ibu, maaf." Ragu-ragu bibirnya berucap masih takut marah lagi seperti kemarin. "Maaf karena ayah justru memanggilku lebih dulu, seharusnya ibulah yang pertama kali karena ibu istrinya." Kalimat itu tersirat makna Afrinda masih merasa asing pada ibunya sendiri, sehingga menekan 'ibu istrinya'.
"Kau anaknya."
Dia tidak salah dengar? Ibunya membalas ucapannya tanpa ada nada tinggi kemarahan? Merasa senang sendiri salah tingkah hal kecil seperti ini kata 'kau anaknya' diartikan pertanda baik untuk saat ini. "Aku juga anak ibu'kan?" tanyanya berani.
"Terima kasih atas bantuanmu suamiku sudah sadar." Bukannya menjawab Nurma mengalihkan topik. "Saya ingin bertanya padamu, hadiah apa yang kau minta dari sini?"
DEG.
__ADS_1
Afrinda terjatuh tersenyum pahit, baru saja perasaanya menghangat sedetik kemudian ia diterpa kenyataan ibunya menganggapnya pamrih. "Apa yang ibu katakan? Hadiah? Aku tidak menginginkan semua itu, iklas! Naluri seorang anak perempuannya pada ayahnya, ikatan batin antara kami berdua sangat mempan untuk ayah bangun. Ibu, jangan menganggapku serendah itu, aku permisi!"
Dia kecewa menarik tangan suaminya segera pulang, tangisannya pecah dalam pelukan Gharda ucapan ibunya terngiang semakin membuatnya sesak.
Sejauh ini Afrinda sudah sangat berusaha menekan hatinya pada ibunya, bagaimana mungkin ia bisa sakit hati pada ibu yang sangat dirindukannya ini, entah apa yang membuatnya ditolak seperti ini.
Jujur saja setiap penolakan itu menyimpan sakit hati hampir menarih benci pada Nurma, dirinya pun manusia biasa yang memiliki perasaan sakit hati pada perbuatan orang lain apa lagi ini ibunya. Jika dibilang karena mungkin Afrinda lama hilang jadinya tidak saling mengenal, harusnya dengan kembalinya dirinya sekaranglah waktu yang tepat untuk memulai dari awal, bukannya jadi menghindar seperti ini.
Mamah Dahlya, kenapa tiba-tiba otaknya membanding-banding kedua sosok ini? Tidak, tidak! Ini tidak benar, tahan emosimu Afrinda. Mengesah kasar mengusap wajah gusar.
"Saya pemgacara Ny.Dahlya, ada yang ingin saya sampaikan pada anda, temui saya di rumah utama Tuan Bram ."
Ada apa dengan adik-adiknya? Gharda memutar jalan ke arah rumah utama Bram, turun tergesa adik-adiknya berjejer duduk di depan lelaki paru baya itu.
__ADS_1
"Ada apa, Pak." Afrinda angkat suara.
Pengacara berkumis tubuh tinggi gempal berdehem merapikan kaca matanya, membuka tas yang dibawanya banyak berkas diletakkan di atas meja ruang tamu. Memperhatikan lamat-lamat keempat saudara ini bergantian menghela napas panjang.
"Nyonya Dahlya sudah bekerja keras untuk anak-anaknya hasil diluar penberian suaminya Tuan Bram, menyimpan investasi perhiasan dan menjual beli barang branded uangnya disimpan dalam bentuk saham perhiasan yang terletak di toko pusat ibu kota dan menyisakan beberapa gram perhiasan untuk dibagikan pada kalian berempat."
Berbagai perasaan tercengang baru mengetahui mamahnya melakukan semua ini diam-diam tanpa sepengetahuan mereka, Lassio mengusap air mata penyesalan selama ini ia terlalu cuek pada mamahnya. Laxsa tetap datar tanpa ekspresi, Swan tidak pernah mau memgerti tentang mamahnya sekalipun dia paling dekat pada mamahnya.
"Kalian harus siap mendengar keputusan ini."
Afrinda mewariskan saham toko perhiasan yang harganya lumayan besar, alasannya berdasar, Afrinda selama ini mampu menjalankan ekspresinya lebih mandiri dari adik-adiknya dan dianggap lebih mapan mengelola usaha.
Sementara Lassio mendapatkan tanggung jawab warisan semua perhiasa mamahnya, yang paling rumitnya sdalah, ketiga kakak beradik ini harus pintar-pintar mengelola akan dikemanakan perhiasan ini.
__ADS_1
Adil tidak adil, semuanya telah tercatat bertanda tangan resmi.
👇👇👇