
Rumah mewah milik Bram didatangi banyak pelayat setelah mendengar kabar kematian itu, menunggu jenazahnya datang dari rumah sakit setelah proses outopsi dilaksan. Lassio sudah bersama kedua saudaranya di dalam ambulance menghantar tubuh kaku dalam rumah terakhir, Swan sibungsu terkejut tidak mengetshui spa-apa sebelumnya.
"Pak, menantu saya sedang diperiksa dokter. Tolong jangan sekarang kalian datang memcari keterangan," murka Ny.Syeni keberatan beberapa anggota kepolisian datang ke rumah sakit tempat korban luka dirawat.
"Bagaimana ini?" tanya salah satu pada rekan yang lain.
"Sebaiknya kita tunggu saja surat keterangan dari dokter kapan kita bisa mintai keterangan lebih lanjut, kita kembali sekarang."
Mereka pergi meminta maaf sebelumnya karena telah menganggu Ny.Syeni, duduk resah masih menunggu kedatangan dokter dari dalam.
Lelah atau sedih semuanya tidak dapat diungkapkan dengan kata, Ny.Syeni terus menangis terisak menghadapi kejadian ini. Setelah putranya sekarang menantunya dan Danu temannya.
"Mah!"
Ny.Syeni tersentak kaget Gharda datang dengan kursi roda yang dibantu salah satu suster perawat, "Kamu kenapa kesini, Nak. Jang-"
"Bagaimana kondisi Afrinda?" cecar Gharda cemas.
"Ghar, kamu saja belum pulih. Dari pada kamu-" Gharda menatap mamahnya memohon membuat Ny.Syeni luluh seketika menghela napas panjang. "Baiklah, kita sama-sama menunggu, ya." Menarik kursi roda Gharda ke sebelahnya mempersilakan suster perawat melanjutkan tugasnya.
Gharda sudah terbangun dua jam yang lalu, mamahnya tidak.kelihatan sejak selsai menyelesaikan makan siangnya, bertanya pada suster perawat sampai membentak, dengan rakut suster itu memberitahukannya membawanya menyusul kesini.
"Tadi pagi dokter sudah memeriksa keadaan Afrinda, luka serempetan peluru itu tidak parah sebenarnya. Hanya saja harusnya istrimu sudah sadar jam ini menurut perkiraan dokter, mamah tidak sabar menyusul dokter meminta memeriksanya lagi, mamah takut Afrinda kenapa-kenapa." Terang Ny.Syeni.
__ADS_1
"Syukurlah Afrinda tidak parah." Gharda menghela napas lega. "Lalu ayah Danu?"
"Danu kritis."
"Kritis?"
"Dia kehilangan banyak darah, sudah ada donor tapi tetap saja masih mengkhawatirkan, Danu mencabut peluru secara sadar, dokter siaga indikasi ada infeksi. Nurma dan Ardan sudah menemaninya di ruangannya."
"Ardan?"
"Panjang ceritanya, Nak."
Suara decitan pintu dokter keluar menghampiri keduanya, menunduk hormat memberi isyarat agar menoleh ke arah pintu.
"Afrinda!"
Ny.Syeni berlari mensejajarkan tubuh pada kursi roda Afrinda menatapnya cemas, "Kamu akhirnya sadar juga, Sayang. Tapi kenapa langsung keluar begitu?"
"Aku tidak apa-apa, Mah, Ghar. Peluru itu bahkan tidak menembus kulitku, Aku ingin melihat papah dan mamahku, aku ingin tahu keadaan mereka sekarang." Afrinda merengek ingin berdiri sigap suster perawat menghalanginya.
"Sayang," Gharda meraih tangan istrinya.
"Kamu, punggung?" Meraba perban suaminya mengusapnya lembut. "Tertembak."
__ADS_1
"Yang penting kamu juga selamat." Gharda tersenyum yakin. Melihat istrinya bisa kuat sampai sekarang membuatnua semakin menyesalkan keputusan ini, andai saja rencana ini tidak ia setejui pasti sampai sekarang tidak akan terjadi. "Maafkan aku," ungkapnya menunduk.
"Maaf?" Afrinda bingung.
"Aku dan kamu sudah tidak kenapa-kenapa, lalu ay-ayah dimana?" Panik lagi ketika mengingat ayahnya. "Mah, ayah Danu dimana?"
"Mamah tidak tahu, ibumu yang menjaganya masih dirumah sakit ini." Ny.Syeni pasrah menyembunyikan dulu kondisi Danu.
"Papah Bram Mamah Syeni?"
Semuanya diam tidak ada yang berani menjawab, keheningan terjadi sampai Egwin muncul masih berpakain jas dokter lengkap baru saja menangani Danu.
"Gharda, Afrinda, astaga kalian!" Terkejut kedua orang sakit ini bisa berkumpul di sini.
"Mamah dan papahku."
Afrinda terus mendesak firasatnya sudah tidak enak, Gharda berat hati mengangguk setuju menyerahkan pada Egwin. Dirinya dilarang ikut luka tembaknya belum kering.
"Siapkan segalanya," titah Egwin pada bawahannya. Inilah keuntungan mempunyai sahabat langsung pemilik rumah sakit ini.
Perjalanan terasa lama laju kecepatan mobil diperlambat, sampai di lokasi jalan kerumah papahnya. Membaca papan bunga membuatnua syok hampir jatuh pingsan, kedatangannya menjadi pusat perhatian memberi jalan untuk segera masuk ke dalam rumah.
Dua buah peti berada ditengah-tengah beserta saudaranya yang lain, Afrinda menangis berteriak memaksa berdiri berlari ke antara peti kedua orang tuanya tersungkur jatuh.
__ADS_1
Masih belum memgerti apa yang sebenarnya terjadi hingga orang tuanya bisa teeas sekaligus namun kematian ini membuatnya sangat terpukul.
👇👇👇