Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Ayah Sadar


__ADS_3

Kekesalan Gharda menghilang begitu saja setelah Afrinda memanggilnya sayang, walaupun masih terdengar gugp hatinya merasa bahagia tersenyum memarik istrinya dalam pelukannya. "Wajahmu sampai merona begitu, hais-" Gharda menoleh hidung istrinya. "Kamu harus terbiasa memanggilku seperti itu terus setiap waktu."


"Setiap waktu?" Afrinda menengadah ke wajah suaminya. "Yang benar saja," masih tidak percaya dengan permintaan Gharda.


"Memang kenapa? Itu tandanya kita itu saling menyayangi dimana pun kita berada, begitu," terang Gharda menggoda.


"Di depan orang tua kita juga? Segan."


"Tidak ada segan-segan, intinya mulai detik ini kita harus membiasakan panggilan sayang, tidak ada bantahan-" Gharda memdekati wajah Afrinda meniup telinga Afrinda yang kegelian menjauh. "Hah, dia bangun lagi'kan. Mandi sana."


"I-iya, iihh!" Afrinda terbirit-birit melihat benda pusaka milik Gharda berdiri dari dalam celana jarak dekat.


"Istriku masih pemalu," gumam Gharda gemas sendiri tersenyum-senyum.


Meraih ponselnya dari atas nakas mengecek notifikasi, ini dia yang ditunggu-tunggu. "Baiklah kami akan segera kerumah sakit, tolong atur segalanya," balasnya menggunakan pesan suara terkirim pada nomor kontak yang diberikan nama 'Juardan' itu.


Sesampainya di lobbi rumah sakit Gharda membukakan pintu untuk istrinya mempersilakan keluar menyambut seperti seorang permaisuri menggandeng posesif menunjukkan kepemilikannya, tanpa menunggu antrian langsung masuk ke dalam ruang dokter yang menanganinya.

__ADS_1


"Kitu buka pelan-pelan ya, kalau ada rasa perih itu hal biasa."


"Baik, Dokter." Gharda menarik napas dalam-dalam sementara Afrinda menyemangati merangkul bahunya.


Dokter itu duduk di kursi kerjanya setelah selesai membuka perban, Afrinda membantu suaminya memakai kemeja duduk dihadapan dokter.


"Kita akan lihat hasil scan-nya." Membuka amplop menyerahkannya pada si pasien. "Tidak ada infeksi, semuanya normal, kulit anda sangat meresap obat sehingga mempercepat proses pemulihan. Karat dari peluru itu tidak sempat menyerap ke dalam darah, anda sangat beruntung dalam kasus ini." Terang dokter merasa puas me-lap kaca matanya.


"Tidak ada pemasangan perban lagi, Dok?" Afrinda bertanya.


"Sudah tidak perlu, yang terpenting luka jangan sampai terkena air mandi, cairan sabun, rajin mengolesi salap dan minum obat teratur, lubang bekas peluru akan pulih secara perlahan."


Afrinda mengerinyot ini bukan lorong jalan pulang, tetap ikut saja kemana suaminya berjalan.


"I-ini ruangan siapa?"


"Ayahmu?"

__ADS_1


"Hah?"


"Sayang, dengarkan aku. Ayahmu sampai sekarang belum sadar juga, tadi malam tubuhnya kejang-kejang dan Egwin memindahkannya keruang lain ini untuk menanganinya secara khusus. Menurut psiologi yang dipelari Egwin, ayahmu butuh sesuatu dirangsang agar segera sadar, kamu mungkin salah satunya. Masuklah dan temui ayahmu ajak berinteraksi, kamu merindukannya juga'kan."


"Ibu?"


"Ardan sudah mengaturnya."


Banyak perlatan medis yang menempel di tubuh kurus ayahnya, Afrinda mengelus lembut pipi tua itu air matanya berderai merasa sesak dihatinya.


"Ayah, ini aku putrimu. Aku sekarang ada di dekatmu menyentuh pipimu menangisi keadaan ayah, aku tidak apa-apa dan aku sudah sehat, Gharda juga ikut tertembak dia juga sudah sehat. Ayah juga harus sehat bangun agar bisa berkumpul bersama kami, lihat aku yang sangat membutuhkanmu. Ibu belum mau mengakuiku, ayah tidak mau membelaku? Adik-adikku dari papah Bram banyak menuntutku setelah papah dan mamah meninggal, aku butuh saran bimbingan dari ayah apa yang harus kuperbuat. Ayah kumohon bangunlah untukku, aku masih ingin melihat ayah disisiku. Rasanya tidak rela karena kita baru saja saking mengetshui ikatan ini."


Linangan air mata itu mengalir ke pipi ayahnya, mencurahkan segalanya pada ayahnya memeluk tubuh hati-hati bersandar pada tangan pria itu.


Tidak terasa sudah lama waktunya mengajak ayahnya, tiba-tiba tangan kaku itu bergerak perlahan.


👇👇👇

__ADS_1


Makin Sepii


__ADS_2