
Seorang pria paru baya duduk tegap di kursi kebesarannya meneguk segelas kopi buatan istrinta, Dahlya Swastamita. Diusianya yang sudah termasuk tua penampilannya masih tetap gagah walaupun pasti ada keriput di wajahnya, berkat kekayaan yang melimpah memudahkan untuk merawat badan dengan uangnya. Istrunya juga mendapatkan hak istimewa yang sama, Dahlya masih terlihat awet muda dan perhiasan menggantung di lehernya. Lassio, putra pertamanya sebentar lagi akan masuk ke dunia politik. Laxsa, putra kedua dalam waktu singkat bisa naik jabatan di kepolisian. Rawn, si bungsu yang masih menempun pendidikan tentara. Afrinda anak pertama sekaligus putri satu-satunya.
Abraham Dao Sinatran, bukan hal baru lagi bagi mereka yang menjadi pejabat tinggi negara pasti akan memiliki kekayaan harta yang banyak, bukan karena gaji tapi juga kejahatan yang disembunyikan.
Keturunan Sinatran atau Sinatrani memang terlahir dari para elit-elit negara, apa pun alasannya semua keturunan wajib mengikuti aturan yang turun-temurun atau sebenarnya keluarga mereka adalah pandang kaum besar.
Tak terkecuali Afrinda sendiri walaupun berstatus anak angkat tetap ia harus memahami aturan yang sama, tapi kali ini Bram mempunyai rencana sendiri untuk anak itu. Dijodohkan!
Hal itu menimbulkan debat dalam keluarga besarnya banyak yang pro dan kontra, Bram pandai menjawab dengan ucapannya dan tatapan intimidasi yang membuatnya disegani dalam keluarga besar.
Bram juga sudah merambah dunia bisnis saat masih menjabat, perusahaan cepat terselesaikan dengan adanya pencucian pengalihan dana dalam bentuk suatu usaha. Dan sekarang ia akan menyamarkan kekayaan gelapnya melalui membuat orang lain korban tidak disadari terseret masuk dalam perangkapnya. Bram sangat memperhitungkan kemana harus dikelola uang gelap ini dengan cermat, istri dan keluarganya dibiarkan hidup glamor namun tetap harus melakukan suatu tindakan kebaikan demi menutupi kepemilikan yang disimpan.
__ADS_1
"Pah," Dahlya membuka suara setelah beberapa saat bergeming.
"Ada apa? Kau mau minta uang lagi?"
"Hah." Dhalya menghela napas kasar dengan jawaban suaminya, selalu begitu mudah menilai sekecil apapun dengan uang. "Bukan, Pah. Ini mengenai Afrinda."
Bram menghentikan kegiatannya menulis, memandang tajam pada istrinya. "Sudah berapa kali kukatakan, jangan ucap apa pun kalau itu menentang keputusanku. Mamah cukup diam dan nikmati saja, karena keberatanmu itu tidak akan mengubah semuanya."
Dahlya tidak gentar, ia harus berusaha kali ini untuk melarangnya. "Apa suaraku tidak bisa berguna di telingamu?"
Begitulah kehidupan rumah tangga yang dialami Dahlya, walaupun ia ibu kandung anak-anak tetapi suaminya tidak akan mendengar apa pun masukan darinya. Bram selalu merendahkan dirinya dengan memberikan hidup mewah dan wajib melakukan sandiwara di luar bahkan di depan anaknya dia dianggap seorang ibu jahat yang suka menekan seperti ayahnya.
__ADS_1
Setelah memasuki kamarnya menghubungi seseorang menayakan kabar Afrinda, anak itu masih sama seperti kemarin, tetap terkurung dan tidak bisa keluar. Mau membantu, suaminya pasti mengetahui duluan.
Menghubungi seseorang lagi dan langsung diangkat, melaporkan tentang Laxsa, putranya berhasil terhindar dari jerat hukum padahal sudah ketahuan membantu seorang wanita pembuatan identitas palsu, suaminya mengirim uang sebagai jaminannya.
Menerima laporan dari anak buahnya di antara para anggota tentara, Rawn lolos dari pemecatan padahal putranya tidak layak menjadi seorang tentara dengan kinerja yang lelet dan gaya hidup lemah.
Tidak ada yang bersih dalam keluarga ini, kecuali Afrinda yang benar-benar berusaha berpijak di kakunya sendiri. Tapi ia kasihan dengan nasib anak itu, suaminya memanfaatkan Afrinda dan keluarga yang akan dijodohkan nanti demi melancarkan niat jahat Bram. Tapi sekali lagi harus sadar diri, ia tidak mampu berbuat apa-apa lagi.
Satu notifikasi pesan masuk ke dalam sosial media miliknya, pesan pribadi dari seseorang membuka dan membacanya.
"Sye-Syeni mengajakku bertemu."
__ADS_1
DEG.
👇👇👇