Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Syeni


__ADS_3

Di dalam perjalan pun Gharda hanya diam tidak menjawab pertanyaan Tiffany, tangannya fokus memutar kemudi matanya melihat jalan raya digelapnya malam sementara pikirannya kacau.


"Ghar, kamu ingat'kan janji kamu? Jangan terpengaruh dengan perkataan mamahmu, kita harus tetap bersama." Tiffany akhirnya mengucapkan yang menjadi keresahan hatinya setelah mengetahui wanita tua itu datang.


Tapi Gharda hanya menoleh sekilas tidak menyahut lalu kembali menyetir.


"Ghar, jangan diam terus! Heyy!! Tadi'pun aku sudah menolak ajakan kamu, tapi kamu memaksaku tetap ikut. Akhirnya apa? Mamahmu itu sinis melihatku," ungkap Tiffany membentak Gharda. Bahkan tidak dengan hormatnya dia menyebut panggilan itu pada mamah kekasihnya sendiri.


"Kamu gagal mendekati Jelita, padahal kamu tahu sendiri Jelita jalan satu-satunya meminta restu mamahku. Sebaiknya kamu cari cara lain agar anak itu mau denganmu." Jawaban itu justru menyudutkan Tiffany.


"Apaaa! Kamu sendiri juga tidak menyayangi Jelita, segampang itu kamu bilang agar aku bisa lebih dekat lagi. Sekarang semua tergantung kamu, Ghar. Kalau kamu tidak segera tes DNA jelita itu bener-bener anakmu atau tidak, buat apa lagi kamu pertahankan dia di kehidupanmu? Kamu sendiri yang meragukan Jelita bukan anakmu, sekarang cepat buktikan. Aku lelah terus seperti ini hanya mengrjar restu mamahmu yang bahkan belum pasti." Tiffany menarik napasnya frustasi.


Hubungan mereka terlihat indah tetapi justru berbanding terbalik di kehidupan nyata.

__ADS_1


Mobil berhenti di apartement Tiffany membanting pintu kasar, tanpa basa-basi Gharda berputar arah jalan pulang ke rumahnya.


Gejolak dalam batinya membuatnya tidak bisa berpikir jernih, hubungan dengan mamahnya renggang sejak ia berpacaran dengan Tiffany, rasa cinta pada putrinya hilang hanya karena hasutan kecurigaannya.


Benar saja, mamahnya masih setia duduk di atas sofa di ruang kerjanya, wanita itu tersenyum sinis pada putra semata wayangnya.


"Setega itu kamu membodohi mamah, Gharda. Apa yang ada didalam pikiranmu sebenarnya? Kertas ini yang kamu tunggu seminggu yang lalu dari Dokter Lefrando'kan?"


Gharda mematung terkejut bagaimana bisa mamahnya tahu soal ini. "Serahkan kertas itu, Mah?" Keukeh Gharda tidak mau kalah.


Tidak ada rasa iba dihati Gharda walaupun mamahnya sudah menangis sekali pun, seolah matanya tertutup tanpa mencari tahu kebenarannya. "Jangan bahas itu lagi, Mah. Berikan surat itu."


Tanpa disangka Syeni meremas surat keterangan itu menjadi bulatan kecil lalu berjalan ke arah kamar mandi dan mencelupkannya ke dalam gayung yang berisi air, kertas itu kini sudah hancur menjadi bubur.

__ADS_1


"Mamah!" Bentak Gharda menggeram.


"Gunakan hati kamu untuk merasakannya, bukan logika kurang sehat kamu ini!" seru Syeni menunjuk-nunjuk kening Gharda. "Menyimpulkan sendiri tanpa mencari kebenarannya, menelentarkan anak sendiri tanpa tahu apa alasannya. Gharda, kamu akan menyesal telah melakukan ini, kamu sudah menolak Jelita, kamu menolak kebenaran. Pria yang tewas bersama Araz bukan selingkuhannya, dan Tiffany bukan wanita yang baik."


"Cukup, Mah."


"Kamu akan menyesal setelah tahu kebenarannya, ingat ucapan mamah. Jika kamu masih tidak mencari kebenarannya, maka jangan pernah menangis jika kamu datang terlambat." Syeni pergi meninggalkan Gharda di dalam ruang kerjanya.


Syeni berjalan lunglai duduk di anak tangga, Bibi Emma datang memberi secangkir teh padanya. "Apa aku bisa bertahan sampai kebenaran itu terungkap, Emma? Jantungku sakit sekali."


"Jangan bicara seperti itu, Nyonya. Nyonya harus tetap semangat sembuh setidaknya melihat Jelita kembali pada daddynya. Yakinlah semua ini pasti bisa dilewati," ujar Emma menghibur.


"Wanita ular itu?"

__ADS_1


"Tidak ada bangkai yang tidak tercium," Emma berucap sarat makna.


👇👇👇


__ADS_2