
Polesan berbagai macam merek make-up memenuhi permukaan leher hingga wajahnya, mempermak kantung mata yang tampak mengantuk membuat agar terlihat tetap segar, menata rambut panjang miliknya menggulung dihiasi mahkota semakin mempercantik penampilannya. Tidak membutuhkan waktu yang banyak, permintaan dandanan sederhana namun tetap elegan sang MUA mampu memgubah kecantikan Afrinda semakin terlihat berkali lipat. Tidak lupa memberikan pil vitamin penambah tenaga, rasa kantuk tidak tidur semalaman pasti akan berpengaruh untuk acara nanti.
Di ruang sebelah Astrid dan Ny.Syeni memeriksa ulang gaun yang akan dipakai Afrinda nanti, menge-ceknya sedetil mungkin. Tidak ada yang kurang, membantu terbalut sempurna di tubuh Afrinda. Panjang gaun yang tidak menjuntai sampai ke mata kaki membuat kakinya bebas bergerak, bagian leherr gaun yang tidak mengekspos belahan dada, lengan kembang sampai siku, mahkota menghiasi kepalanya, warna putih tulang bertabur aksesoris semakin memperindah.
"Sempurna!" pekik Ny.Syeni terpukau dengan hasilnya.
"Rasanya tidak sabar cepat menyusul," sahut Astrid menimbulkan gelak tawa. Orang tuanya sudah di bawah menunggu pesta.
Memandang pantulan dirinya dari cermin, teringat keluarganya langsung membust senyumnya pudar. Menghela napas panjang takut harapannya tidak terkabul, meneguk air dari sedotan meringankan pikirannya yang kacau.
"Ibu, Ayah, Mamah Dahlya, apakah kalian akan datang?" tanyanya dalam hati mengabsen ketiga orang yang masih ada sayang di lubuk hatinya.
"Sayang."
"Mamah, maaf aku melamun."
__ADS_1
Ny.Syeni memutar agar berhadapan mengusap pergelangan tangan calon menantunya, "Jangan langsung berpikiran pesimis dulu, nanti moodmu jelek. Kita tinggu sama-sama, acara tibggal setengah jam lagi mungkin mereka sebentar lagi sampai."
Di ruang ganti pria Gharda tidak banyak melakukan ritual make-up, hanya mengoleskan seadanya saja layaknya untuk pria. Pikiranya terbagi untuk menjaga situasi nanti, karena menurut pembicaraan mereka tadi malam, bisa saja Bram bermain di belakang layar membayar siapapun yang dari sekitar untuk menghancurkan Gharda.
Memberi perintah pada anak buahnya untuk mengawasi sekalipun hal kecil seperti tamu undangan, memperketat penjagaan sekitar lokasi gedung.
Tubuh tegapnya terpasang jas warna senada dengan gaun Afrinda rambut klimis sedikit pencerah bibir dan meminum pil vitamin juga.
"Ayah, tampan sekali," puji putrinya tersenyum menggemaskan.
"Hu'ung," Jelita mengangguk tersenyum menampilkan deretan gigi cantiknya. "Tadi Jelly sudah melihat Miss Frind, ccannntikkk sekali. Jelly senang warna gaun aku dan gaun Miss Frind juga sama, hihi!" Dengan semangat memutar badannya agar rok gaun bergoyang-goyang. "Aku mirip princes!"
"Iya-iya. Tapi mulai hari ini, jangan panggil miss lagi. Sebentar lagi'kan jadi mamahnya Jelly," ucap Gharda memakaikan sepatu di kaki Jelita.
"Bagusnya memanggil apa? Kata Allen panggil bunda saja, tidak apa-apa sama seperti memanggil Bunda Araz. Kan'dua-duanya sama Jelly sayang."
__ADS_1
Gharda menggeleng tersenyum kecil. "Terserah Jelly saja, yang mana yang enaknya saja. Sudah, susul calon bundamu sana, ayah sebentar lagi selesainya." Memberikan tas mungil yang sudah dipersispkan Gharda dipakaikan bahu putrinya mengecup pipi gemas, Jelita menghindar berlari berteriak sebal tidak suka dicium.
"Tidak mau, Ayah!!"
Gharda tersenyum bahagia, "Semoga kau ikut bahagia disana, Araz. Maaf, aku lebih memilih melanjutkan hidupku dan putri kita, dari pada terus tenggelam dalam kesedihan kepergianmu. Aku akan menebus kesalahanku dengan mencintai Jelita putri kita, album tentangmu selalu tersusun rapih di sudut hati kami," ungkapnya menengadah ke udara, mengeluarkan beludru cincin dari saku jasnya. "Cincin pernikahan kita akan kuwariskan pada Jelita." Cincin itu sudah disimpan tempat yang aman beserta aset rahasia Araz akan beralih atas nama Jelita saat usia yang sudah ditentukan.
Mengotak-atik ponselnya menghubungi Rivzal sedang berada di ruang control cctv, sejauh ini masih aman.
Di ruang make-up Afrinda sudah selesai berdiri gugup sebentar lagi keluar, Astrid dan Ticha menemani di dalam menggoda mencairkan suasana hati Afrinda.
"Ayok keluar!" seru Egwin dari balik pintu.
Afrinda berjalan ditengah-tengah dengan langkah anggun.
"Dia cantik, tapi bukan milliku," gumam.Egwin dalam hati menggeleng pemikiran macam apa ini.
__ADS_1
👇👇👇