
Gharda melupakan tentang kerja sama perusahaannya dengan perusahan Sinatran yang sudah resmi beberapa waktu lalu. Dan kesalahan itu sudah membuatnya rugi berkali-kali karena kurang mengawasi apa yang sebenarnya terjadi, salah satu pihak dari perusahaan itu meminta ganti rugi yang akibat kegagalan proyek pembangunan taman bunga yang harusnya sudah dimulai pengerjaanya.
"Siall!"
Gharda marah melempar berkas-berkas berterbangan di udara, ini harusnya tidak terjadi, ia lengah karena masalah yang bertubi menimpanya.
Astrid gemrtar dia tidak bisa berbicara banyak karena memang ini bukan bagiannya, Rivzal juga sama karena ia sibuk membantu bosnya. Dewono, adalah salah satu petinggi yang memang ditunjuk menangani proyek ini, pria itu tiba-tiba menghilang ternyata sudah satu minggu yang lalu tidak ada kabar sampai detik ini.
Masyarakat sangat kecewa pada perusahaan Gharda, janji tidak ditepati justru keuntungan yang merampas tertuduh pada Gharda.
Pantas saja perusahaan Gharda yang ditunjuk maju paling depan untuk pembangunan ini dan sengaja menomor duakan pihak Sinatran, dia mengira ini adalah suatu kepercayaan atau kebanggan untuk prestasinya, ternyata ini adalah jebakan untuk menghancurkannya.
Dewono diduga membawa lari uang proyek dengan jumlah yang sangat fantastis, hal itulah tuntutan yang sudah dikirim ke meja hijau pengadilan.
Membaca data keuangan khusus pembangunan, dengan jelinya Astrid menemukan ketimpangan ketidak samaan hasil. "Dana yang disepakati di sini tertulis, tidak sama dengan jumlah uang yang dibawa Dewono. Jelas jika di jumlah secara manual, data jumlah yang dibawa Dewono ada yang tidak beres dan sepertinya ini dibuat-buat, sedangkan jumlah dana proyek yang disepakati jumlahnya sudah benar."
Dengan kesimpulan data jumlah uang yang dibawa Dewono adalah palsu, dan yang paling mengerikan adalah tanda tangan Gharda tertera jelas di dalam kertas.
"Saya tidak pernah menandatangani ini, saya tidak mengetahui dana ini!" pekik Gharda membantah tuduhan yang dikeraskan petinggi perusahaan padanya.
__ADS_1
"Tidak ada maling mau mengaku! Anda pasti bekerjasama dengan Dewono untuk mencuri uang itu!"
"Kalau saya bekerjasama, saya sudah ikut kabur bersama Dewono."
"Bisa saja kaulah yang menyembunyikan dia!"
"Saya tidak tahu dimana Dewono! Saya tidak pernah menggelapkan dana itu!"
"Kami tidak mau tahu. Pertanggung jawabkan perbuatan anda, atau jual saja saham anda untuk membayar ganti rugi pada perusahaan Sinatran, dan lepas jabatanmu jika kau tidak mau dipenjara."
"Setuju! Lagi pula kau memang tidak becus jadi CEO, sudah beberapa kali saham hampir turun karena ulahmu!"
Rivzal memusatkan perhatiannya pada salah satu petinggi yang paling dominan memojokkan Gharda, "Berikan kami waktu satu minggu untuk membereskan masalah ini. Jika kami gagal membuktikan, kami siap meninggalkan perusahaan ini. Tapi jika kami berhasil, maka kalian harus menyerahkan saham pada kami dan wajib keluar dari perusahaan ini, apa lagi jika ada diantara kalian yang ketahuan justru main belakang." Rivzal mengucapkan dengan nada yang mengancam.
Rapat bubar.
"Tuan Gharda." Duddy menghampiri Gharda yang sedang kacau.
"Ada apa, Pak."
__ADS_1
"Apa Nyonya Syeni sudah ada perkembangan?"
"Kenapa tiba-tiba menyakan itu?" Gharda cukup heran.
"Tid-tid-"
"Mamah saya sudah sadar, belum tahu tentang ini."
"Tapi kita harus melibatkan Nyonya Syeni, Tuan. Saya yakin beliaulah yang bisa memcari akar permasalahan ini, karena seb-sebenar-nya Nyonya Syeni menghubungi saya mengajak bertemu tepat sebelum kecelakaan terjadi-"
"Apa maksudnya?"
Duddy terkejut menerima pesan singkat dari Syeni, istri dari mendiang bosnya. Mengajak bertenu sore itu untuk membahas tentang proyek ini, namun belum sampsi di tempst tujuan sudah terdengar kabar kecelakaan itu. Dari hasil panggilan telopan yang sempat Syeni katakan padanya, memintanya agar mengikut sertakan Danu juga. Duddy belum sempat juga menghubungi Danu, inilah keresahannya sekarang, andai Duddy dari awal memberitahukan cerita ini pada Gharda, pasti setidaknya kejadiannya tidak srjsuh ini.
"Kita masih bisa berusaha." Gharda mendapat angin segar. "Pak Duddy, lebih baik anda ikut saya menemui Danu. Astrid, gunakanlah kemampuan analisamu dengan mencari di data lab forensik, Rivzal kau harus tetap diperusahaan mencari oknum yang bisa kau duga berhianat."
Gharda hanyalah tokoh biasa yang pasti mempunyai kekurangan, dia bukan seorang mafia tampan yang mempunyai kelebihan menemukan sesuatunya dengan gampang. Gharda butuh team, ia bukan manusia yang bisa melakukan semuanya sendirian.
👇👇👇
__ADS_1