Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Tertembak 2


__ADS_3

Bram tidak bisa menahan emosinya yang meluap-luap terima tidak terima apa yang sudah diucapkan Danu, dengan gerakan cepat tangannya mengarah ke arah Danu lalu melepaskan satu tembakan tepat sasaran, tidak peduli dengan tangisan Afrinda dan Dahlya.


Dengan sisa tenaganya Dahlya mampu terbangun dari pangkuan Danu melepaskan rantai yang terikat di kaki Danu, "MASSS!"


"AYYAH!!"


Danu meringis sakit memegang bagian dadanya yang tertembak, menggigit bibirnya kuat-kuat menahan kesadarannya. Tanpa merasa takut sama sekali tangannya memcabut peluru yang belum tembus sampai ke organ tubuhnya, terbatuk sakit mengeluarkan darah.


Bram menggilla seorang diri di tempatnya, tertawa tanpa henti memukuli kepalanya berkali-kali. "Jangan!!" gumamnya terus memukul kepalanya. Bayangan itu terus berputar menghantam kenyataan, dengan jelas ia bisa mengingat kejahatan besar yang pernah dilakukan dalam kerugian besar maupun kecil.


"Lari cepat," lirih Danu terbatuk agar kedua wanita ini segera pergi.


"Tidak, ayah. Ayah harus ikut kami. " Afrinda setengah mati mengangkat badan lemah ayahnya. Danu terjatuh perlahan menolak Afrinda.


"Frind, bawa ayahmu keluar. Cepat!" Dahlya merangkak di atas lantai yang berdebu, menepis tangan Afrinda hendak meraih tubuhnya.


"Mamah." Apapun ia kerahkan untuk membawa ayah dan mamahnya keluar.

__ADS_1


Semakin menggila melawan isi kepala sendiri, dengan brutal ia menembaki udara pelurunya menyasar.


Napas Danu tersengal asap peluru dan debu ruangan bergabung semakin menyakitinya, tidak menyadari Afrinda sudah menyeret tubuhnya hampir mencapai pintu.


"Pergi sejauh mungkin, Sayang. Biarkan mamah yang menyelesaikan semua ini, kumohon pergilah!" pinta Dahlya suara terbata gerakan bibirnya mengusir Afrinda yang hampir mendekati dirinya.


Dor!! Dor!! Dor!!


"KAU SUDAH MATI ALFONSO!" Bram berteriak memyebut nama Alfonso memejamkan mata ketakutan menembak sembarang arah.


"AAUUH!!" Afrinda terserempet peluru tangannya berdarah.


"MANA KALIAN DANU, AFRINDA! KALIAN HARUS MATI DITANGANKU! AHHK!" Mata tertutup terus menembaki udara.


Siapa yang menutup pengelihatannya semua gelap, kepalanya sakit sekali seperti ditimpa bongkahan batu yang besar.


Kali ini giliran kaki Dahlya yang hampir tertembak, merasakan keaedihan suaminya bertingkah seperti orang yang kehilangan kewarasan dia tidak mengerti. "Pah," panggilnya merasa iba dengan kondisi suaminya.

__ADS_1


Danu sudah tidak sadarkan diri membuat bobot badannya bertambah berat, terjatuh Afrinda bangkit menjepit kedua tangannya ke bagian ketiak ayahnya berjalan mundur membawa tubuh lemah Danu. Perjuangan yang tidak mudah akhirnya sampai keluar pintu, terjatuh sekali lagi mencuri pandang pada mamahnya merangkak mendekati Bram.


"Maahh." Berdiri menpang pada dinding melangkah tersoak-soak hampir melewati garis pintu, tidak sengaja tangannya menekan handle pintu otomatis tertuutup, berteriak terduduk lemah tidak tahu caranya mengggunakan pintu agar terbuka lagi.


"Papah, Bram." Tidak ragu tetap merangkak menyentuh kaki suaminya tangan bergetar, "Kenapa semua ini terjadi?" Tangisanya pecah.


"Kau juga satu!" Tanpa perasaan Bram menempelkan ujung pistol di dahi Dahlya.


Dahlya terbelalak terkejut, tangisnya tidak bersuara lagi memejamkan mata menarik napasnya dalam-dalam, satu per satu orang-orang tersayang ya melintas tersenyum untuk yang terakhir kalinya.


Bola mata Bram memandang seperti orang lain pada istrinya, "Karena kau berani ikut campur dengan pekerjaanku. Kau masih mencintai Danu, kau penghianat. PENGHIANATT!"


DOOOR!


"A-AKU MEMBUNUH ISTRIKU, AKU MEMBUNUHNYA. DIA MATI! AAHAHAHAHA, DIA MATII! TTIDAK! AKU JAHAT, JAHAT, KAU JAHAT BRAM!"


DOOORR!

__ADS_1


Dia menembak dirinya sendiri.


👇👇👇


__ADS_2