Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Perlahan


__ADS_3

Sudah jam 07:00 pagi Tiffany belum juga mengangkat panggilan telepon darinya, Nurma ingin putrinya itu datang membawa baju ganti serta makan untuknya. Lagi dan lagi panggilan ketiga, suara operator yang menjawab nomor tidak aktif.


Badannya pegal sekali sebenarnya, tidur di atas sofa ruang rawat suaminya tidak nyenyak sama sekali, gerah belum mandi dan ia kelaparan.


Bengong sendiri melihat suaminya sudah terbangun lebih dulu, ia paham apa yang diinginkan suaminya, sayangnya ia tidak bisa melakukannya, Ardanlah yang biasanya me-lap tubuh suaminya didampingi salah seorang petugas pria perawat.


"Aku tidak tahu caranya, kita tunggu mas yang biasa membersihkan badanmu ya," ucapnya menunduk pasrah.


Danu membuang pandang.


"Ardan sudah kembali ke kotanya tinggal, dia tidak bisa lagi menemani kita."


Istrinya ini memang tidak bisa diandalkan, dulu sakit-sakitan, sekarang kurang pengalaman merawat suaminya. Danu memukul sprai ia kesal.


Petugas pria itu akhirnya datang tersenyum hangat menyapa dengan hormat, Nurma meminta baskom yang bersi air hangat ingin mencoba me-lap suaminya, si petugas memberikannya ragu tapi tidak mungkin dilarang.


Hati-hati Nurma meletakkan baskom di atas troli meja yang tersedia, mencelupkan kain memerasnya lalu berjalan ke arah tubuh suaminya mengusapnya pelan.


"Nyonya, hati-hati dengan luka jahitan di area dadanya," peringat si petugas.

__ADS_1


Danu duduk dibantu pasrah saja, untungnya alat yang ditubuhnya sudah berkurang sehingga merasa jauh lebih bebas untuk bergerak.


Perutnya mulai lapar kepalanya pusing karena lupa meminum obatnya tadi malam, memaksa dengan tenaga yang sudah berkurang tetap melakukan aktifitasnya. Matanya berkunang-kunang tidak sengaja tangannya menjatuhkan baskom dari troli meja airnya tumpah ke lantai, sigap si petugas membawa badannya menghindar dari air itu.


"Nyo-nyonya, sudah, biar petugas kebersihan saja yang membereskan semua ini. Nyonya duduk saja ya," si petugas merangkul Nurma duduk di atas sofa menangis merasa bersalah.


Para petugas sibuk membersihkan sisa air hingga kering dilanjut membersihkan badan Danu, Danu memandang istrinya penuh arti.


Nurma memgusap air matanya sesak, dia salah lagi.


Tidak ada yang mempedulikannya sudah makan atau belum ia seorang diri disini, memcoba menyuapi sarapan pagi ditolak oleh Danu. Kesabarannya hampir habis tanpa sadar menyentakkan sendok terpelanting ke lantai.


Yang bernama Sassy menjelaskan dengan jengkelnya, Egwin berdecak kasar sudah dua hari ini terjadi hal yang serupa, Nurma selalu saja ngotot padahal tenaganya saja tidak ada.


"Tinggalkan pasien sendirian. Tante, mari ikut saya." Egwin tegas menarik Nurma keluar.


"Tante, saya sudah memesan makanan untuk tante. Jangan larang saya untuk menghubungi Afrinda membujuk Om Danu makan, pikirkan kesehatan suami tante. Paham!"


Afrinda benar-benar datang dan tidak mungkin mengusirnya, bahkan sudah siang begini susminya belum mau makan juga, jujur dia juga mencemaskannya.

__ADS_1


Pemandangan yang bercampur aduk rasanya, senang Danu sudah mau makan dan minum obat, kesal karena Afrinda yang ada di dalam.


Ada yang berdesir di lubuk hatinya kedua ayah dan anak itu saling bercanda dari dalam sana, kembali duduk dengan perasaan tidak menentu.


Makanan yang diberikan Egwin belum tersentuh sama sekali, ia tidak berselera kesal Egwin membentaknya tadi pagi saat menawarkan makanan itu lalu meninggalkannya begitu saja. Setengah jam berlalu kepalanya pusing sekali badannya melemah, berdiri ingin ke kamar mandi namun keseimbangannya tidak stabil.


"Ibuu!" Afrinda baru saja keluar melihat ibunya jatuh pingsan.


"Ibu kamu belum makan dari tadi pagi, padahal aku sudah memberikannya makanan. Tiffany tidak datang menjenguknya, ibumu tidak berganti pakaian. Beliau hanya pingsan biasa, tapi harus tetap dirawat intensif mengingat sudah ada riwayat penyskit sebelumnya."


"Terima kadih, Gwin."


Egwin harus bertugas lagi, Afrinda tinggal di dalam melihat ibunya tidak sadarkan diri. Selagi belum bangun, ia menyempatkan waktu untuk melihat wajah itu dari dekat, "Kita mirip'kan, Bu."


Menikmati tiap inci dengan penuh kerinduan bibirnya mengecup pipi tirus ibunya penuh sayang, "Cepat sembuh ya, Bu."


Saat ingin menarik wajahnya, tiba-tiba saja mata milik Nurma mengerjap terbuka dan ternyata Afrinda yang membangunkannya.


"Kau disini?" tanyanya lemah.

__ADS_1


👇👇👇


__ADS_2