Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Tiffany part 2


__ADS_3

Tidak tahulah Tiffany bahwa semengerikan apa persaingan di agensi barunya ini?


Dua wanita berambut pirang hidung mancung berpakaian seksi tersenyum smrik padanya, Tiffany tidak takut atau menunduk justri matanya memandang balik.


"Zhie, lihat wanita asing ini, apakah dia terlihat lebih sempurna dariku?"


Yang dipanggil Zhie tersenyum mengejek ke arah Tiffany, "Dia tidak apa-apa ya denganmu, Gretyhe. Wanita ini hanya remahan debu yang dipungut dari jalanan luar asing sana."


Tiffany tidak menjawab dia harus bisa menjaga sikap.


Hari ini adalah pertama kali Tiffany akan menonton show para seniormya dan nanti dirinya akan diperkenalkan di akhir acara. Namun dari awal pertemuan dirinya dengan Grethye dan Zhie mendatangkan masalah sampe sudah sejauh ini merintis karier.


Kedua wanita itu selalu mengusik ketengangan hidup Tiffany, terang-terangan membuat perlawanan pada petinggi agensi.


Pernah sekali Tiffany terpancing emosi karena terus diejek bahkan dibully teman-teman sesamanya di situ, bermaksud membela diri dengan menangkis tamparan Zhei, beralhir saling menjambak dan badannya diseret teman yang lain ke kamar mandi menyobek gaun indahnya memukulinya.


Baru bulan kemarin kejadian lagi. Saat detik dimana panggung Tiffany akan dimulai pertunjukannya, suruhan Grithye menelusup merusak alat make-up mencampurkan serbuk alergi hingga Tiffany tidak jadi tampil wajahnya rusak.

__ADS_1


Sudah sering menerima perlakuan tidak adil di agensi ini, tidak ada satu orang pun yang membela membantunya, semuanya hanya berlalu begitu saja tanpa ada tindakan yang berarti. Frustasi berteriak tidak tahu mengadu kemana, ia sadar tidak mempunyai siapa-siapa di negeri sudah beda benua.


Sampai ditituk dimana ia mengetahui rahasia besar untuk semua ini, jika ingin karier dan mempunyai kekuasaan boss seperti Grithye maka model itu harus bersedia bercinta dengan pria yang mendapatkan undian atas tubuhnya mencabut nomor sudah seperti dijual.


Ada satu hal besar lagi, dirinya wajib memgikuti aliran semacam satanic mandi darah melakukan pesta **** di ruang rahasia.


Demi sebuah ketenaran.


Malam itu ia memcoba kabur dari apartement fasilitas yang diterimanya, sayangnya ketahuan berakhir disekap mendapat hukuman paling menjijikkan harus melayani beberapa pria petinggi agensi.


Satu minggu dengan tangisan yang berderai tubuhnya digilir sesuka hati mereka tanpa mempedulikan sakit hatinya, Grithye dan yang lain memandangnya jijik meludahinya.


Berita kehamilannya menggemparkan agensi tidak tahu benih siapa yang tumbuh, pria hidung belang itu tidak menarih prihatin justru memyuruhnya menggugurkan kandungan.


Di rumah sakit inilah cabang bayi itu mati bersama pengangkatan rahimnya karena dipaksa oleh pihak agensi, tidak ada yang menjenguknya menghiburnya.


"IBU AYAH!! STEPHANI!!" raung ya memanggil orang yang menyayanginya dulu. Mengingat kesalahan yang sudah diperbuat Tiffany memukuli dirinya sekencang mungkin bibirnya berdarah tangan kakinya diikat ditinggalkan begitu saja.

__ADS_1


Ada seorang lagi yang datang dalam mimpinya, Ardan tersenyum kearahnya. Terbangun tangan masih terikat air mata memgering berteriak kembali, dia telah mensia-siakan kebaikan dari lelaki yang sebenarnya sudah bertempat khusus di dakam hatinya itu.


"Ampuni aku," lirihnya di dalam tangisannya.


Andai saja dia lebih mendengarkan Tito, pasti tidak terjadi seperti ini. Andai saja ia masih bersama orang tuanya, tidak akan sampai ia dilecehkan seperti orang tidak berharga. Andai saja, andai saja, andai saja!!


"Lebih baik aku mati, aku tidak mungkin kembali, aku mati. AKU MATI SAJAAA!"


Suara jeritannya memecah keheningan rumah sakit jatuh mendarat di atas lantai tidak peduli keningnya berdarah, dia sudah hancur sehancur-hancurnya, tidak ada yang bisa menolongnya. Ia salah langkah!


Ambulance itu membawanya masuk rumah sakit jiwa dengan pandangan kosong, decitan bunyi jeruji kamar pasien terkunci mengurung kebenasannya.


Duduk lunglai penampilan berantakan pasrah saja, si perawat itu meninggalkannya.


"Lebih baik aku di sini berpura-pura gila, dari pada harus kembali ke tempat itu. Selamat tinggal semuanya, aku akan memghukum diriku di rumah sakit jiwa ini."


END

__ADS_1


👇👇👇


__ADS_2