Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Perhatian Kecil


__ADS_3

"Jelita kok belum makan, sayang?" Oma Syeni meraih piring cucunya dan mulai menyuapi Jelita. Mulut Jelita tertutup rapat menolak suapan omanya.


"Ada apa ini, sayang?"


"Oma, ayah jam berapa pulangnya?"


Pertanyaan itu lagi. Spontan Nyonya Syeni meletakkan piring makan Jelita, menangkup kedua pipi cucunya berhadapan. "Kamu mau disuapin papah ya?"


Jelita mengangguk.


Hanya bisa menghela napas saja, dari pulang sehabis bermain dari mall bersama Afrinda memang Jelita berubah murung saat sampai di rumah. Manik gadis kecil ini terus memcari ke sudut ruang dan sesekali mengintip dari celah jendela menunggu kepulangan ayahnya.


Tidak bisa dipaksa untuk makan, pada akhirnya Jelita menaiki tangga masuk ke dalam kamar dengan perut kosong.

__ADS_1


Nyonya Syeni memutuskan duduk menunggu di ruang tamu, sampai jam 22:15 pun ia rela menunggu putranya pulang. Jadi seperti ini perilaku putranya terhadap Jelita selama ini.


"Mah." Gharda terkejut mendapati mamahnya duduk tertidur di sofa ruang tamu. Namun ia hanya berdiri saja tanpa berniat menghampiri.


Nyonya Syeni tersenyum hangat. "Maaf mamah langsung bicara saja. Jelita belumm makan, dia katanya ingin disuapi sama kamu. Boleh ma-"


"Mah, Gharda juga lelah." Gharda memotong perkataan mamahnya.


Tanpa menjawab apa pun lagi Gharda meninggalkan mamahnya begitu saja.


Setelah sampai di dalam kamarnya, Gharda melepas dasinya sudah gerah, menatap pantulan dirinya dalam cermin dan entah mengapa tiba-tiba bayangan wajah Jelita muncul dalam ingatannya.


Jelita belum makan. Melihat jarum jam tangannya, Gharda mencuci wajah sebentar berjalan ke kamar Jelita yang berada di samping kamarnya.

__ADS_1


Membuka pintu pelan agar suara decitannya tidak menggangu, Jelita sudah tidur. Di dalam kamar itu juga terdapat foto Araz sedang tersenyum berukuran besar di dinding kamar ber-cat warna kuning lembut. Menoleh menatap lamat foto itu, mengusap ujung bingkai. "Apa yang sebenarnya terjadi? Maafkan aku, Araz," gumamnya.


Jelita masih terlelap dalam balutan selimut yang tidak menutupi seluruh badanya, mulutnya sedikit terbuka membuatnya terlihat semakin menggemaskan, tapi mengapa sampai tidur pun rambutnya masih terikat? Dan ada jejak air mata di ujung matanya, semenyedihkan itukah rasa sayang Jelits padanya? Batin Gharda bertanya.


Duduk mengusap kepala Jelita menatap penuh arti, rasa bersalah menyeruak dalam hatinya untuk saat ini. Anak kecil ini pun sebenarnya tidak tahu apa-apa jika pun memang ini bukan anak kandungnya, tapi mengapa harus wajah Araz yang lebih mendominasi wajah Jelita dan ini yang membuatnyasemakin tidak menyukai Jelita. Ahk! Gharda menepis usapannya mengusap wajahnya kasar.


Berdiam beberapa saat lalu kembali memperhatikan wajah Jelita, mengikuti kata hatinya melepaskan ikatan rambut Jelita hati-hati kemudian membenarkan posisi baringan Jelita menutupi tubuh Jelita dengan selimut. Kebetulan hujan di luar sana mendukung untuk menghangatkan badannya. Turun ke bawah membuat satu gelas susu hangat ke dalam termos berukuran mini spesial penghangat, mempersipakan snack ringan ke dalam kotak bekal dan membawa masuk kedalam kamar Jelita. Meletakkanyadi atas meja nakas, jika Jelita terbangun tengah malam tidak perlu turun tangga lagi ke bawah mencari makanan karena Gharda sudah menuruti kata hatinya memberi sedikit perhatian.


Sebenarnya tadi Gharda pulang larut karena makan malam bersama Tiffanny, untungya pertengkaran mereka sudah selesai.


Suara pintu tertutup,, Jelita membuka matanya. Dengan riang ia melompat melahap makanan yang disediakan ayahnya, sambil menguyah tidak lupa ia tersenyum manis. Ini bukan mimpikan?


👇👇👇

__ADS_1


__ADS_2