
Danu menghampiri istrinya yang baru saja berbaring setelah selesai mandi, kini keluarga itu sudah kembali ke rumah dalam keadaan selamat. Nurma merasa ada keanehan pada suaminya yang terlihat lebih berseri dan bahagia, biasanya suaminya ada saja yang selalu mereka perdebatkan sekecil apa pun itu.
Sibuk di warung miliknya Tiffany lebih bersemangat mengetahui banyak pembeli yang mencarinya selama tutup, tidak munafik pasti karena dia mantan aktris berdampak besar ternyata. Banyak pemuda yang tinggal di komplek yang sama memberikan usul agar menambqhkan warung teh atau sejenisnya agar pembeli sekalian bisa menongkrong. Tiffany geleng-geleng saja, ia paham modus dibalik usul itu. Tapi tidak menutup peluang bisa mewujudkannya nanti-nantilah menunggu waktu yang pas untuk itu.
Melihat keponakannya sibuk seorang diri, inisiatif Danu membantu melayani pembeli.
Tiffany tidak banyak bertanya, dia pun berpikir serupa dengan tantenya, omnya terlihat lebih ramah dan hangat saat bertatapan dengan orang-orang.
Segan bertanya tapi penasaran, logikanya berpikir tidak ada yang kebetulan.
Waktunya makan siang, beranjak mau mengambil makanannya tetapi omnya sudah datang dari dapur membawakan untuknya. "Om, aku bisa ngambil sendiri," ujarnya tidak enak.
"Tidak apa-apa, sekalian tadi punya tantemu. Tantemu mencemaskanmu kalau-kalau kau sampai melewatkan makan siangmu, maaf loh ini kalau porsinya salah." Danu sekarang berbicara lebih panjang dan ramah, ini atas dasar kemauannya sendiri bukan suruhan istrinya
"Terima kasih, om." Tiffany meraih piringnya lalu omnya pergi untuk makan siang bersama istrinya.
__ADS_1
Bersantai sedikit selagi pembeli masih sepi, makan sambil bermain ponsel membuka sosial media akun baru miliknya menggunakan bukan nama dan fotonya. Postingan wajah Allendra yang pertama kali muncul di beranda, membuatnya susah menelan air mata tak terasa jatuh merindukan putrinya. Postingan dari sekolahnya, Allen memenangkan lomba menghias makanan, hasil yang imut dan wajah tersenyum.Allen membuat hatinya menghangat. "Mamah merindukanmu, Sayang. Maafkan mamahmu yang pengecut ini." Menyeka air mata meneguk air minumnya.
Sudah tidak berselera lagi makanan belum habis, melangkah kearah dapur menyimpan piringnya nanti dilanjutkan lagi makannya.
"Loh, om mau kemana?" Tiffany bertanya pada Danu. "Itu daun-daun untuk apa?" Daun yang terbungkus dalam plastik memang paketan tadi pagi.
"Ini mau dikirim ke seberang, Tiff. Lumayan loh ini, dibayar harga berapa padahal om membelinya lebih murah. Untung banyak'kan."
"Om mau ke tempat pembeli daun itu?"
"Iya, ada beberapa orang yang memesan daun ini dijadikan obat. Malanya nanti om pulangnya lama, sudah izin sama tantemu tadi. Oh ya, nanti tolong siram yang ini ya, mau dijadikan bibit lagi."
Di dalam angkutan umum duduk merapat dengan penumpang lain, Danu tersenyum bahagia melihat ramuan yang akan dia bawa. "Maafkan aku Nurma, Tiff, aku telah berbohong, jika keadaan sudah membaik aku akan membawa putri kita pulang," ucapnya dalam hati.
Hampir satu jam akhirnya persimpangan rumahnya tiba, salah seorang menjemputnya memakai motor.
__ADS_1
Dokter Indiri menyapa hormat, selalu antusias bila bertemu dengan Afrinda.
"Paman." Afrinda pun tidak kalah senangnya.
Sesuai dengan perjanjian mereka, Danu mengajak Afrinda berjalan mengelilingi pekarangan sekitar. Egwin ikut tersrnyum melihat dari jauh, memotretnya lalu mengirim pada Rivzal.
Keduanya tampak akrab sesekali Danu menopang Afrinda agar tidak jatuh, seperti seorang ayah memperlakukan menjaga putrinya. Entah mengapa Afrinda pun tidak merasa risih atau menganggap mesum, rasa nyaman dan seperti ada yang mengikat hatinya ingin terus disamping pria ini, ia tidak mampu menjelaskan.
"Paman, sudah kakiku tidak separah itu."
"Tapi kau terjatuh, biar paman pijit lagi."
"Cukup, Paman. Lihat aku bahkan sudah bisa berdiri, ini sudah baikan. Terima kasih ya paman."
"Tidak perlu berterima kasih. Asal kau tidak kenapa-kenapa, paman lega."
__ADS_1
Tidak terasa Danu mengelus pucuk kepala Afrinda dengan sayang.
👇👇👇