Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Kecemasan


__ADS_3

Jelita dan Allen sedari tadi memonopoli Afrinda lengket terus di sampingnya, mencari perhatian agar menyuapi makan kedua gadis kecil itu. Mau berkata apa lagi Gharda mendengus sebal mau juga berduaan dengan kekasihnya.


"Mengalah dengan anak kecil," ledek Egwin menertawakan temannya ini.


Ticha dan Astrid pun sebenarnya sudah sangat merindukan sahabatanya ini, bernasib sama mengalah pada Jelita dan Allen.


Lelah bermain akhrinya anak-anak tertidur juga, Afrinda merungis kecil badannya terasa ringan hampir jatuh saat menuruni tangga. Menyeimbangkan kaki perlahan tersenyum pada semua orang yang sudah menunggunya di ruang tamu.


Egwin yang melanjutkan perawatan akhir Afrinda di rumah ini sudah melengkapi barang dan alat yang dibutuhkan, Afrinda mengangguk lemah yang terpenting kesehatannya segera pulih.


Empat hari berlalu Gharda tidak menganggu Afrinda meskipun sudah satu rumah, hanya sebatas menyapa di depan kamar mengajak mengobrol di taman belakang itupun waktu yang sangat semput sekali sekaligus bermain bersama Jelita. Selebihnya Gharda fokus mengerjakan file dan pertemuan dengan rekan kerja.


Ingin sekali bertanya tentang kabar orang tua kandungnya melalui ponsel memanggil Ayah Danu, Afrinda ragu membuatnya resah sendiri. Belum lagi kabar tentang orang tua angkatnya, enggan kesibukan Gharda sangat padat takut mengganggu.


Keberadaan anak-anak mampu mengalihkan kesedihannya saat bermain bersama, hanya itu pelipur lara. Sumpah, kepalanya mau pecah memikirkan tentang kedua pihak orang tuanya.

__ADS_1


Setelah Jelita tidur malam Afrinda belum mengantuk, rumah sepi pemiliknya belum pulang entah pergi kemana. Tepat pukul 22:30 Afrinda masih setia menunggu siapa pun nanti yang pulang tidur-tiduran di atas sofa ruang ramu, kenop pintu bergerak siapa yang oulang?


"Sayang, kamu belum tidur?" Gharda bertanya cemas.


"Belum mengantuk, kamu dan mamah sibuk sekali akhir-akhir ini ya, sampai pulang larut begini."


Merasa bersalah benar memang ia terlalu sibuk dengan urusan kantor tidak menyempatkan banyak waktu untuk menemani Afrinda dan Jelita di rumah, "Masfkan aku."


Bukan karena waktu yang sedikit, tapi firasatnya mengatakan ada hal kain yang disembunyikan Gharda. Afrinda sangat peka membaca ekspresi wajah Gharda dan Mamah Syeni setiap kali ditanya tentang keberadaan Bram, menghindar dengan cara izin bekerja entah rapat kemana lagi.


"Ada apa, Frind?"


"Aaa-? Tidak," jawabnya salah tingkah.


"Mamahmu? Ibumu? Kamu memikirkan mereka?"

__ADS_1


"I-ya."


Kabar mengejutkan dua hari yang lalu datang dari anak buahnya, awalnya masih belum percaya tetapi setelah ditelusuri lagi kabar itu benar adanya. Laxsa koma di rumah sakit entah karena apa belum diketahui, dari informasi yang diterima tidak ada satu pun keluarga yang menjenguk pria malang itu.


Rivzal pernah mencoba penyamaran masuk ke rumah sakit, staf rumah sakit sangat menutup rapat tentang Laxsa.


Ditengah bercerita sempat cemburu karena Afrinda menangisi, "Dia adikku, Ghar. Jangan cemburu begitu, hanya karena Laxsa mengaku padamu kalau dia cinta padaku. Aku saja risih mendengarnya, siapa yang mau menjadikan adik sendiri suamiku, tidak akan!"


Mencari sampai ke bandara, hasilnya tidak sia-sia tapi justru semakin menambah kebingungan. Baik Bram maupun Dahlya terlihat berada di kerumunan penumpang pesawat, di tempat dan tujuan berbeda dan Bram dua hari lebih awal pergi entah kemana, disusul Dahlya yang ikut pergi tapi bandara yang berbeda dengan suaminya.


Lassio anak pertama Bram, masih bersembunyi. Swan putra bungsunya sudah dipindahkan asramanya ke kota lain alasannya dirahasiakan, semakin sulit ditemui.


"Aku takut keluarga itu akan merencanakan jahat pada kita, Ghar."


👇👇👇

__ADS_1


komentarnya pliss


__ADS_2