Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Masih Menghindar


__ADS_3

Hampir satu minggu kabar Afrinda belum juga ditemukan, gadis itu menghindar tidak mau mengatakan dimana tempatnya sekarang. Bolak-balik terus memburu Astrid, pernah menginap semalaman di dalam mobil memarkirkan di lokasi gang kost Afrinda, sudah sampai pagi yang ditunggu tidak muncul juga.


Belum terlalu mengetahui kehidupan Afrinda membuat langkahnya sulit mencari tahu.


Dan kali ini lagi Astrid masih merahasiakannya, pulang tanpa membawa perkembangan dan memikirkan alasan apa lagi yang harus disampaikan untuk pertanyaan Jelita terus-menerus.


Di ruang tamu Nyonya Syeni sedang bermain bersama Jelita sambil menunggu Gharda kembali, kedatangan Gharda dari pintu utama menghentikan aktifitas Jelita menghamburkan mainannya begitu saja berlari kecil menuju ayahnya.


Menarik napas sejenak berlutut menerjajarkan badan merangkul pundak putrinya, mata bulat Jelita menuntut jawabannya. "Miss Frind belum pulang, katanya masih banyak kerjaan di luar kota. Terangnya pelan-pelan, begitulah kebohongan.


Jelita murung berlari kecil meninggalkan ayahnya duduk kembali di antara mainannya yang berserakan, tidak mood untuk bermain lagi merusak susunan mainan menjadi hancur.


Gharda duduk di sofa ruang tamu membuka jasnya, wajahnya terlihat sangat kelelahan.


"Gharda. Siapkan pakaianmu beberapa pasang saja."

__ADS_1


"Untuk apa, Mah?"


"Kita liburan akhir pekan ke luar kota."


"Jelita mau?"


"Mau tidak mau, Jelly wajib ikut. Mamah, kamu, Jelly, Bibi Ema dan Mang Leo ikut. Bersiap sana, mamah sudah mengatur kemana kita nanti, kau hanya ikit saja."


"Baiklah."


Dunia sangat luas tetapi sesempit itu jika takdir yang mempertemukan.


Ibu Ira dan Ayah Daus mengajak Afrinda liburan besok pagi ke taman kota yang dekat sini saja, taman itu baru diresmikan satu minggu yang lalu antusias warga masih tinggi karena ini adalah desa dari luasnya kota.


Sudah dianggap seperti putrinya sendiri Afrinda sangat menyayangi orang tua Astrid, saling mengenal sering liburan menginap di keluwrga kecil ini. Tidak ada kata canggung jarak mereka sangat dekat, tidak segan-segan Afrinda dengan tilus mau mengirim sedikkt rezekinya untuk keluarga ini.

__ADS_1


Keesokan paginya sudah berdiri menunggu angkot yang melintas tujuan taman kota, tidak sabar melihat seperti apa indahnya yang seperti dikatan tetangga yang sudah terlebih dahulu berkunjung.


Parkiran masuk cukup ramai, Afrinda hati-hati membawa sepasang orang tua takut kesasar. Event pembukaan masih berlangsung, pedagang kecil-kecilan berejer tertib di lapak yang sudah disediakan, tidak lupa tempat duduk terbuat dari kayu yang dicat turut menghiasi ornamen taman kota.


Banyak pengunjung yang berfoto-foto tertawa bergembira, ada juga yang asyik menonton berjoget ria di stand karaoke gratis, tempat bermain anak-anak ada di sebelah timur, tempat bermain anjing dan kucing ternyata ramai juga menonton aksi hewan menggemaskan yang dibawa oleh ownernya, memberi makan ikan dan bebek hal yang juga menyenangkan, mau mengajak naik perahu di danau itu menolak karena takut jatuh. Kelelahan berkeliling Afrinda mengajak duduk di bawawah pohon rindang membuka snack yang dibawa dari rumah, pamit sebentar ke toilet duduk menunggu jangan kemana-mana.


Selesai dengan urusan pengeluaran di toilet, matanya tertarik berjalan ke arah badut-badut lucu yang sedang beraktraksi bersama anak-anak. Mengusap air matanya kembali teringat Jelita sangat menyukai badut, andai saja Jelita hadir di sini, pasti akan semakin seru. Ahk, dia sangat merindukan gadis kecil itu.


Balon lepas melayang dari gemgaman Jelita yang sedang asik bermain bersama badut, Gharda panik mengejar balon itu menitipkan sebentar pada mamahnya.


"Hiss, kemari kau bal-"


DEG. Siapa yang mengintipnya dari tiang itu? Mengucek matanya sekali lagi memastikan, sudah tidak ada orangnya lagi. Pengelihatannya masih sehat tidak mungkin ia salah lihat, Afrinda.


Mencari di sekitar tiang area badut, celingak-celinguk sampai salah orang warna pakaian hampir sama. Apa karna terlalu rindu jadi berhalusinasi begini? Kakinya terus berjalan pelan berharap masih kelihatan, ada sesuatu benda yang menarik tercecer begitu saja di atas jalanan taman yang terbuat dari semen. Sebelah anting milik Afrinda, semoga perkiraanya tidak salah.

__ADS_1


👇👇👇


__ADS_2