
Berita tentang kepergian Tiffany yang meninggalkan orang tuanya yang sedang sakit menjadi perbincangan hangat di media sosial, lagi mendapat komentar cercaan dan lontara makian terhadap manton model itu. Meskipun keberadaan Tiffany tidak diketshu terbang ke negara mana, tapi bukan itu yang menjadi poin utama, isi surat itu tersebar di laman sosial media entah dari mana awalnya.
Para warga di kota tempat Danu tinggal ikut heboh ketika wartawan datang ke rumah itu yang keberadaan kosong, kini hampir semua orang tahu tentang pemcurian berlian dan sertifikat rumah yang dilakukan wanita itu. Perbuatan itu sangat membuat agensi yang pernah menaungi eanita itu, menelusuri agendi yang membawa Tiffany ke luar negeri, tidak ada daftar nama itu tercantum di situs resmi mana pun.
Cctv komplek jalan menuju rumah Danu tersebar dimana terlihat jelas mobil itu membawa Tiffany keluar melewati gapura dan penampakan Tiffany menyeret koper masuk ke dalam mobil tengah malam.
Hal itu semakin memperkuat kebenaran berita itu terjadi adanya, spekulasi beragam menyerang bahkan menyeret keluarga Alfonso karena Afrinda anak kandung orang tua Tiffany.
"Harusnya Tiffany datang menemui kita minta izin dulu, Mas," sesal Nurma.
Keduanya sedang duduk menunggu Afrinda yang mengatur kepulangan mereka mengurus yang harus diselesaikan, Danu duduk di kursi roda untuk sementara waktu sementara Nurma tidak karena sudah pulih.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan, dia yang memilih jalan itu sendirian. Aku sudah lelah dengan keberadaannya yang terus menghasutmu agar menjauhi keluarga kita, sadarlah Nurma." Danu kesal terus pembahasan Tiffany membuatnya muak.
"Mas Danu, bagaimana keadaan dia disana? Kau tidak mencemaskannya? Bagaimana pun dia juga keponakanmu."
"Untuk apa memikirkan penghianat seperti dia, hampir membunuhku. Sayangnya kalau aku pun menceritakan padamu, kau tidak akan percaya juga. Cukup pembahasan itu!"
Nurma menunduk takut wajah marah suaminya, dari ekspresinya seperti meyakinkan apa yang diucapkan. "Baiklah, tolong ceritakan," iya juga penasaran. Apa salahnya dia coba mendengarkan, jujur saja ada rasa kecewa yang teramat dalam dengan ulah Tiffany, siap semakin kecewa jika saja apa yang diceritakan Danu mirip apa yang disarankan Gharda waktu itu mengatakan tunggulah keterangan dari suaminya sadar dulu.
__ADS_1
Menarik napas mulai bercerita dengan apa yang dia dengar sendiri.
Dia sadar sudah dibius obat menempel di sapu tangan yang menyekapnya, sekuat apa pun ia mencoba bertahan, tetap saja dia pingsan.
Terbangun dalam keadaan terikat mengintip dengan ekor matanya dan itu suara Bram yang tidak berubah sejak dulu semasa kuliah, hal semacam ini sudah pernah ia duga sebelumnya dan inilah saatnya ia harus mencari akal apa yang dimau Bram darinya, berpura-pura tetap pingsan siapa tahu Bram ada berbicara sesuatu informasi entah itu apa selagi ia masih pingsan.
"Boss, wanita itu ingin segera uangnya ditransfer 50juta sesuai perjanjian."
"Tidak sabaran sekali, dimana sekarang dia sembunyi?"
"Di apartement yang sudah ditentukan, Boss. Dia marah-marah karena uangnya belum diterima padahal Danu sudah ada disini."
Suara panggilan tidak diangkat, Bram murka dipermainkan.
"Siapa tadi nama wanita itu?"
"Dia putrinya Danu namanya Tiffany!"
"Awas saja jika wanita itu berani macam-macam!"
__ADS_1
Danu masih mengingat semuanya percakapan Bram dengan salah seorang anak buahnya, jiwanya sempat terguncang mendengar fakta Tiffanylah yang membantu Bram menangkapnya.
"Ayah, ibu, maaf aku lama.!" Afrinda tergesa menghampiri kedua orang tuanya.
"Kakekk!"
Kedatangan Jelita mencairkan suasana, gadis kecil yang masih berpakaian seragam sekolah itu keingintahuannya mendorong kursi roda milik kakeknya, tentu hal itu membuatnya semakin ditertawai gemas.
"Sayang, kita gandeng nenek saya yuk!" ajak Afrinda pada putrinya itu.
"Iya, deh." Ragu-ragu tangan mungilnya menelusup pada tangan Nurma.
Kebetulan Jelita besok libur, malam ini keluarga kecil beserta Ny.Syeni menginap di rumah Danu sebelum pindah dari sini lagi pula sipembeli rumah belum ada tanda datang.
"Astaga, kalian sudah disini ikut menginap juga!" Afrinda sangat bersyukur banyak yang peduli pada keluarganya, Astrid, Ticha, Rivzal, Egwin, Allen ikut serta.
Disaat yang lain berbahagia di luar rumah, Nurma ke dalam kamar Tiffany duduk merenung. "Kau mengecewakanku dan ayahmu, anakmu Allen kau tidak kasihan. Ibu sangat kecewa. Semoga kau hidup bahagia di luar sana, Tiffany."
Tangan bergetar ia memasukkan foto Tiffany yang dipegangnya dari atas nakas ke dalam karduas yang akan dibakar nanti bersama pakaian barang Tiffany, "Selamat tinggal, Nak."
__ADS_1
👇👇👇