
Setelah mematikan ponselnya baru saja melakukan sambungan vidio call Jelita melalui ponsel milik Egwin agar bersiap berangkat sekolah dari sama, menguap beberapa kali masih mengantuk sampai pagi buta barulah matanya tertidur karena menjalankan kesibukannya.
Menghubungi salah satu staf sketaris untuk menghandel perusahaan, semenjak ia melihat cctv penyamaran Tiffany, sudah tidak mempekerjakan Wanda dipecat tidak hormat.
Rivzal datang tepat waktu ikut sarapan bersama sebelum pamit pergi menyetir mengendarai ke alamat yang dituju, usaha pencarian dilakukan langsung pagi ini. Mati-matian Gharda mengotak-atik komputernya dan memakai ahli IT perusahaan mencari detai sumber informasi yang aksesnya ditutup Tiffany dan meretas data negara akun milik Robby.
"Dialah orang yang tahu persis kejadian sebenarnya, Gharda. Turunlah, bicara baik-baik dengan Beliau ayah Robby."
"Tapi kenapa tinggal di tempat yang jauh dari warga?" Heran Gharda, saat sampai hanya melihat lahan kosong di perjalanan rumah ada pun jaraknya satu satu. Ragu, sekali lagi Rivzal meyakinkannya.
"Bertanya langsung pada Beliau."
Rivzal tidak ikut masuk ke dalam rumah yang seluruhnya terbuat dari kayu, bambu dan papan itu, menunggu di dalam mobil sambil menikmati udara sejuk. Gharda melangkah takut menaiki tangga rumah panggung, di kaki lima terdapat beberapa kursi dan meja bukan sembarang kayu biasa. Mengetuk pintu suara dari dalam menyahut membuka pintu, seorang pria renta muncul dari dalam dengan badan yang membungkuk serta tongkat yang mengganjal keseimbangannya berdiri.
Gharda tertegun memperhatikan penampilan pria yang sudah beruban dan tampak tua, meneliti lingkungan sekitar apakah memang seorang diri tinggal di rumah ini?
Panggil dia Pak Lam, tamgan rentanya menyentuh engsel pintu hendak menutupny, tenaga Gharda jelas lebih kuat menahan membujuk bicara baik-baik bahwa bukan orang jahat hanya berniat bertamu untuk mencari sesuatu.
__ADS_1
Pak Lam akhirnya percaya dan mempersilahkan masuk duduk berdua di kursi teras rumah.
Mendengar pertanyaan dari Gharda membuatnya teringat akan rasa penyesalannya pada sang putra, perlahan menceritakan dengan perasaan luka lama itu kembali lagi, tapi kali ini ia sudah berhadapan dengan orang yang tepat.
Robby Sius Darmawan adalah putra semata wayangnya yang sangat dia cintai sampai tidak sadar bahwa telah mendidik Robby arah yang salah karena terus dimanjakannya.
Pak Lam bukan orang berada, hanya seorang duda ditinggal mati oleh sang istri sewaktu melahirkan Robby. Mampu membesarkan putranya dengan hasil upaya kerja keras sehingga menyanggupi memberikan apa pun permintaan putranya.
Robby bertemu dengan Araz dan berani menjalin hubungan, Pak Lam sempat melarang putranya karena telah berbohong pada Araz. Robby mengaku bahwa dia adalah anak orang kaya sama seperti Araz, lebih dua tahun Robby menyimpan rapat tentang jati diri yang sebenarnya.
Araz terpikat dengan Robby sangat mencintai sosok Robby yang dia pikir adalah lelaki baik, wanita itu mudah dibohongi termakan rayuan gombal Robby.
Robby sangat menyimpan dendam pada Araz mencari cara untuk membalaskan, apa lagi berita pernikahan Araz terkabar ke telinganya. Tidak sengaja Pak Lim mencuri dengar sudah beberapa kali saat Robby melakukan panggilan pada seseorang yang bernama Tiffany, perempuan itu bahkan datang ke rumah tidak segan meyodorkan uang menghasut melancarkan niat balas dendam menjebak Araz, bukan untuk membunuh karena kalimat pembunuhan tidak ada terucap dari mulut siapapun saat itu, Pak Lim jelas mengingatnya karena dia memang berada di situ.
Pak Lim sudah memperingati putranya agar menolak perktaan perempuan itu, namun uang yang banyak menutup mata hati Robby dan terjadilah seperti yang sudah direncakan sayangnya berimbas sampai meregang dua orang nyawa di luar dugaan.
Gharda membuka galeri ponselnya memberikan pada Pak Lim, Pak Lim mengangguk membenarkan inilah dia orangnya.
__ADS_1
"Kalau boleh tahu, kenapa bapak tinggal di sini?"
"Saya tidak tahu. Waktu itu saya hanya tertidur setelah meminum pemberian dari seseorang saat bekerja tiba-tiba saya sudah berada di sini. Saya makan apa yang bisa saya makan, tidak tahu jalan pulang."
Gharda terdiam, sudah bisa menebak siapa pelakunya.
"Andai putraku tidak menuruti perempuan itu, pasti dia masih hidup, pasti kecelakasn itu tidak pernah terjadi," ucapnya menyesal.
"Tinggakan tempat ini, Pak. Nanti ada orang suruhan saya yang akan membawa bapak tinggal di vila milik saya, ada Pak Ube yang seusia bapak tinggal menjaga vila. Mohon jangan menolak, Pak." Putus Gharda merasa iba pada lelaki setua ini tinggal seorang diri, Pak Lam tersenyum bahagia bisa keluar dari tempat ini.
Gharda cukup puas dengan cerita Pak Lim, Tiffany, kebohongan apa lagi ini.
Saat dalam perjalan ponselnya berdering, tersenyum cerah nama Afrinda memanggilnya, segera menyentuh tombol hijau.
"Tu-tuan Gharda!! Afrinda dibawa pulang oleh keluarganya, dia tidak tinggal di sini lagi!"
Astrid menangis dari seberang sana.
__ADS_1
Gharda masih bwlum percaya, membuka grup kelas Jelita membaca isi chettingan para orang tua, "Afrinda."
👇👇👇