
Apakah kesehatan Nurma menurun setelah mengetahui putri yang dibanggakannya pergi?
Afrinda tetap setia mendampingi ibunya selama di rumah sakit, tidak ada yang perlu dicemaskan mengenai kondisi ibunya. Nurma memang sedih kurang berselera makan kalau tidak ditatap tajam suaminya, masih mendiami Afrinda namun tidak lagi menolak setiap Afrinda datang padanya, mungkin saja masih syok itu pikir Afrinda.
Bisa dibilang ajaib, rencana awal Gharda sudah mempersiapkan matang antisipasi kalau ibu martuanya akan mengalami serangan jantung lagi atau bisa saja penyakit lama itu kambuh lagi, segala obat petugas medis dikerahkan untuk berjaga. Semua diluar dugaan bisa bernapas lega, Nurma terlihat baik-baik saja tidak ada indikasi penyakit yang kambuh, hanya tinggal mengatasi jangan sampai stres.
Istrinya tidak mengetahui rencana yang mereka buat, biarlah hubungan ibu dan ini terjalin lebih natural.
Luka tembak Danu semakin menunjukkan kemajuan pesat, perban besar sudah diganti menjadi perban kecil, tenggorokannya sudah pulih dan ia bisa bicara sekarang. Agak payah berjalan kakinya hampir kaku saat koma, Afrinda sabar membantu memapah tubuh ayahnya belajar berjalan mendekati ranjang ibunya lalu memaksa untuk makan.
Sedikit pertengkaran kecil, ia senang bisa melihat orang tuanya mulai akur lagi.
"Sayang!" seru Gharda memanggil istrinya yang sedang membantu makan siang untuk ibunya.
"Pelankan suaranu," peringat Afrinda menggeleng suaminya ini benar-benar.
"Selamat siang, Ibu Martua."
Nurma hanya menoleh sekilas kembali fokus menyantap makanan yang disuap Afrinda.
"Kasihannya dicueki," ledeknya pada suami.
__ADS_1
"Kapan ya aku juga disuapi makan sama istri sendiri. Jadi Iri," ucap Gharda lebay.
"Beri makan suamimu itu."
"Ib-loh-" Mencubit gemas lengan suaminya, lihat'kan ibunya jadi berhenti makan berbaring membelakanginya. "Ibu minum dulu kalau sudah selesai makannya."
Secepat kilat Nurma berbalik menerima meneguk air minum dari tangan putrinya.
"Sisa ibu, kamu mau?" tawar Afrinda pada suaminya.
"Noo!"
Saatnya Afrinda menerima ajakan dari Gharda makan siang berduaan sebagai rasa pembalasan sudah berapa malam dia tidak tidur di rumah, pulang pun hanya sebentar istirahat siang di kamar Jelita.
"Sayang, ini indah sekali." Berucap kagum dekorasi makan siang yang sudah dipersiapkan Gharda, berbagai macam menu makan untuk dipilih, ada sebukat mawar putih bunganya yang wangi terletak di atas meja, menghirupnya dalam senyum merona, ada lagi kartu ucapan Afrinda membukanya, "Happy 2 month anniversary, and Let's enjoy our lunch."
"Kau suka?"
"Sangat." Matanya berkaca-kaca perlakuan romantis suaminya.
Semilir angin memilih tempat makan siang di balkon kafe, suasana yang sepi agar tidak ada yang menganggu kegiatan pasangan muda ini.
__ADS_1
Insiatif sendiri Afrinda menyuapi makan untuk Gharda, menikmati hal romantis ditengah-tengah kegiatan yang padat ini adalah cara mereka berdua untuk memuasakan rindu masing-masing.
"Sayang, aku mau bicara sesuatu boleh?" tanya Afrinda hati-hati.
Mereka sudah menyelesaikan makan siangnya.
"Apa itu?"
"Um-ibu dan ayahku, mereka akan tinggal dimana setelah pulang dari rumah sakit ini? Rumah itu sudah dijual Tiffany, lalu, tidak mungkin mereka tinggal berdua saja dalam keadaan kurang sehat."
Gharda paham keresahan istrinya ini, menggemgam tangan istrinya lalu menciumnya. "Ibu dan ayah bisa tinggal di rumah belakang, kita bisa menyewa seseorang untuk membantu mereka. Kapan kamu mau bisa bertemu ibu dan ayah, hanya itu solusi yang aku buat."
"Tapi aku sudah terlalu merepotkanmu."
Sudah diduga istrinya pasti berkata seperti itu. "Sayang, aku menikahimu itu artinya aku juga menganggap orang tuamu adalah orang tuaku juga. Jangan merasa tidak enakan seperti itu, fokuslah mengurus ayah dan ibu, tapi jangan tolak permintasnku juga, aku sudah memikirkan jalan tengah untuk masalah ini."
Itulah yang menjadi beban pikiran Afrinda untuk kedepannya, Gharda sudah berkorban banyak untuk dirinya. Biaya rumah sakit tidaklah murah, pastilah Gharda menginginkan waktu berduaan dengannya akan tetapi harus disita dengan waktu mengurus kedua orang tuanya, pasti suaminya juga lelah kerja dan memgurus Jelita di rumah.
Dia sangat beruntung memiliki suami yang pengertian seperti Gharda.
👇👇👇
__ADS_1