
Afrinda girang bukan main ketika menerima panggilan dari nomor tidak dikenal ternyata ayahnya meminjam ponsel tetangga mengatakan akan datang di hari h pernikahannya untuk mendampinginya, meskipun ibunya belum menjelaskan ikut atau tidak, yang terpenting dulu ayahnya, ya memang tidak akan lengkap rasanya.
Pertanda dari Bram memang belum jelas, tetapi salah seorang anak buah Gharda melapor bahwa ada sosok yang menyerupai tubuh Bram sedang berada di bandara saat pagi buta. Tapi itu masih perkiraan saja.
Afrinda bangkit dari tempat tidurnya membetulkan posisi tidur Jelita yang sudah tidak beraturan, kantuknya menguap dengan pikirannya kacau. Masih jam 15:30 WIB belum ada yang pulang kerja, niat hanya ingin menidurkan Jelita saja dirinya ikut tertidur juga walau tidak berlangsung lama.
Lusa adalah hari pernikahannya diadakan di salah satu gedung yang sudah disewa sebelumnya undangan belum semuanya tersebar, Afrinda merapikan beberapa lembar undangan ke dalam tempatnya.
Ada kerabat'kah? Afrinda tidak mengenalinya, satpam mengizin masuk berarti wanita paru baya ini adalah kerabat keluarga ini. Dengan hangat Afrinda mengulurkan tangan memperkenalkan diri, senyumnya luntur seketika reaksi wanita ini tidak menyukainya.
"Mana cucuku?" tanya wanita berambut pirang wajah garang tatapan menusuk berprnampilan bak gaya anak muda padahal sudah tua. Afrinda hampir kelepasan menilai orang ini.
"Cucu?"
"Jelita dimana?"
"Sedang tidur siang, Nyonya," jawab Afrinda masih menghormati.
"Bangunkan."
Ha? Afrinda terbengong. "Maaf Nyonya, tapi-"
Suara tangisan Jelita memotong ucapan Afrinda, segera berlari menemukan Jelita menangis di kamar mencarinya terisak-isak sesenggukan. "Sayang, ada apa ini?" Sampai keringatan begini padahal ada AC menyala.
Jelita merengek dipekukan Afrinda bergetar ketakutan, "Mimpi buruk," racaunya disela isakannya.
Tidak biasanya Jelita mimpi buruk siang begini, mengusap punggung gadis kecil itu menenangkan. Memberikan air minum memgajaknya keluar kamar.
__ADS_1
"Lama sekali."
"Maaf, Nyonya. Jelita baru saja terbangun dari mimpi buruknya."
"Astaga!" Wanita itu melangkah dari tempat duduknya meraih Jelita dari pelukan Afrinda, Jelita beringsut menepis tangan itu halus menangis lagi isakan kecil.
"Hai, aku omamu."
Jelita menggeleng keras.
"Mamah dari Bunda Arazmu."
"Ti-tidak kenal," cicit Jelita meremas ujung kemeja Afrinda meminta digendong. Afrinda sigap menggendong tubuh mungil Jelita menenggelamkan wajah dalam ceruk lehernya.
"Hai, ini omahmu juga loh!" Tekanan suara wanita ini meninggi ringan menarik tangan Jelita dari gemgaman kemeja Afrinda, Jelita semakin memeluk erat.
"Dia cucuku, kau jangan berani menghalangiku."
Sekuat tenaga wanita ini merebut paksa Jelita yang sudah menangis kencang.
Afrinda mempertahankan badan Jelita, terjadilah rebut-merebut Jelita sampai suara dari arah pintu menghentikan pertikaian ini.
"Susan!" Ny.Dahlya datang melerai, disusul Gharda panik melihat Afrinda berantakan dan Jelita menangis langsung mengambil alih putrinya ke pundaknya.
"Susan, kau datang?" Ny.Syeni gelagapan.
Wanita yang bernama Susan itu berdecih, "Dia calon menantumu?". tanyanya sinis pada Ny.Syeni.
__ADS_1
"Iya. Dari mana kau tahu?"
"Kalian benar-benar ingin menjauhkan Jelita cucuku? Bagaimanapun darah Araz mengalir dan ibu kandung Jelita, mendiang istrimu Gharda. Tapi kalian tidak memberitahukan pernikahan ini dan harusnya kau Gharda bertanya persetujuan dari kami selaku pihak dari Araz ibu kandung Jelita, saya membaca berita yang beredar sangat merasa tidak dihargai oleh kalian."
Afrinda tertunduk, sejujurnya dirinya pun belum pernah mempertanyakan secara gamblang tentang ibu kandung atau istri pertama Gharda.
Gharda membawa Afrinda duduk masih menggendong Jelita yang sudah menghentikan tangisannya tidak berani menatap ke belakang suara wanita itu membuatnya takut.
"Nyonya Susan yang terhormat, anda tidak berhak berteriak di rumah ini. Anda tidak tahu malu sekali ya, datang tiba-tiba sok mengingat Jelita. Saya rasa anda bahkan tidak mengetahui dimana makam Araz, iya kan?"
Susan terdiam semua yang dikatakan Gharda menang fakta.
"Araz sudah menyerahkan warisannya padamu sebelum kami menikah waktu itu, kau dan suamimu meninggalkan putri tirimu begitu saja. Araz mempunyai papah yang tamak ditambah kau yang sama tamaknya, mengerikan."
Gharda menarih benci pada wanita yang dihadapannya ini, itulah sebabnya dia tidak menceritakan orang tua Araz dan hak asuh Jelita jatuh padanya.
Susan tidak tahu malu keukeh memginap di rumah ini, Gharda terpaksa mengizinkannya tidur di rumah belakang mengancam.
"Mah, siapa yang membawa Susan ke kota ini? Warisan Araz habis karena pengobatan suaminya yang sudah meninggal. Jarak dari kota dia sampai ke sini ongkosnya mahal, dari mana dia mendapatkan uang?" Gharda mengesah panjang.
Susan memang sudah jatuh miskin dan tinggal di sebuah kota yang jauh, pekerjaan sebagai pegawai kelurahan dan gaya hidup mewah diperkirakan tidak mungkin bisa memenuhi ongkos. Gharda sangat tahu keadaan Susan sekarang, heran saja tiba-tiba muncul dengan sikap yang sama arogan seperti dulu.
"Awasi terus dia, perasaan saya tidak enak," perintah Gharda pada dua pengawalnya.
👇👇👇
Tetap like vote dan komen ya gaes,,tapi komennya jangan "lanjut",,aku bingung mau nanggapin gimana..Coba komen paet ceritanya "Susan kira2 kenapa ya?",,,gitu
__ADS_1