
Penantian dan harapan panjang membawa kabar bahagia di tengah-tengah keluarga Alfonso, peri kecil yang kemarin tertidur dengan selang penyambung oksigen kini sudah membuka matanya kembali. Setidaknya itulah langkah untuk proses pemulihan Jelita.
Dalam masa observasi Jelita harus ditindak penangan selanjutnya, mengajaknya menggerakkan badannya. Nyatanya trauma itu efeknya tidak bisa main-main, masih syok dalam batinnya Jelita belum mau membuka interaksi pada hal-hal tertentu.
Alat medis yang dipasang untuk penopang hidupnya juga membekas saraf Jelita sulit bergerak, ini tergantung kondisi psiklogis Jelita sebelum kecelakaan mengalami gangguan.
"Siapa orang yang bisa membuat Jelita merasa nyaman, saya harap bisa tetus mendampinginya untuk terapi medis dan pemulihan kejiwaanya."
"Kondisi ini tidak akan berlangsung lama jika Jelita mampu melawan ketakutannya, dan tubuhnya yang kaku akan pulih normal jika kita rutin mengajaknya terapi. Jadi, mari kita bekerjasama untuk menbantu Jelita dari rasa ketakutannya."
Terang Dokter yang membuat Gharda kembali kalah. Setiap kali ia berinteraksi dengan putrinya, Jelita merespon seolah menunjukkan ketakutan dan cemas berlebihan yang menyebabkan tangis dari keduanya berderai tetapi berbeda maksud. Gharda menangisi kesedihannya harus jauh dan Jelita menangis ketakutan.
Afrinda tidak bisa selalu berada di rumah sakit, bagaimana pun ia juga mempunyai tanggungjawab tersendiri.
Di sekolah pekerjaan sudah menumpuk, tingkah teman pengajar yang lain sudah terang-terangan menggosipinya, ruang kelasnya, bolak-balik untuk membantu Jelita karena dirinya salah satu yang bisa membujuk anak itu. Semua itu bersarang memenuhi isi pikirannya.
__ADS_1
Mengejar waktu yang terus berputar Afrinda hari ini akan mendampingi Jelita terapi jalan untuk meringankan otot kaki mungilnya, Dokter Egwin dan Allen ikut menyusul menjenguk.
Mendorong kursi roda menuju taman rumah sakit, Egwin, Allen dan perawat yang biasa mengikuti dari belakang Afrinda. Sedangkan Gharda harus terpaksa bersembunyi mengawasai dari jauh bahkan tidak mempedulikan keberadaan Tiffany yang menempel di sampingnya.
Kebetulan ada Allen, ia disengaja berperan untuk memancing adrenalin agar Jelita mau melangkahkan kakinya. "Jelly kenapa diam terus, Pah?" Sudut mata gadis kecil ini mulai berair tidak mengerti apa yang dialami sahabatnya.
"Jelly masih belum mau bicara karena mulutnya masih berat," jawab Egwin sedapat apa yang terlintas dipikirannya.
Allen tidak mau menyerah. "Minggu depan Jheve ulang tahun, kau tidak mau ikut? Ada oom badut loh, kan'Jelly suka oom badut. Makanya kau harus cepat sembuh ya."
"Hhoree!! Jelly mendapat bintang satu, hadiah untuk pergerakan yang pertama untyk hari ini!" Afrinda berseru kegirangan seraya memberikan kertas berbentuk bintang yang disiapkan meletakkan di atas pangkuan Jelita.
Egwin merangkul tangan Jelita sebelah kiri dan Afrinda merangkul tangan sebelah kanan, menuntun Jelita berjalan sangkah dua langkah menginjak rumput taman tanpa memakai alas kaki dulu.
"Jangan kencang larinya, Allen!" seru Egwin memperingati anaknya agar tidak sampai kelelahan.
__ADS_1
"Jalan tetus Jelly, nanti kita main kejar-kejaran. Ayo Jelly!" Allen tersemyum bergoyang-goyang seolah menari agar Jelita terus mau berjalan.
"Kita minum dulu yuk." Afrinda menungkan tiga gelas air mineral yang sudah disediakan suster perawat Jelita, lalu memberikan kepada Allen dan Egwin.
Membantu Jelita minum, mungkin sudah sangat kehausan sudah habis. Ketiganya bertepuk tangan memberi bintang selanjutnya, perlahan wajah itu mulai bersinar ada rasa ketenangan di sudut hatinya perlakuan hangat Allen dan Dokter Egwin.
Afrinda dengan caranya sendiri membuat proses setiap terapi mendapatkan satu bintang seperti sedang belajar di sekolah jika berhasil, bintang yang terkumpul adalah penghargaan atas keberhasilan dan akan di bingkai untuk dipajang menjadi hadiah perayasn ulang tshun yang tertunda nanti setelah benar-benar pulih. Ini dipikirkan matang agar memoles tragedi tragis ini.
Sebelumnya juga ia sudah memanipulasi rambut palsu yang terbaik menempel untuk menutupi bekas operasi kepala, itu dilakukan saat Jelita masih tidur. Semua dirancang dengan bantuan team dokter tentunya.
Di balik dinding Gharda bersandar mentap iri pada pemandangan yang disaksilannya seperti keluarga kecil saja membuat hatinya berdenyut, tapi ada yang aneh. Tangannya mengepal tidak suka melihat Egwin berdekatan dengan Afrinda. Ahk! Mengacak rambutnya kasar, ia sudah dewasa sudah pasti bisa mengenali apa yang dialaminya. Jangan sampai ia cemburu.
Menoleh ke samping, Tiffany belum kembali dari kamar mandi. Membuka ponselnya membaca pesan singkat dari kekasihnya. Gharda malas membalas, pergi begitu saja tanpa permisi alasan kerja kerja dan kerja.
Tiffany menggeram, ancaman keberadaan Egwin padanya membuat ia harus pulang.
__ADS_1
👇👇👇