
"Bu, kita berdoa semoga Jelita tidak terjadi sesuatu yang buruk," bujuk Afrinda memeluk tubuh Nyonya Syeni yang merosot ke lanrai seraya menagis tersedu. Mereka berdua tergesa ke rumah sakit setelah Gharda menghubungi memberitahukan kabar buruk ini.
"Cu-cuku, apa yang sebenarnya terjadi!" Bahkan suara beliau sudah mulai serak, wajahnya memucat.
Afrinda semakin cemas tanda-tanda Nyonya Syeni sudah tidak stabil lagi, menegadah menatap Gharda intens yang masih berdiri mematung di dekat daun pintu ruang operasi Jelita.
"Maafkan Gharda, Mah." Sesak Gharda ikut berlutut di hadapan mamahnya. "Ini semua salahku tidak becus menjaga Jelita," ungkap Gharda terisak merasa bersalah.
Sayangnya telinga itu tidak memahami permintaan maaf putranya, terbayang kembali bagaimana perlakuan Gharda pada cucunya membuat emosinya meluap dan dengan tenaga tersisa tangannya terangkat melayangkan tamparan pertama kali dilakukanya dalam hidupnya kepada putranya.
"Kau adalah seorang ayah terburuk di dunia, Gharda! Jika kau memang tidak bisa mengurus Jelita, kenapa kau melarang mamah untuk membawanya? Sekarang anakmu hampir kehilangan nyawa akibat keburukanmu, Gharda. Jawab pertanyaan mamah, kenapa Jelita bisa ditabrak?" Nyonya Syeni mendorong Gharda agar menjauh.
Bibirnya kelu untuk menceritakan kejadian sebenarnya, berdiri lunglai terisak menghadap pintu membelakangi mamahnya. Tangannya mengepal merenungi kebodohonnya.
Nyonya Syeni masih menangis dipelukan Afrinda, memandang kecewa pada Gharda merasa bersalah kepada Araz gagal merawat menitip Jelita.
Hampir dua jam semuanya masih bergeming operasi belum selesai, Gharda duduk sembarang penampilan berantakan.
__ADS_1
Afrinda ke kamar mandi membasuh air matanya, membuka ponselnya membalas pesan singkat Allen yang menggunakan nomor Egwin. Setelah dirasa cukup, mampur sebentar membeli tiga minuman. Membantu Nyonya Syeni meneguk, sedangkan Gharda masih berdiam.
Tidak berapa lama lampu operasi padam pertanda operasi sudah selesai, semua berdiri menunggu kedatangan dokter dari dalam.
"Jelita mengalami geger otak ringan dan kehilangan banyak darah."
Nyonya Syeni tidak bisa mendonorkan darahnya usia sudah tidak memnungkinkan lagi, menatap bergantian Gharda dan Afrinda. Mereka berdua mengikuti salah seorang petugas menuju ruang pemeriksaan darah.
"Dok, ambil darah saya sebanyak mungkin. Saya ayah kandungnya!" seru Gharda memohon.
Pada akhirnya mulutnya mengucapkan pengakuan tapi di saat yang tidak tepat.
Namun sayang Gharda tidak bisa mendonorkan darahnya walaupun kecocokannya akurat, tensi tinggi akibat kecemasan yang membuatnya terganggu. Gharda membentak petugas merasa ini salah. Seharusnya sekecil Jelita masih membutuhkan donor darah dari genetiknya langsung, tapi lagi-lagi ia gagal.
"Pak Gharda tenang dulu, masih ada saya yang belum diperiksa!" Afrinda ikut emosi menghadapi tingkah pria ini.
"Ka-kau?" Gharda tertegun melihat betapa Afrinda sangat mempedulikan Jelita.
__ADS_1
"Coba bapak menghubungi teman yang lain untuk membantu, siapa tahu darah saya juga tidak cocok," saran Afrinda pelan-pelan refleks mengusap punggung Gharda.
"Ma-maaf, saya ta-tadi hanya refleks saja," Afrinda gelagapan dengan perbuatannya sendiri.
"Tidak apa. Periksalah darahmu, semoga kamu cocok," jawabnya tersenyum tipis. Ada yang mebghangat dengan sentuhan gadis itu yang seketika meredam gejolak emosinya.
Menghubungi Tiffany, katanya ia akan datang.
Di sinilah Afrinda sekarang, berdampingan dengan brankar Jelita. Air matanya luruh gadis kecil itu dililit perban dan selang berbagai macam menusuk permukaan kulitnya. Mendekati Jelita mengecup wajah pucat itu berkali-kali dengan hati-hati, dentingan alat detak jantung membuat hatinya bagai ditusuk seribu pisau.
"Selamat ulang tahun, Jelly manisnya Miss Frind. Ambil darah Miss, tapi Jelly harus berjanji cepat bangun dan sembuh. Apa pun yang Jelly minta dari Miss, Miss akan berusaha mengabulkannya, asal Jely cepat sembuh," bisiknya tertahan di telinga Jelita.
Setelah itu berbaring membiarkan jarum suntik menarik darahnya mengalir melalui selang dan berjung di pergelangan tangan Jelita, tidak peduli tubuhnya semakin lama semakin tidak bertenaga apa lagi rasanya keram sekali.
Sebelum badanya di dorong ke luar, memiringkan wajahnya menatap dalam-dalam tubuh Jelita yang masih tidur.
Di luar ruangan operasi, Tiffany tidak melanjutkan langkahnya. Matanya membulat melihat seorang pria yang sangat di kenalinya sedang berbincang dengan Gharda.
__ADS_1
Tidak mungkin dia muncul di sana, bisa-bisanya semuanya terbongkar. Merogoh ponsel mengabarkan bahwa ia tidak jadi datang karena ada urusan yang lebih mendesak, tidak menggu balasan ia tergesa pergi.
👇👇👇