Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Dahlya


__ADS_3

"Mau sampai kapan aku di sini, ahkkk!" Afrinda merengek seorang diri di dalam kamarnya, ia ingin keluar dari rumah ini. Kembali mengingat pembicaraan dengan Gharda waktu itu terus berharap semoga janji itu bisa ditepati, tetapi tidak munafik ia pernah meragu dengan hubungannya. Apakah cincin yang ditunjukkannya kemarin bisa melingkar dijarinya? Dia sangt merindukan Gharda dan teman-temannya, dunia luar dan ingin bersantai mendengar berita apa saja, dia ingin bekerja mencari uang. Kurang lebih satu bulan lagi pernikahannya dengan Egwin akan dilaksanakan, menunggu hari itu tiba terasa lama bila ia terus terkurung seperti ini.


Melampaiaskan kerinduannya tidak tahu melalui apa, foto saja tidak punya, matanya memerah sulit terpejam menunggu fajar sambil berkhayal tentang kehidupannya.


Dahlya membuka pintu kamar Afrinda perlahan, tubuh Afrinda tidur menyamping sepertinya kelelahan habis menangis jejak air mata mengerung di pipi Afrinda.


"Afrinda."


"Hey."


"Afrinda."


Menarik napas panjang membangunkan tertanya sangat lelap sekali tidurnya tersenyum kecut memperhatikan detail wajah itu dalam-dalam seraya punggung tangannya mengusap lembut agar tidak menganggu tidur nyenyaknya.


"Mbak Nurma, Mas Danu, maafkan aku," ucapan itu lolos dari bibirnya mengganti posisi duduk setengah beraring air matanya mulai basah.


Bolehkah ia menyesal telah menikah dengan pria seegois Abraham suaminya? Bolehkah ia diberi kesempatan untuk berbicara dari hati ke hati pada ketiga putra kandungnya?

__ADS_1


Awalnya ia berpikir bahwa menjadi istri seorang pejabat berbakat seperti Bram adalah kebahagiaan dan mampu mengangkat derajatnya, ternyata semakin ia bertahan rasanya semakin menekan mentalnya.


Tiga tahun tidak kunjung dikarunia keturunan membuatnya semakin tersiksa, setiap uang yang diberikan suaminya padanya selalu diawali dengan perkataan yang menyinggung hatinya "Kau nikmati uang ini sesukamu, jangan banyak bertanya. Kau adalah istri yang sengaja kubayar dan kau harus mau mengikuti gaya hidup istri pejabat lainnya dan jangan mempermalukanmu." Suaminya hanya menganggap dirinya sebagai istri yang digaji, bermimpilah ia menjalani kehidupan rumah tangga yang normal.


Jujur saja ia sangat menikmati hasil dari suaminya berfoya-foya, tetapi semakin lama ia mulai menyadari bahwa sebenarnya Bram merendahkan 'perannya' dengan kemewahan yang diberikannya. Tidak pernah diajak bertukar pikiran, wajib tunduk dibawah perintah suami.


Mungkin dengan mempunyai anak hubungan mereka jadi lebih harmonis, ternyata sama saja.


Ia mengetahui Bram menculik bayi salah satu musuhnya dan kebetulan bagi itu dibawa ke rumahnya, sedihnya ia sangat mengenali orang tua si bayi. Dahlya masih takut-takut pada bayi hasil curian itu, bagaimana pun ini adalah manusia yang keluarganya pasti sudah mencari bayi ini.


Para penjaga tidak menjaga bayi itu dengan baik, nekat datang mengambil menggendomg bayi perempuan sangat cantik ini dan hatinya menghangat.


Berlutut memohon pada suaminya agar bayi itu tidak dikirim ke panti asuhan, pandangannya terkunci pada sosok mata indah bayi itu tidak pernah menyangka ia seberani itu meminta bwyi itu agar diadopsi olehnya.


Bram menolak permintaan konyol itu, tapi dari pada ia bercerai membuat namanya jadi buruk, lebih baik ia menyetujui menandatangani surat identitas Afrinda nama bayi itu.


Mengganti skenario memasukkan kematian agar hak Afrinda sah tidak ada yang mencurigai, berbohong pada media mengatakan Dahlya sudah hamil dan tinggal di luar negeri selama hamil.

__ADS_1


Semua berjalan dengan lancar sampai detik ini sebentarlagi usia Afrinda sudah dua puluh tujuh tahun, di usia Afrinda yang ke satu tahun Dahlya akhirnya hamil dan melahirkan tiga keturunan laki-laki, membuat posisi Afrinda tetap dipertahankan Bram.


Sayang seribu sayang Dahlya harus menelan pil kekecewaan harga dirinya sebagai ibu terunjak, semua anaknya harus dididik atas dasar ketentuan suaminya tidak boleh dibantah. Dahlya ingin merawat anaknya sebaik mungkin, tetapi suaminya menjadikan anak mereka 'alat' bergabung pada kejahatannya mengancam keselatan masa depan.


Pada dasarnya Afribda bukan darah daging Bram, anak perempuan itu tetap tumbuh menjadi 'kebenaran' dalam keluarga ini, berani mengambil jalan lain menyimpang dari arah jalan yang diajarkan sang papah.


Dicap sebagai anak tidak tahu diri atau semacam kalimat yang menoreh luka, Afrinda memilih dihukum dari pada mengikuti papahnya.


Hal tersebut menggugah hati Dahlya diam-diam menyayangi putri angkatnya, berbeda dari ketiga putra kandungnya tidak mau mendengar nasehat justru menganggapnya ibu yang kolot.


"Kau harus keluar dari keluarga ini," ucap Dahlya masih mengusap rambut Afrinda.


Keputusannya sudah bulat sekali pun mengorbankan keluarganya, dibelakang suaminya, Dahlya sudah mempersiapkan tabungan atas nama Afrinda. Jika rencananya berhasil, biarlah anak kandungnya ikut hancur bersama dirinya dan suami, dari awal memang Afrindalah pemenangnya di dalam keluarga ini.


Mengusap air matanya menyelimuti Afrinda, ia keluar dengan wajah yang lebih tegar.


👇👇👇

__ADS_1


__ADS_2