Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Sudah Pulang


__ADS_3

Afrinda duduk sendirian di atas bangku yang terbuat dari susunan bambu di teras rumah orang tua Astrid, besok sebenarnya ia harus kembali pulang bertugas mengajar seperti biasa, sampai sore hari yang sejuk ini malas rasanya mengemasi barang-barang. Padahal orang tua Astrid sudah mempersiapkan untuk dibawa olehnya bekal makan untuk beberapa waktu.


Mengesah kasar berdecak gelisah berkali-kali mempertimbangkan sebuah keputusan antara mengundurkan diri atau bertahan, pihak keluarganya sangat egois memaksanya untuk kembali ke rumah ikut malu karena berita itu.


Memang masalah ini sudah selesai dengan semestinya, namun keluarganyalah yang tetap keukeh agar kembali memegang tanggung jawab yang ditinggalkannya demi menjadi seorang guru. Sudah bertahun ia berhasil bersembunyi dari kejaran keluarga, mengganti seluruh akses komunikasi pun sangat dibatasi, adanya berita viral menyeret namanya awal jejaknya ditemukan. Suruhan ayahnya datang tadi malam ke rumah ini entah tahu alamatnya dari siapa, berbicara pelan namun sangat jelas bermakna memaksa. Ahk. Keluarga yang menyebalkan, kandung juga bukan, tapi karena balas budi sulit jalannya untuk menolak.


Disaat batinnya sudah siap mengajar kembali, hal yang mengejutkan tiba-tiba datang padanya. Disisi lain ia masih sangat menginginkan profesi itu dan mencintai murid-muridnya, tapi dia juga sudah terlalu lama bersembunyi dari keluarganya mungkin sudah saatnya seperti ini mengikuti hal yang tidak dia inginkan.

__ADS_1


Malam hari masih melakukan hal yang sama, termenung di depan jendela. Ada satu hal yang paling berat untuk ditinggalkan, hatinya untuk Gharda dan Jelita. Bergeser meraih tas kecilnya mencari sesuatu yang tersimpan dalam kantong tas yang terselip, mengusapnya memandang sejuta perasaan foto saat Jelita ulang tahun. Jelita duduk di tengah di kiri dan kananya ada dirinya dan Gharda yang saat itu menjadi om badut. Untung saja Ardan tidak mencakar sampai ke dalam sini, semua isi tasnya kembali Astrid yang mengirinkannya melalui kurir.


Ponsel lamanya sudah menyala kartunya sengaja dicopot, membuka galeri memutar vidio kebersamaan dengan Jelita, vidio di sekolah, dan banyak kenangan yang tersimpan dalam ponselnya. Pasang kartunya atau tidak? Ia masih ragu.


"Nak, apapun keputusanmu, semoga kamu bijak menghadapinya. Kedua-duanya baik untukbmasa depanmu, urusan itu bukan keinginanmu atau keinginanmu, siap hadapi bersama waktu yang terus berjalan. Jangan mundur ke belakang membandingkan status kejelasanmu, adalah takdir yang harus kita terima. Pulanglah, kami hanya bisa berdoa untuk kebaikanmu."


Memeluk orang tua Astrid tidak rela menaiki kereta api yang akan membawanya, melambaikan tangan dadah-dadah.

__ADS_1


Jam 20:30 malam terbangun perutnya lapar makan malam, Astrid shift malam masih dengan baik hati menyiapkan makanan untuknya. Rasa kantuknya hilang, tertarik untuk keluar malam sudah selarut ini. 22:00 berjalan kaki menikmati hembusan angin malam.


Jalanan mulai stabil tidak sepadat yang tadi, pulang lembur jam segini memang sangat lancar karena tidak macet.


Gharda menyetir mobilnya kecepatan standar, memutar masukk ke dalam gang kost Afrinda, hanya lampu teras yang menyala Afrinda belum kembali padahal besok sudah sekolah.


"Afrinda, kapan kamu pulang? Harusnya malam ini sudah, karena besok kamu mengajar lagi. Saya sengaja melintasi jalan kos-tmu untuk memastikan kau sudah pulang atau belum, sampai detik ini aku tidak melihatmu." Gharda kehilangan harapannya lagi.

__ADS_1


Afrinda asyik dengan petualangan di atas trotoar tidak terlalu memperhatikan sisi jalan raya, Gharda masih fokus melamun namun pandangannya tidak lepas melihat ke depan jalan raya. Keduanya saling berpapasan tidak ada yang menyadari.


👇👇👇


__ADS_2