
"Buuunddaa!!"
Afrinda menghentikan langkahnya sosok gadis kecil kesayangannya berlari ke arahnya dengan gaun senada tersenyum lebar, tapi panggilan itu membuatnya terpaku sejenak ada yang menghangat di sudut hatinya kemudian membalas senyum merekah mensejajarkan badan mengusap wajah Jelita. "Jelly memanggil miss apa tadi?" tanyanya memastikan.
"Bunda!" jawab Jelita lantang. "Jelly sudah bicara pada ayah, katanya sebentar lagi sudah menjadi istri ayahku itu artinya menjadi mamah baruku juga, tapi aku mengatakan agar memanggil miss dengan 'Bunda', karena Jelly suka panggilan itu. Mulai detik ini aku akan memanggil bunda."
Dengan gaya sok dewasanya Jelita tanpa ragu mengungkapkannya dengan wajah yang berseri bahagia memandang dalam pada Afrinda.
Bunda.
Keputusan Jelita itu membuatnya meneteskan air mata haru kedua telapak tangannya lembut menangkup wajah mungil Jelita perasaan sayang, Astrid dan yang lain setia ikut mengusap air matanya.
"Sayang," suaranya bergetar.
"Mulai hari ini Jelly adalah anak Bunda Frind. Iya'kan tante Astrid Miss Ticha Om Egwin? Menengadah pada ketiga orang dewasa mendeklrasikan kepemilikannya.
"Iya, Jelly." Ketiga menjawab serentak.
Tanpa peduli riasannya bisa rusak, perlahan menarik Jelita ke dalam pelukannya menahannya hati-hati. "Bunda bahagia sekali, Sayang. Bunda juga sangat menyayangi putri bunda ini, terima kasih telah menerimaku hadir dihidupmu, Jelly."
"Janji jangan meninggalkan Jelly, janji tetap sayang Jelly selamanya." Jelita menunjukkan kelingkingnya.
"Janji." Membalas jari kelingking menyatu.
"Jelly juga berjanji akan menjadi anak yang baik untuk bunda, menjadi anak yang manis pada ayah dan bunda."
Pandangan kedua wanita beda generasi ini saling terpaut satu sama lain, perasaan bahagia meluap sebentar lagi impian Jelita akan terwujud.
Menggandeng Jelita terus tersenyum-senyum menuruni satu per satu anak tangga bergandengan erat, ruangan sudah ramai kedatangan tamu.
Jelita berlari ke samping omahnya, acara segera dimulai.
__ADS_1
Dari pintu samping Gharda gugup bukan main, membuka matanya yang terpejam menarik napas dalam-dalam, melangkah penuh wibawa melongok melihat kecantikan Afrinda memukau matanya.
"Tahan, Ghar," ledek Rivzal di sebelahnya terkikik geli.
"Sekarang kita sambut mempelai pria akan menjemput mempelai wanita yang sudah duduk manis menunggu di pelaminan!" MC membuka acara pertama.
Diiringi tepuk tangan meriah dan lagu romansa pernikahan dari atas panggung, Gharda melangkah tersenyum manis memandang fokus ke arah Afrinda yang sudah berjarak tinggal beberapa langkah lagi.
Afrinda juga sama gugupnya, penampilan calon suaminya tidak kalah tampan dari biasanya.
Gharda sudah dekat di hadapannya mengulurkan tangan, Afrinda menerima kemudian berdiri bergandeng mesra berjalan ke atas altar pernikahan.
"Gugup," bisik Afrinda gerakan bibir. Gemgaman tangan Gharda membuatnya sedikit lebih santai.
Duduk di bangku hias acara kedua berlangsung.
Beberapa lagu petnikahan dinyanyikan dilanjut ada renungan atau nasehat dari pemuka agama pada pasangan pengantin ini, dan acara selanjutnya adalah untuk para orang tua kedua mempelai.
Ny.Syeni berdiri tersenyum melangkah ke depan. Afrinda tidak berani menatap, ia tertunduk meredam rasa cemasnya.
"Orang tua dari mempekai wanita dipersilakan maju ke depan altar."
Gharda menguatkan Afrinda, para tamu menelisik sekeliling menunggu apalah Bram datang? Dari tadi batamg hidung Bram tidak kelihatan.
"Orang tua dari mempelai wanita."
Sudah satu menit terlewati tidak ada yang datang, Afrinda tertunduk malu.
Pemuka agama sedikit banyaknya memahami apa yang terjadi, "Walinya saja, silakan."
"Bapak dan ibu saja," Rivzal memohon pada orang tua Astrid.
__ADS_1
Belum sempat berdiri duduk lagi di bangkunya.
"Tunggu!" teriakan seseorang pria muncul dari balik pintu utama, semua tercengang mata tertuju padanya.
"A-ayah." Menutup mulutnya tidak menyangka.
Siapa dia?"
Tanpa basa-basi Danu melangkah cepat sigap menarik mikrofon yang kosong, berdiri memandang semua orang. "Maaf, saya menganggu pernikahan putri saya sebenrar."
Putri say Semua tamu undangan saling pandang bertanya, belum lagi wartawan semakin bersemangat meliput berita yang akan viral nantunya.
"Saya Danuarta adalah ayah kandung dari Afrinda mempelai wanita, saya adalah wali sahnya. Saya datang terlambat dikarenakan hal sesuatu yang tidak bisa saya jelaskan sekarang. Sekali lagi saya mohon maaf, mari kita lanjutkan acara iklar pernikahan putri saya." Danu tanpa ragu mengungkapkan di hadapan media yangeliput, Rivzal memberi isyarat anak buah yang lain menenangkan suasana.
Sepuluh menit berlalu terjadi keheningan, pemuka agama dan MC kembali bersiap untuk tugas selanjutnya.
"Saya Syeni Lastatie selaku ibu dari mempelai pria, merestui putra saya Gharda Niel Alfinso untuk mengikat pernikahan dengan mempelai wanita yang bernama Afrinda Sinatrani. Restu saya ini adalah doa yang terbaik untuk membina pernikahan ini kelak tetap saling mencintai selamanya, dan saya akan menyerahkan lilin pernikahan ini pada kedua mempelai, cahaya dari lilin ini adalah untuk penerang rumah tangga kalian." Ny.Syeni mengusap air mata setelah menyelesaikan ucapan restu.
Mengambil lilin yang sudah menyala lalu memberikannya pada Afrunda, "Terimalah cahaya lilin ini untukmu menantuku."
Afrinda meraih lilin dan tersenyum sekilas. "Saya Afrinda Sinatrani mengucapkan terima kasih atas restunya, bantulah kami agar semakin matang dalam membina pernikahan kami, dan serta doa dari ibu adalah bekal kami saling memcintai."
Ny.Syeni berjalan mundur.
"Saya Danuarta selaku ayah dari mempelai wanita, merestui putri saya yang bernama Afrinda Sinatrani untuk mengikat pernikahan bersama mempelai pria Gharda Niel Alfonso. Cibtailah dan jagalah putri saya yang akan menjadi istrimu, restu saya ini adalah doa yang terbaik agar kelak saling memcintai selamanya..."
Menyerahkan lilin yang menyala, sama seperti Ny.Syeni sebelumnya.
Sepasang lilin tersebut diletakkan di meja altar, selanjutnya adalah tanda tangan surat restu yang dilakukan kedua orang tua pihak mempelai.
👇👇👇
__ADS_1
Ngarang sendiri acara pemberkatanya.