Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Rencana Pernikahan


__ADS_3

"Apa!?"


Seisi ruangan tersentak kaget suara Gharda yang melengking memukul meja kerjanya, "Untung Pak Duddy tidak serangan jantung. Ghar, Ghar." Egwin berdecak kesal berdalih menyebut sosok pria paru baya yang duduk di sebelahnya.


"Pernikahan kami bukan untuk menimbulkan bahaya, Zal. Kalau terjadi sesuatu saat pernikahan berlangsung, bagaimana?" Gharda tidak menyetujui usulan Rivzal


Afrinda masih bergeming memikirkan mempertimbangkan, disini dirinyalah yang menjadi peran utama. Kalau dia sanggup, semuanya berjalan sesuai semestinya, jika dia salah langkah, yang lain ikut terseret bahaya.


"Jika pernikahan kalian dirayakan besar-besaran viral di media sosial, tentu kabar itu akan tersampaikan pada keluarga Sinatran mau tidak mau mereka wajib datang menghadiri pernikahan putrinya." Rivzal berusaha menjelaskan maksud dari usulannya tadi. "Satu hal lagi jika kita melakukan rencana ini, orang tua kandung Afrinda pasti datang. Kita termasuk Afrinda bisa menilai siapa yang tulus menerimamu, dan pertemuan Danu dan Bram adalah sesuatu yang sudah dinantikan Nyonya Syeni."


"Itu terlalu beresiko, Zal," Egwin masih meragu.


Rivzal tersenyum sejenak, menatap satu per satu semua yang ada duduk bersamanya. "Disinilah kita semua butuh kerja sama untuk meminimalisir dampak yang bisa saja terjadi, tapi kembali lagi keputusannya ditangan kalian berdua."


"Frind," Gharda menoleh ke aras kekasihnya.


Siapapun pasti menginginkan persta pernikahan berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan, tapi beda yang akan dilakukan pasangan ini. Bagaimana mungkin sebuah pesta justru mendatangkan ancaman ada maksud lain, ini diluar perkiraan. Tetapi yang dikatan Rivzal tidak sepenuhnya salah, Afrinda mengenal betul keluarga Sinatran, sudah sejauh ini pun tidak ada tanda-tanda serangan perlawan di sekitarnya. Bukan mencari perkara, bersembunyi dalam suatu masalah bukanlah hal yang benar, ketenangan dalam kegelisan layaknya berjaga takut maling. Bram adalah manusia manipulatif menjerat musuhnya, Afrinda sangat memahami karakter licik papahnya itu.

__ADS_1


Dengan sekali tarikan napas dan pertimbangan yang matang, pada akhirnya ia mengangguk yakin menyetujui usulan Rivzal.


"Apa kamu yakin?"


"Iya, Ghar. Tapi dengarkan aku dulu teman-teman, pernikahan hanya dirayakan sederhana saja jangan yang mewah, kalaupun nanti ada apa-apa itu tidak berdampak pada orang banyak. Pemberkatannya jangan sampai terganggu, itu saja. Yang lainnya kita serahkan pada Tuhan, yang penting kita sudah berusaha agar semua sesuai rencana."


"Bagaimana jika nyawamu terancam, Frind? Bram sangat berobsesi untuk menghancurkan keluarga Alfonso, jika kamu kenapa-napa pasti Gharda akan gila, itu adalah hal yang menguntungkan untuk Bram," ungkap Egwin mengutarakan kemungkinan risikonya.


"Tidak akan kubiarkan siapa pun mengganggu milikku," sahut Gharda.


"Kalian tahu, aku sudah lebih dulu menghadapi keluarga itu, bahkan racun itu tidak membuatku mati begitu saja. Buang jauh-jauh pikiran utu, Gwin. Tidak ada nyawa yang menghilang, Bram bukan orang yang gegabah," jawab Afrinda yakin.


Rivzal, Egwin selalu mendapat repotnya, menyusun perkembangan harus bagaimana dilakukan nanti. Pak Duddy yang sudah naik jabatan tetap fokus di kantor, banyak sekali penawaran kerja sama yang harus dihadiri.


Ny.Syeni awalnya menolak, tapi tetap pada akhirnya ia harus ikut dalam rencana ini.


Anak-anak senang apa lagi Jelita, dengan riang memeluk tubuh Afrinda tidak sabar punya mamah baru. Mereka tidak paham dengan bahaya yang tersimpan dibalik semua ini.

__ADS_1


"Mah, Ghar, aku takut menelepon Ayah Danu." Afrinda meremas ponselnya.


"Cukup hanya memberi kabar pernikahanmu, datang tidaknya biar mamah yang bicara."


Dua kali panggilan tidak ada yang menerima, sampai pada panggilan ketiga seseorang menjawab suara wanita yang dirindukan Afrinda.


"Halo."


"Ibu," lirih Afrinda.


Satu menit tidak ada suara.


"Ibu aku mohon dengarkan aku dulu, jangan matikan teleponnya. Dua minggu lagi hari pernikahanku bersama Gharda, kuharap ibu dan ayah bisa datang melihatku. A-aku sangat mengharapkan kedatangan kalian, Ibu."


Tangisan Afrinda pecah panggilan itu terputus dari ibunya, tanpa ada jawaban dari perkataanya.


Ny.Syeni mengelus punggung calon memantunya sayang, ia sudah mempunyai cara sendiri untuk memaksa orang itu untuk datang.

__ADS_1


👇👇👇


__ADS_2