Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Ada Yang Salah


__ADS_3

Sebenarnya sudah merasa sangat kegerahan keringat membasahi tubuhnya suhu panas bumi ditambah ia memakai jaket dan masker beserta kaca mata dan topi, duduk mengantri diantara penumpang lain yang sedang menunggu jadwal keberangkatan kereta api tiba.


Orang sekitar memandanginya aneh, siang bolong begini memakai jaket apa dia tidak kepanasan, itulah pertanyaan yang dilontarkan pada diri-sendiri saja. Gharda tidak peduli ia sibuk bermain ponsel mengalihkan pikirannya yang berkecamuk.


Kereta api sudah jalan, memang bukan hal pertama bagi seorang yang kaya raya seperti Gharda merasakan hal fasilitas umum, mamahnya dari kecil mengwjarkannya banyak hal tentang kesederhanaan dunia luar selain dunia keluarganya. Gharda berusaha sesantai mungkin.


Rel melewati persawahan sejuknya udara menembus dari celah jemdela membuatnya hampir mengantuk, satu notifikasi getar membangunngankan merogoh dalam saku jaket bagian dalam.


Pesan dari Rivzal mengetik panjang lebar tentang mamahnya ternyata datang ke perusahaan dan sekarang kondisinya baik-baik saja sedang dibawa ke rumah sakit semula, bernapas lega mengelus dadanya terasa plong.


Masih ada pesan lain dari nomor anak buahnya, baru saja merasa lega sedetik kemudian ia bergerak gelisah. Tidak bisakah ia tenang walau semenit saja? Semua ini benar-benar menguras tenaga membuang waktunya, penjelasan penyelidikan anak buahnya.


Pantas saja mamahnya sangat mudah kabur begitu saja tanpa ada tindak pencegahan pihak rumah sakit, ternyata ini disengaja ada pihak yang ikut campur, dengan mamahnya yang hilang pasti Gharda keluar dari persembunyian untuk mencari mamahnya. Dan sialnya, Gharda terjebak kali ini, ada dua orang petugas yang menyamar diantara sekitar penumpang tapi tidak tahu orangnya yang mana. Menarik napas dalam-dalam menenangkan otaknya mencari celah ide.


Pasti mereka sudah memperhatikan gerak-geriknya, tapi dari mana mereka tahu dia menyamar? Mengirim pesan pada Egwn takutnya para intel ini sudah mengetahui tempat Afrinda dibawa, Egwin membalas tidak bisa diketahui letak titik lokasi rumah itu dengan mudah sengaja sudah merusak alamat wabsaite wab yang sudah terdeteksi sebelumnya. Berarti ia hanya meloloskan dirinya saat ini, Afrinda aman.


Setelah satu jam lamanya kereta berhenti di stasiun tujuan, satu per satu turun seperti biasa, Egwin juga melakukan hal yang sama.

__ADS_1


Berjalan sedikit berlari dengan langkah lebar tidak gentar Gharda sudah beradapan dengan dua petugas yang akan menangkapnya.


"Kalian mau menangkap saya?" Tanyanya nada menantang. "Mau ponsel ini juga?" Memgangkat ponselnya tinggi-tinggi.


"Menyerahlah agar anda tidak kami tembak paksa, berikan ponselmu itu sebagai alat bukti kejahatanmu!" seru salah satu petugas menodong pistol ke arahnya jarak dekat.


"Kalian tidak akan menemukan apa-apa dalam ponsel ini!" Dengan enteng membanting pobsel ke aspal kemudian menginjaknya sampwi hancur seraya tertawa sinis.


"Tangkap dia!" Seru petugas yang tadi.


Tidak banyak melawan Gharda justru tidak menolak untuk diborgol, ia diring menuju mobil tahanan tanpa langkah yang berat.


"Boss target sudah kami tangkap!"


Suara si supir mobil semakin membuatnya curiga, otaknya mulai menyimpulkan sesuatu yang masih diragukan tapi kemungkinan benar juga tidak mustahil.


Dengan kasar Gharda diturunkan seperti memperlakukan hewan, jatuh tersungkur melukai lututnya, orang-orang menjadi lebih banyak mengelilinginya tertawa terbahak-bahak tidak menaruh rasa kasihan.

__ADS_1


Menyeret paksa dimasukkan ke dalam ruang tahanan yang entah seperti apa ini, bukan anggota kepolisian, ini bukan rumah tahanan resmi! Tidak ada narapidana lain, ruangan tidak sebesar gedung kepolisian, lebih menyerupai markas.


"Kau Gharda! Tunggu bos kami yang akan bicara padamu!" seru orang yang membawanya ke sini. "Jangan lakukan kekerasan lagi, jika orang ini mati di sini, kalian tahukan apa akibatnya." lanjutnya.


Mereka meninggalkan Gharda sendirian dengan luka lebam-lebam di sekujur tubuhnya, dia dihajar oleh mereka, Gharda tidak berpikir melawan dan rasa sakitnya tetapi lebih memperhatikan tempat ini saat tangan kotor itu melayang menghantam perut dan wajahnya.


Malam ini bos mereka tidak datang, itu bagus. Karena yang Gharda nilai bahwa orang-orang ini tidak sepintar yang diharapkan, buktinya tidak melakukan penggeledahan di pakaiannya, Apa mereka tidak bisa berpikir, kalau bisa saja ada sesuatu terselip di pakaian si penjahat yang mereka tangkap? Dari luar terdengar sorakan bermain judi dan mabuk-mabukan, benar-benar tidak beres. Mereka bukan dari kepolisian mana pun, tapi siapa?


Gharda tersenyum meledek, mencabut suatu benda mungil yang tersimpan di ujung kantung jaket. Ini adalah sejenis benda perekam yang menangkap suara dan bisa mencari lokasi berbentuk garis, hebatnya benda ini bisa mengirim sinyal lagsung pada Rivzal.


Inilah yang membantu Gharda berkomunikasi dengan Rivzal, mahal-mahal membelinya dari pasar gelap demi melancarkan persembunyiannya selama ini.


Rivzal bersama teman premannya duduk santai menikmati snack dan sesekali beecanda, notifikasi dari ponselnya sinyal dari angka kode pasword milik Gharda.


"Tunggu kami!"


👇👇👇

__ADS_1


Kira2 siapa yg menyekap Gharda itu?


__ADS_2