Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Tempat Sepi


__ADS_3

"Ardan, kita sebenarnya mau kemana?" tanya Afrinda mulai merasa cemas. Sudah hampir dua jam perjalanan mereka seperti tidak mempunyai tujuan pasti, jika diperhatikan dari keramaian jalan raua sepertinya mobil sudah menjauh dari kota tempat tinggal.


"Apa aku salah jalan ya? Harusnya kita sudah sampai," sahut Ardan tidak menjawab pertanyaan Afrinda.


"Apaan ini? Kamu yang memaksa aku ikut, kamu yang menyetir, kamu yang tidak mengatakan dari tadi kita mau ke mana, alamat yang mana kita tuju aku tidak tahu. Sekarang kamu bilang kita salah jalan, ada apa ini?" Afrinda bertanya beruntut frustasi menggeram.


"Maaf, Frind. Sepertinya kita sudah kesasar, kita cari tempat yang di sekitaran sini saja ya." Berbicara lembut agar Afrinda tidak kesal lagi padanya.


"Lalu, kita tadi mau ke mana? Dan sekarang kita mau ke mana? Kamu kenal tempat ini?" Afrinda kembali memberondong pertanyaan suara meninggi, kali ini kesabarannya sudah setipis tissu.


"Tadi aku mau mengajakmu ke salah satu danau yang kubaca dari internet tapi sudah salah jalan."


Afrinda tidak menyahut lagi, memukul badannya ke sandaran jok mobil mengesah kasar. Menyesal ia menuruti pria ini. Untuk mengisi rasa bosannya merogoh ponsel dalam tas membukanya, matanya terbelalak tidak ada signal sama sekali. Menoleh ke arah jendela mobil, mereka memasuki lahan kosong samping kiri dan kanan yang dipenuhi tanaman tidak terawat tapi ini bukan hutan.


Pemikirannya mulai bercabang, sudah tersulit emosi sampai berani membentak Ardan berhenti saja, tempat yang semakin sunyi membuatnya cemas. Ini laki-laki, bukan tidak mungkin dia melakukan sesuatu padanya'kan?!


Turun membanting pintu mobil berlari menjauhi Ardan yang mengejarnya, sumpah ia sudah ketakutan.


Tenaganya tentu kalah dari Ardan, tangannya berhasil dicekal membuatnya merinding sebadan-badan.


"Afrinda stopp! Jangan berpikir macam-macam, aku tidak akan berbuat yang menyakitimu!" seru Ardan lantang masih menahan tubuh Afrinda supaya tidak lari lagi.


"Lepas Ardan!! Aku mau pulang!" Tidak kalah histeris Afrinda memberontak menangis.

__ADS_1


"Aku akan melepaskanmu tapi jangan lari, dengarkan aku dulu." Melembutkan suaranya Ardan takut Afrinda pergi.


Selang tiga menit masih terisak Afribda sudah merasakan sedikit lebih tenang, ia mengangguk tangannya dilepas.


"Ma-maaf, tanganmu merah." Ardan meraih pergelangan tangan Afrinda dengan lembut kemudian mengusapnya.


"Apa sebenarnya maumu?"


"Kita bicara di mobil saja, sekalian mengobati tanganmu."


"Ck. Jangan bertele-tele," tekan Afrinda sudah tidak seramah tadi.


Menarik napadnya panjang menatap wajah wanita yang disukainya ini mengamati, sadar bahwa Afrinda sudah terlalu marah karena dirinya. Tidak ada sesustu yang bisa untuk diduduki, jalan yang masih terbuat dari batu kerikil dan tanah agak berlumpur serta tanaman liar semak yang mungkin ada binatang berbahaya di antara semaknya.


Dari sorot mata Ardan terlihat tulus mengucapkannya, tidak boleh terlena untuk sesaat, demi apa pun ia tidak yakin dengan semua perasaan Ardan.


"Sampai nekat membawaku ke tempat tidak jelas seperti ini?"


"Maaf membuatmu merasa tidak nyaman. Sangat sulit untuk mendekati kamu, kamu selalu menghindariku. Sewaktu aku melihatmu tadi dan mendengar ceritamu, terlintas dalam pikiranku untuk mencuri waktu. Aku egois? Iya! Ini semua demi kejelas tentang hubungan kita, aku benar mencintaimu." terangnya ada pengakuan yang berbohong.


"Aku tidak. Semenjak kamu tidak menepati janji tidak datang, perasaanku yang awalnya menyukaimu kini tidak ada lagi."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Aku hanya mengikuti kata hatiku, lucu rasanya kamu datang tiba-tiba langsung menyatakan cinta."


"Apa yang harus kubuktikan agar kamu percaya?"


"Jangan buktikan apa pun, perasaanku akan tetap sama."


Hatinya berdenyut sakit dengan penolakan ini, mengusap air matanya yang jatuh membelakangi tubuh Afrinda.


Tidak dengan Afrinda, hatinya bersikeras jangan jatuh cinta pada lelaki ini. Lebih baik menolak jujur dari pada menerima tapi bohong, ada hal yang harus dijaganya.


"Hahh." Terdengar helaan napas Ardan. Merentangkan kedua tangannya merasakan hawa dinginnya sore menjelang malam suara binatang malam mulai berbunyi.


"AFRINDA AKU CINTA KAMU!!" teriaknya sekencang mungkin memecah kesunyian.


👇👇👇


Mana team Ardan Afrinda??


Team Gharda Afrinda??


Kalian lebih restu sama siapa gaesx??


Atau, Egwin Afrinda mungkin??

__ADS_1


__ADS_2