
Afrinda banyak diam dalam perjalan pulang dari rumah papahnya Bram, meninggalkan adik-adiknya tidak bersikap ramah sesaat warisan itu dibacakan.
"Sayang," Gharda mencoba mengajak mengobrol mengalihkan pikiran istrinya, dia juga bingung cara menghibur harus bagaimana.
Mengesah kasar Afrinda hanya menoleh sekilas lalu melanjutkan lamunannya.
Sesampainya di rumah disambut dengan kesepian tidak ada suara, Jelita menginap di perkemahan sekolahnya, mamahnya belum pulang juga.
"Aku masuk duluan ya, kepalaku pusing," keluh Afrinda.
"Istirahatlah, aku ke ruang kerja."
Suasana semakin hening Gharda uring-uringan bersandar di soda ruang kerjanya, niat ingin romantis-romantisan sore ini tetapi berakhir istrinya kehilangan mood. Memcoba membuka laoptop kerja, mencari file apa saja yang harus diselesaikan. Belum sepuluh menit jemarinya menari di atas keyboard laptop, kejadian istrinya tadi membuatnua frustasi mengabaikan pekerjaanya.
Membuka rekaman cctv yang tersambung ke kamarnya penasaran apa uang dilakukan istrinya, Afrinda berdiri termenung di dekat jendela tidak berapa lama justru tertidur di atas sofa kamarnya.
Kepalanya merasakan nyeri belum lagi yang dibawah sana semakin berkedut nyeri, menyugar rambutnya kasar melawan hasratnya tidak tersalurkan yang semakin bergejolak.
"Gharda, kau harus kuat menahannya kali ini. Kau sudah mampu menahan nafsumu selama empat tahunanan ini, tapi kenapa efeknya baru sangat terasa kaki ini. Ahhk!"
Tanpa sadar tangannya memukul pegangan kursi, untunglah tidak berdarah.
__ADS_1
Mau mandi ingat kata dokter belum bisa untuk sementara waktu, lalu dengan cara apa lagi dirinya mengalihkan hasratnya ini?
Mencari obat-obatan di laci meja kerja, ketemu. "Minum obat tidur ini saja, huff. Nasib nasib."
Membuka air mineral menelen obat itu tidak berapa lama obat itu mulai bereaksi, berbaring di atas sofa memejamkan matanya tertidur.
Entah berapa lama sudah Afrinda tertidur, tersentak bangun panik melihat jam yang mengantung di dinding matanyaelebar ini sudah pukul tujuh malam, ia ketiduran selama dua jam.
Menoleh ke ranjang suaminya kosong, dimana dia?
Tergesa menuruni anak tangga menuju dapur menjumpai Bibi Emma yang sedang memasak bertanya dimana susminya, Bibi Emma balik bertanya kebingungan.
Demi apapun, banyak perkara yang menimpanya akhir-akhir ini membuatnya kehilangan fokus, seperti ada beban berat yang menganggunya berjalan, berganti terbayang dalam kepalanya.
Bibi Emma tersenyum lembut menghampiri Afrinda terbenging berdiri sambil membawakan cangkir teh. "Tenangkan dirimu, Nak. Tarik napas dalam-dalam, semua pasti ada solusinya. Mungkin suamimu ada di ruang kerja, pergilah dan bawakan teh ini untuknya. Sekali lagi, tenangkan pikiranmu," nasehatnya.
"Bi," Afrinda tersenyum manis. "Terima kasih, baiklah aku ke ruang kerja dulu."
Pintunya tidak terkunci, perlahan masuk ke dalam mendapati susminya tertidur di atas sofa. Meletakkan cangkir di atas meja sofa, netranya melihat bungkusan obat tergeletak di samping remot AC. "Obat tidur," gumamnya semakin merasa bersalah.
"Sayang bangun." Panggilan itu akan dibiasakannya mulai detik ini. "Sayuaaangggg," bisiknya panjang menepuk pipi suaminya.
__ADS_1
"Unggh-Eh." Gharda melenguh mengerjapkan mata wajah istrinya tersenyum padanya. "Sayang."
Bangkit bersandar di sofa Afrinda duduk di sebelahnya mengusap wajahnya lembut.
"Ini sudah jam tujuh malam, ayo mandi," bujuk Afrinda.
"Malas, Sayang." Bermanjaria menjatuhkan kepalanya di bahu istrinya. "Besok pagi saja sekalian."
Tidak habis akal mengendus tubuh Gharda, "Bau tahu, ayo mandii!"
"Mandi, mandi bareng kamu."
"Iiiih, kamu ya-" Memcubit lengan suaminya tampang genit. "Nanti bukannya mandi jadi pemanasan sepert-aaaa!" cerocos ya keceplosan menutup mulut memerah malu mengingat malam kemarin saat Gharda mengajari apa itu ciuman pertama di ruang kerja ini juga.
Ini kesempatan yang bagus, sangat menyukai wajah malu-malu istrinya, Gharda secepat kilat menyingkirkan tangan itu Afrinda masih mode nge-leng tanpa basa-basi berhasil menyambar bibir istrinya. "Praktekan lagi cara berciuman yang kamu pelajari kemarin, cium, aku akan mandi."
Dag dih dug, Afrinda menahan napas perlahan duluan memejamkan mata mencium bibir suaminya mengalah menuruti sebagai permintaan maafnya.
"Hehehe, aku menang."
👇👇👇
__ADS_1