
Tiffany!
Ardan mengepalkan tangan setelah menyimpulkan apa yang terjadi dari semua ucapan Tante Nurma padanya, dadanya bergemuruh panas marah gagal kecewa merasa bodoh pada dirinya sendiri.
"Ahhk,,sial, sial!!" Tiga kali tangannya memukul lingkaran setir menggeram.
"Sebenarnya aku ini kenapa, hah? Kenapa rasanya kecewa sekali Tiffany ternyata belum berubah, apa yang salah dari diriku-" memgusap wajahnya kasar bersandar. "Aku sadar kalau semua sifatnya itu bohong, dan harusnya aku bisa menjauhinya, tapi kenapa sampai sekarang pun kami semaki dekat. Bingung, ahk!"
Malam ini ia tidak berniat menjemput Tiffany sesuai perjanjian mereka sebelumnya, lebih memilih berdiam diri di mobil yang masih terparkir di bangunan rumah sakit. Otak dan hatinya terus berputar memcari suatu pertanyaan besar yang bersarang di kepalanya, perasaan ini tidak pernah dialaminya. Semua tentang Tiffany membuatnua seba salah, tidak tahu ini ke arah mana.
Sadar betul, selama ini hanya dirinya mampu mengimbangi sifat Tiffany yang selalu ingin menang sendiri, Ardan mampu menuruti permintaan Tiffany selama ini termasuk menjaga keluarganya. Entah apa alasannya ia melakukannya semuanya mengalir begitu saja, dibilang cinta Ardan menggeleng logikanya berpikir Tiffany bulanlah wanita yang pantas untuk dirinya.
Hari ini ia bahkan sudah mengetshui srndiri kelicikan yang diperbuat Tiffany, Ardan marah sekaligus kecewa pada wanita itu, namun ia pun bingung harus bertindak apa untuk menengahi semua ini.
__ADS_1
Membuka tas yang disimpannya dalam mobil memperhatikan lagi dvd yang terbungkus rapi, isi dvdnya adalah berupa vidio rekaman cctv jalanan raya dimana Tiffany datang ke pesta pernikahan Afrinda, dan masih ada vidio lain yang menunjukkan Tiffany ikut andil dalam tragedi waktu itu. Tadi pagi dalam perjalanan ke rumah sakit ini, ia dihubungi seseorang yang sudah dibayar sebelumnya oleh pihak Gharda untuk mencari vidio cctv itu, berputar arah mengambil dvd masih tidak berniat menyershkannya pada Gharda.
"Kalau bukti ini kuberikan pada mereka, akan seperti apa nasib Tiffany?" gumamnya mempertimbangkannya lagi.
Dering ponselnya panggilan dari Rivzal yang bertanya apakah misi pemcarian vidio cctv itu berhasil atau tidak, Ardan menjawab keterangan palsu mengatakan bahwa cctv masih dalam perbaikan belum bisa menyalin vidio tanggal itu, menunggu dua hari lagi pihak laku lintas akan memghubunginya kembali untuk memberikan apa yang diminta mereka. Sepertinya Rivzal percaya saja langsung mematikan sambungan panggilan, Ardan menghela napas lega.
"Apa aku berikan bukti palsu saja ya? Setidaknya itu tidak terlalu menyudutkan Tiffany, tapi-" Lagi ponselnya berdering memotong gumaman ya.
"Halo, Tiff?"
"Tiff, aku tidak bisa menjemputmu. Ada pekerjaan mendadak dari bossku dalam dua hari kedepan aku tidak di kota ini, malam jam sembilan nanti aku harus ke bandara," jawabnya berdusta.
Ardan sudah merencanakan sesuatu diluar dari rencana saat bersama Gharda, ia akan mempelajari mengedit cctv ini menjadi acak-acakan untuk mengurangi kesalahan Tiffany. Butuh kurang lebih satu harian ia harus mampu memguasai ilmu teknologi itu sebelum diserahkan pada Gharda, melajukan mobil kecepatan tinggi tergesa mengumpukan baju ke dalam koper memesan tiket melalui online sudah menemulan di hotel mana ia menginap, agar Tiffany bisa percaya kalau dirinya tidak bohong dengan menunjukkan hasil tangkap layar perjalan tiket pesawat.
__ADS_1
Diseberang sana Tiffany berdecak kesal Ardan benar terbang ke luar kota malam ini, menghubungi ibu ya mengatakan dirinya tidak bisa datang karena tidak ada yang mengantar dan bus antar kota sudah mulai sepi.
"Bus muatan terakhir, silakan naik, Nona!"
"Todak, Pak!"
Sesungguhnya Tiffany berbohong melewatkan satu bus terakhir, lebih baik ia tidur nyenyak di rumah dari pada harus menjaga om-nya yang menyebalkan itu.
"Mau matipun tidak jadi masalah, yang terpenting ibu ada dalam kendaliku," gumamnya tersenyum sinis.
Ardan sudah sampai di bandara sedang duduk asyik bermain ponsel, tanpa disadari ada seseorang yang berhasil menukar tasnya yang tergelatak di lantai.
Orang sekitar tidak terlalu engeh dengan hal itu, seseorang itu berlagak tidak terjadi apa-apa dan berjalan santai meninggalkan bandara.
__ADS_1
"Aman, Boss. Bukti yang dibawa anak ini sudah ada di tangan kita."
👇👇👇