Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Di Tempat Yang Gelap


__ADS_3

Tidak tahu ini jalan arah kemana, semua terlihat gelap tidak ada lampu penerang sama sekali, mau melanjutkan mobil sangat rawan tidak melihat jalan arah depan. Rinto merinding takut kalau sampe kecelakaan justru nyawanya ikut menghilang, belum sampai di titik tujuan yang ditentukan si penyuruh dengan tergesa menurunkan kedua anak kecil yang tertidur lelap menggendong membaringkannya di atas semak, menyeret tubuh Afrinda men-sejejerkan ketiga orang itu tanpa kasihan, penerangan cahaya lampu mobil ngos-ngosan langsung pergi meninggalkan begitu saja. Setidaknya mobil ini dijual, dia akan kabur dari sipesuruh karena tidak melakukan sesuai rencana. Semoga mereka tidak sampai tewas di sini.


Entah sudah berapa lama tidak sadarkan diri Afrinda terbangun kedinginan udara yang membuatnya menggigil dan rasa lembab dari badannya, meraba sekitar tercengang ia tertidur di rerumputan yang menempel di telapak tangannya membersihkan sisa pasir yang menempel di tubuhnya.


"Anak-anak." Terbelalak Jelita dan Allendra masih tidak sadarkan diri.


"Ini dimana?" Berdiri mengamati sekitar, beberapa saat ia tersadar ingat dengan kejadian sebelumnya. Panik meraba tas yang dipakainya tadi, syukurlah tidak ada barang yang hilang. Mencari ponsel signal kosong tidak ada sama sekali, tas mungil yang biasa dibawa Allendra hanya berisi obat, botol minum, roti pengganjal lapar dan jam tangan mati.


"Sayang bangun." Mengusap pipi Jelita lembut bergantian Allen juga, mereka harus berjalan mencari jalan pulang.


Waktu sudah menunjukan pukul 00:00 WIB, pasti yang lain ikut menghawatirkan mereka.


Jelita mengerjapkan mata langsung menangis kencang ketakutan dan baru saja mimpi buruk lagi, Allen ikut terbangun rasa pusing meringis memanggil ayahnya terisak kecil.


"Miss, ini dimana? Kenapa gelap? Kita tidur ditanah?" Allen bertanya banyak.


"Miss, ada orang yang mengejar miss, Jelly lihat papah ditembak dor dor dor. Takut!" Adu Jelita menceritakan mimpi buruknya dengan cerita yang sama pada mimpi buruk kemarin.


Afrinda mendengarnya dan takut dengan mimpi itu, sebisa mungkin ia meredamnya agar anak-anak tidak cemas berlebihan. "Kita cari jalan pulang ya. Ada miss disini, jangan takut ya," bisiknya lembut.


"Miss-Allen demam."

__ADS_1


Mengusap air matanya Afrinda hampir menangis cemas, menghela napas berkali-kali berdoa dalam hati. Dulu dia juga pernah mengalami hal serupa saat bersama Ardan, tapi bedanya ada anak kecil bersamanya dan yang satunya tidak dalam keadaan badan sehst, ia panik bukan main.


"Jelly sayang, miss gendong Allen ya, Jelly jalan disamping. Obatnya Allen bisa buat mengantuk lagi, kakau tidak dikadih obat nanti Allen kesakitan."


Jelita paham ia menangguk.


Menyalakan senter ponsel memberikan Allen obat penenag, menggendong kemudian menggandeng Jelita erat.


Jalan semput dan gelap, ini mungkin jalanan sepi, dengan mengumpulkan keberanian ia membawa serta dua anak kecil menyusuri jalan hati-hati.


"Jelly haus ya."


Badannya terasa remuk membawa Allen yang sudah mengantuk, emosinya keluar Jelita menangis kakinya mungkin lecet dan merengek.


"Ayahh!!!" Tangis Jelita memecah keheningan.


"Dimana kalian?" Batin Gharda seolah mampu memdengar tangisan putrinya dari arah lain, sudah jam 02:30 WIB tidak ketemu juga.


"GPS di jam tangan Allen sudah aktif!" Rivzal berseru dari bangku belakang sigap jemarinya lancar mengotak-atik di layar ponsel Egwin untuk menelusuri arah garis hijau dari GPS yang beruntung aktif kembali, sempat tidak tersambung signal, sekalipun batrai jam mati itu tidak menganggu chip GPS yang terpasang di dalam jam tangan tersebut kecuali kalau masalah signal.


"Kita kesana!" Egwin tancap gas.

__ADS_1


Tadi mereka sempat melacak mobil yang dikendarai Rinto yang menghabiskan waktu yang lumayan cukup menguras pikiran, mobilnya ketemu tapi Rinto berhasil kabur dan yang dicari tidak ada bersama Rinto. Pencarian Rinto biar menjadi urusan anak buah yang senior.


Gharda mengemgam beludru cincin memciuminya, berdoa keselamatan Afrinda dan anak-anak.


Afrinda duduk pasrah bersandar di tiang lampu jalan, lelah sudah lelah kakinya keram tenaganya habis punggungnya nyeri sebelah dinginnya pagi buta tidak terasa di kulitnya. Ada roti di tas Allen, menyuapi Jelita yang kelaparan dan haus terus menangis. Allen demamnya sudah turun , berselimut jaket Afrinda, matanya sudah terbuka tapi tenaganya habis lemas.


Apa mereka akan ketemu? Pernikahan tinggal beberapa jam lagi.


Lampu sorot mobil berhenti tepat di depan mereka membuat ketiganya menoleh, anak-anak beringsuk takut merapat ke pelukan Afrinda.


"Afrinda, Anak-Anak!"


"Gharda," Afrinda menangis lega tidak kuat berdiri lagi.


Cepat-cepat turun, Gharda menggendong Jelita memeluk Afrinda. Egwin mengangkat putrinya segera masuk ke mobil memasang oksigen mini yang memang ada di tasnya.


"Ghar, aku pikir kalian tid-"


"Ssst, kami pasti datang menjemput kalian."


"Dia menjebak kita."

__ADS_1


"Jangan pikirkan itu dulu, biar menjadi urusan kami. Bersandarlah dibahuku pejamkan matamu."


👇👇👇


__ADS_2