Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Langkah Awal


__ADS_3

Tidak ada yang baik-baik saja setelah pertemuan itu, baik Gharda maupun Egwin sudah mulai meweaspadai akan apa yang mungkin diperbuat Bram.


Entahlah Bram sudah bisa mengendus rencana mereka atau belum, lelaki kejam itu diam-diam bisa saja bertindak di luar dugaan tanpa sedikit pun mendengar aba-aba.


Dalam perjalan ke taman Egwin sebenarnya merasakan seperti ada yang mengikutinya, untunglah ia cepat memotong mengambil dari arah jalan lain, Ticha dan anak-anak tidak ada yang menyadari, tetap.fokus menyetir seperti biasa.


Malam itu Egwin sedang fokus membaca laporan tentang rumah sakit, Allen merengek ikut sudah ketiduran di sofa nyaman di ruanganmya. Tiba-tiba saja Allen menangis kemcang akibat mimpi buruk yang menggangu tidir nyenyaknya, mengajak agar pulang ke rumah sekarang, Allen justru semakin memdekap erat tubuh papahnya melarang.


Perasaannya ikut tidak cemas, memeriksa cctv, ada sesuatu yang tersembuyi dan sudit di jangkau pelataran gedung, bisa jadi penguntit bisa jadi itu hanya warga biasa. Egwin memutuskan menginap.


Bukan sampai di situ saja Gharda merasakan ada yang janggal tetapi tidak tahu-memahu apa yang dipikirkannya sekarang, aneh.


Berangkat ke kantor seperti ada yang mengikutinya, pulang menjemput tidak biasanya Jelita bercerita bahwa ada seorang om-om yang menawarkan dirinya permen, tentu saja Jelita tidak memerma pemberian dari orang yang tidak dikanal.


Memperketat penjagaan takut putrinya ikut jadi korban.


Setelah menyantap makan siangnya Gharda bergegas kembali ke kantor, hari ini ia dan Jelita selamat sampai di rumah. Ada kerumunan di depan post satpam, turun bertanya pada mereka apa yang terjadi.


Laporan tindakan seseorang yang entah datang dari mana melempar batu-batu kerikil tajam banyaknya lebih dari satu menyebabkan jendela kaca pecah hampir mengenai kepala salah satu dari satpam itu.

__ADS_1


Mengawasi dari ruang cctv, ada pria yang berpakaian serba hitam berjalan mengendap melakukan aksinya.


Perdebeatan antar Gharda dan beberapa petinggi tidak membuahkan kesimpulan, lawan bisnis bisa saja, tapi untung siapa pelakunya mungkin susah dicari mengingat Gharda selama ini tidak pernah bersaing kasar pada lawannya.


Bersandar pada kursi memijat pelipisnya, banyak praduga di dalam kepalanya saat ini. Rivzal muncul dari pintu membawa setumpuk berkas meletakkan di atas meja, berdecak sebal pekerjaanya banyak sekali.


"Ini semua file dan surat-surat penting selama kepemimpinan Tuan Alfonso, sesuai dengan langkah awal yang kita rencanakan."


"Hah." Mau tidak mau Ghaeda wajib mempelajari hal yang merepotkan ini demi menggalih motif dan dasar apa yang sebenarnya terjadi pada masa lalu orang tuanya.


Rivzal tentu ikut membantu, Astrid yang menguasai kantor hari ini.


Salah satu file berwarna kuning keemasan, ini adalah map khusus buatan perusahaannyanya. Berisikan semua data-data tentang awal berdirinya perusahasn dan siapa-siapa yang terlibat membantu, selanjutnya adalah mencari file tentang orang-orang ini.


Satu per satu mulai terkukak.


Ini adalah sertifikat resmi berdirinya perusahaan, bertandatangan atas nama ayahnya sendiri, dan ada beberapa lembar piagam penghargaan prestasi Tuam Alfonso yang mampu dengan kecerdasannya di usia muda sudah menguasai dan mengambil perhatian beberapa kolega bisnis bekerja sama menanam investasi.


Rivzal mode sahabat meledek Gharda yang belum apa-apanya dibanding sang ayah, melotot Gharda memukul bingkai kliping ke atas punggung Rivzal.

__ADS_1


Dengan sedikit bercanda mengurangi rasa lelah mereka.


Gharda sudah mengasingkan beberapa map yang akan dibawa pulang, menyimpannya di dalam satu tas.


"Ada satu berkas yang tidak ada di sini."


"Apa?" Rivzal menyahut masih sibuk membolak-balikkan berkas.


"Surat tanah asli gedung ini. Saya jadi curiga, pasti ada sesustu yang terjadi saat pembangunan gedung ini. Belum lagi berkas atas nama Nihck, sketaris ayah saya. Nama itu tidak pernah disebut-sebut para pejabat lama, kita baru tahu ada nama itu setelah membaca berkas ini."


"Tunggu sebentar, saya akan panggilkan Pak Dudy dulu." Tanpa menunggu lama Rivzal sudah kembali bersama Dudy, dia adalah pegawai yang paling lama mengabdi dan tercatat sempat menjadi manager masa kepemimpinan ayahnya.


"Ka-kalian mau mencaritahu siapa Nihck itu?" Ekspresi gemetar Dudy semakin membuat penasaran. "Dia sudah mati, dan Tuan Alfonso menghapus semua namanya di sini. Mungkin itu hanya catatan riwayat tertinggal saja, tapi kalau catatan tentang masa kinerja, semua sudah dibakar. Entah siapa yang membunuh dia, yang jelas kami dilarang menyebut nama itu selama bekerja di sini."


"Meninggal karena apa?"


"Say-saya waktu itu hanya sebagai pegawai biasa, bukan akses saya mencari tahu hal itu. Berita yang beredar dia mati bersimbah darah di rumahnya. Bahkan kasusnya cepat sekali dututup pihak kepolisian."


Baru saja Gharda hendak berbicara, deringan ponsel mengalihkan perhatian. Nomor tidak dikenal.

__ADS_1


"Apaa! Mamah saya kecelakaan!"


👇👇👇


__ADS_2