
Semenjak Nurma dan Tiffany memperbwiki hubungan yang renggang selama ini, kesehatan Nurma semakin membaik, tidak memikirkan putrinya terus-menerus kini lebih fokus memperhatikan Tiffany sudah mau saling membuka hati dan menganggapnya sebagai putri kandungnya sendiri. Nurma sangat bahagia saat ini, senyuman itu merekah lagi setelah sekian lama menghilang.
Wanita paru baya itu bahkan mengubah penampilannya yang buruk, pergi ke salon yang tetjangkau saja. Membuang dan membakar semua barang bekas peninggalan bayinya, semua hal yang menyimpan kenangan putrinya dibuang. Saling berpelukan merelakan putrinya yang entah dimana, biarlah kehadiran Tiffany saja selama-lamanya.
Danu tidak bisa membohongi perasaanya, ia terharu jika seperti keadaanya, baik Tiffany dan istrinya kompak. Mengalah saja mendelati terlebih dulu dan hasilnya kini ketiganya sudah berbaikan layaknya keluarga.
Tapi itu hanya Nurma dan Tiffany, Danu masih menyimpan sesutu perasaan yang mengganjal entah apa sulit dijelaskan. Dendam kakaknya alias orang tua Tiffany yang sampai mengakar detik ini, bagaimana pun ia tidak melupakan betapa kejinya pasangan itu menghianati menjual bayinya pada Bram, padahal ia sudah mati-matian menyembunyikan bayinya dari kejaran Bram, tetapi pasangan itu justru memberitahukan keberadaannya dan dibayar menukarnya dengan uang.
Meskipun pasangan itu akhirnya meninggal sia-sia karena keserahakan mereka juga, pergi liburan ke luar negeri dengan uang itu tanpa membawa Tiffany bayi. Pasangan itu kecelakaan tragis di dalam bus bersama warga di sana, dengan sisa uang direkening itu Danu menggunakannya untuk mencari dan menguburkan dengan layak di pemakan keluarga.
Jika Nurma bisa melupakannya, Danu tidak, dendam tapi ia pun tidak sudah kehabisan energi untuk membalasnya.
Kehidupan keluarga ini sudah tenang meskipun hartanya sudah habis, Danu nekat tidak menyelesaikan masa sisa jabatan pengunduran dirinya, lebih baik mencari pekerjaan lain dari pada ditekan terus di dalam sana. Memboyong keluarga kecilnya pindah ke luar kota mengontrak ruko usaha warung 'sampah' dari tabungan dan Nurma menjual perhiasannya. Tiffany dan Nurma menjaga warumg sekalian ada usaha menjahit oleh Nurma, Danu sedang mencari pekerjaan baru. Hidup apa adanya ternyata tidak buruk juga.
Oh iya, Danu dan Tiffany sudah tidak pernah mengusik Gharda dan mencari Allendra..Biarlah semua seperti ini.
Berangkat untuk mencari lowongan kerja sesuai alamat-alamat yang dicarinya melalui internet, berpakaian rapih menaiki transportadi umum, Danu ragu diterima mengingat usianya yang sudah tidak muda lagi.
Tiiinn!!
Danu terperanjak kaget mobil di belakangnya membunyikan klakson tepat mengenai gendang telinganya, hendak mengumpat tidak jadi mobil berhenti tepat di depannya. Keningnya berkerut siapa yang mengenalinya di kota ini?
__ADS_1
"Danu!!"
Kaca pintu mobil turun tampak Duddy yang menyapa lalu turun menghampirinya, ingin menghindar lari kalah cepat dari Duddy.
"Saya ingin berbicara serius padamu, ikut saya!"
Makan siang dulu Duddy dengan ramah menciptakan suasana nyaman, Danu makan dengan lahap lapar sekali tenaganya habis berjalan di terik matahari menyusuri jalanan besar.
"Kembalilah bersama kami untuk melawan Bram."
"Saya sudah kehilangan putri saya karena ikut campur bersama Alfonso, istri saya sakit-sakitan, adik saya mengianati saya. Banyak hal yang sia-sia karena aku ikut kalian."
Inilah yang menjadikan Danu trauma jangan sampai menganggu keberadaan Bram, sebenarnya jabatannya tidak naik pun itu Bram yang membuatnya dari belakang layar.
Tangganya gemetar sepanjang vidio diputar, dadanya sesak, jantungnya berdegup kencang, mulutnya bungkam.
"Dia Afrinda Sinatrani, putri dari Bram. Kau perhatikan wajahnya baik-baik-"
"Di-dia mir-ip istriku."
Duddy menyerahkan salinan biodata Afrinda berbentuk map, lagi Danu membacanya.
__ADS_1
"Tanghal lahir Afrinda sama dengan tanggal lahir kematian putrimu."
"Maksudmu apa sebenarnya, hah?" Dia tidak mau dipermainkan.
"Ini bukti terakhir. Saya dengan lancang membongkar makam putrimu karena kau pindah dan alamat barumu susah dicari, jadi kami terpaksa membongkarnya tanpa izinmu."
"Lancang sekali kau!"
"Jangan marah-marah terus. Cepat tonton vidio pembongkarannya, tidak ada yang diedit dan diskip, semua isinya utuh dari awal sampai akhir."
Makamnya kosong, tidak ada tulang sama sekali. Vidio selanjutnya adalah pengecekan lab tanah, Duddy menyerahkan hasil lab dan foto-foto terkait. Tidak ada unsur hasil komposisi gemburan tubuh manusia, ini tanah murni layaknya seperti tanah kosong yang ditanami kayu peti.
"Sebenarnya Dokter Egwin telah mengirim sesuatu pada kalian, coba tanyakan pada Tiffany, karena dia yang menerima paket itu. Saya yakin, keponakan kalian itu tidak memberitahukannya apa pun soal itu."
"Paket apa itu?"
"Mantan menantumu pernah mengirimkan surat melalui kurir di alamat lamamu, ternyata kalian sudah berangkat duluan, tinggal Tiffany yang menyusul. Betul?"
"Iya, Tiffany memang waktu itu berangkatnya terakhir karena membereskan barang lainnya. Dan-" Tiba-tiba ia teringat dengan sikap Tiffany yang gelagapan saat Danu memergokinya sedang terburu-buru menyimpan amlop coklat ke laci lemarinya, katanya itu hanya berkas yang tidak penting.
"Ada apa?" Duddy penasaran, wajah Danu tampak gusar.
__ADS_1
👇👇👇