Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Bunga Yang Terbuang


__ADS_3

Tidak ada yang baik-baik saja setelah rencana Tiffany berjalan, justru semakin rumit belum lagi Gharda tetap enggan untuk bertemu dengannya. Perantara Rivzal menyampaikan pesan Tiffany tidak bisa.


Shandi sudah berbaik hati memaafkan, wanita itu bersedia lagi menjadi managernya.


Tiffany kembali mendapatkan tawaran syuting filim menjadi posisi pemeran utama tidak lepas dari efek viral pemberitaanya, beradu akting dengan senior adalah impiannya sejak menguasai dunia akting. Jika boleh bilang, rencana licik Tiffany berdampak ke hal yang lain, bukan langsung ke tujuan utamanya. Dalam lubuk hatinya ia menyadari akan hal itu, salah satu impiannya terwujud.


Sudah berkali-kali membaca ulang naskah untuk alur perannya, nyatanya sampai saat ini tidak berhasil menyerap di kepalanya. Biasanya ia mudah-mudah saja menjalani tahap persiapan naskah, kali ini rasanya sangat sulit sampai menimbulkan rasa nyeri di bagian pelipisnya.


"Waktumu tidak banyak untuk hanya mempelajari naskah itu terus, tiga minggu lagi jadwal syuting dilaksanakan." Shandi menyodorkan segelas coklat hangat meletakkanya di hadapan Tiffany, mengambil kursi duduk di samping Tiffany membereskan lembaran naskah yang sudah berantakan.


"Gharda selalu menguassi pikiranku. Aagrrrhhh!" erangnya frustasi menelungkupkan wajahnya. "Aku sudah menyuruh Sofia untuk memulihkan nama baik Afrinda di sekolah, itu yang dimau Gharda. Tapi sampai sekarang kami tidak baikan juga."


Shandi tersenyum kecil menanggapi curhatan temannya, jelas saja ia harus memastikan praduganya selama ini. Sudah lebih dari empat hari Gharda dan Tiffany tidak saling bertukar kabar lagi, reaksi Tiffany sudah sangat jauh berbeda, padahal dari dulu juga kalaupun mereka sedang bertengkar semingguan pun tidak lantas membuat semangat hidup Tiffany memudar.


"Tiffany."


"Hum."


"Dengarkan aku, ada satu hal yang harus kau perbaiki dari hubunganmu. Kenapa kau tidak membujuk Gharda supaya kalian baikan? Selama ini Gharda selalu melakukan cara apa pun untuk membuatmu tidak marah lagi, makanya hubungan kalian tetap berjalan. Sekarang giliranmu membalas hal yang sama, bujuk dia dengan cara yang kau tahu saja, kali ini lawan egoismu."

__ADS_1


Tiffany terenyuh dengan ungkapan Shandi seraya menatap serius. Apa yang dikatakannya adalah satu tamparan untuknya, sekarang baru menyadarinya. Alasan apa saja Tiffany bisa tiba-tiba merajuk cari perhatian pada Gharda, Gharda dengan cinta butanya mampu menurunkan gengisinya untuk membujuk kekasihnya dengan uang sekalipun ia rela mengeluarkannya tanpa pikir panjang, dan sudah beberapa kali Tiffany dengan sengaja untuk memanfaatkan Gharda dengan uang itu. Tiffany tersenyum sumringah, Gharda tersenyum bodoh.


"Kau mau?"


"A-aku tidak tahu harus melakukan apa."


"Asal kau bersedia, aku siap membantumu."


Tiffany menimbang-nimbang sejenak, kali ini ia sendiri yang turun tangan untuk melaksanakan urusan hati.


Saat ini Gharda sedang ada rapat penting dan melanjutkan makan siang bersama rekan bisnisnya, menarik napas lega dengan kesepakatan yang memuaskan kedua belah pihak. Menelepon rumah berdering Bibi Ema yang menyahut memanggil Jelita, mengingatkan sudah makan siang atau belum, jawaban dari Jelita membuat hatinya menghangat.


Makan siang berakhir sudah sampai di tempat masing-masing, Gharda melonggarkan dasinya untuk melanjutkan pekerjaanya lagi. Sketsris Wanda mengetuk pintunya masuk berjalan ke arah meja kerjanya membawa buket bunga keningnya berkerut.


"Dari Nona Tiffany." Sketaris Wanda langsung memberitahu asal bunga yang masih dipegangnya sekarang ini.


"Kenapa kau terima?"


"Ta-tadi Nona Tiffany memaksaku untuk memberikan bunga itu pada Anda."

__ADS_1


"Buang saja."


"Ta-tap-"


"Kau lebih mendengar Tiffany dari pada saya bossmu?"


Sketaris Wanda menunduk takut.


"Yang saya inginkan barang yang saya minta sudah kau ambil? Bukan bunga tidak penting itu."


"Su-sudah ada, Tuan. Saya akan ambilkan."


Wanita ini berlalu meletakkan sembarang di atas meja kerjanya tergesa membawa bungkusan plastik masuk ke dalam ruangan Gharda.


Isi plastiknya adalah baju kotor Afrinda untuk dipakaikan pada Jelita saat tidur nanti, bukan hanya satu helai, tapi dua. Satu untuk Jelita satu untuknya. Ahk, dirinya sudah merindukan wanita itu juga dan konyol mengikuti diam-diam cara Jelita juga. Memaksa Astrid melalui Rivzal.


Sketaris Wanda keluar dengan wajah datarnya, segera menghubungi seseorang untuk melaporkan kejadian ini.


👇👇👇

__ADS_1


__ADS_2