Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Hilang


__ADS_3

Besok pagi pernikahannya, kabar dari kedua pihak keluarganya belum ada yang meng-konfifmasi kedatangan mereka. Pemberitaan miring gunjang-ganjing memenuhi layar media memberikan statmen negatif pada keluarga Bram yang belum memberikan klarifikasi.


Gharda sedang berkumpul bersama Egwin dan Rivzal berbincang santai di ruang kerja, mengeluh resah apakah Bram akan muncul tiba-tiba atau tidak.


Ny.Syeni dan team wanita lainnya sedang berbincang bersama diruang tamu sambil memperhatikan Jelita dan Allendra bermain, memberikan nasehat manis pada Afrinda untuk besok. Afrinda sangat bersyukur bisa dipertemukan orang baik di sekitarnya.


Persiapan demi persiapan sudah dilakukan sebagus mungkin, gaun pengantin sudah diantarkan ke ruang tata rias, para penjaga sudah siaga mengawasi tempat dan pemantauan cctv.


Tepat pukul 20:00 anggota keluarga berangkat menuju gedung penginapan yang lokasinya tidak jauh dari rumah mengenderai mobil Afrinda dan Gharda dipisah sengaja, Gharda memberontak tatapan mamahnya membuatnya tidak bisa berkutik, muka masam terpaksa naik satu mobil Egwin.


Anak-anak rewel ingin satu mobil dengan Afrinda, Ny.Syeni menuju ke arah lain untuk memastikan catering, Astrid dan Ticha beda mobil karena membawa peralatan aksesoris gaun serta pakaian semua yang berangkat malam ini.


"Loh, kemana Mang Leo?" tanya Ny.Syeni kepada supir yang datang melapor menggantikan Mang Leo.


"Tiba-tiba kepalanya pusing, Nyonya."


"Kau bisa dipercaya membawa calon menantuku dengan selamat sampai tujuan? Kau masih supir pelayan baru di sini, jujur saya belum percaya padamu," ungkap Ny.Syeni meragu. Pasalnya pria yang bernama Rinto ini baru bekerja sebagai supir antar-jemput pelayan masih dua mingguan.


Rinto mengangguk siap dan meyakinkan.

__ADS_1


"Ya sydah, kalian hati-hati. Mamah nanti menyusul, pihak catering mengatakan konsumsi untuk besok bermasalah. Tapi jangan cemas, mamah bisa mengatasinya."


"Aku percaya mamah," Gharda tersenyum yakin.


Katanya sapi yang akan dikelola untuk daging besok mati keracunan, mencari gantinya atau bagaimana nanti cara mengatasinya. Gharda mengesah panjang pernikahan tinggal beberapa jam lagi.


Tersenyum lembut ke arah Afrinda, baru melangkah sedikit ingin mesra-mesraan, Jelita dengan sok dewasanya menghalangi ayahnya. Semua terpingkal lucu.


Mereka melupakan Susan.


Mobil yang dikendarai Afrinda berjalan disusul mobil Egwin, ditengah perjalanan mobil Egwin tiba-tiba mogok terpaksa berhenti. Tidak mungkin menunggu lama, Jelita dan Allen sudah menguap, Gharda mempersilakan Afrinda jalan duluan.


"Kalian cepat nyusul, ya."


Afrinda ditengah diapit kedua bocah ini bersandar mulai mengantuk, tidak banyak berbincang dengan Rinto belum saling kenal juga ia masih canggung. Suasana perjalanan cukup lengang, tanpa ada macet sedikit pun.


Aroma mobil ini jadi membuatnya mengantuk ya, menguap lebar ia pun ikut bersandar tertidur pulas cepat sekali hilang kesadarannya. Kedua bocah itu sudah lebih dulu tertidur.


Anak buah Gharda datang membawa mobil lain, hampir dua puluh menit menunggu. Egwin menyetir.

__ADS_1


"Aku hubungi Afrinda dulu, siapa tahu sudah sampai." Gharda membuka ponselnya, nomor Afrinda mati, sampai panggilan ketiga masih sama saja.


"Siapa tahu sudah tidur di kamarnya," Egwin berpikir positif.


Mereka sudah sampai memarkirkan mobil dengan sempurna, cepat-cepat Gharda menuju lift naik ke lantai kamar Afrinda.


"Loh, kalian datang cuma bertiga, mana Afrinda dan anak-anak?" Astrid bingung.


"Afrinda belum sampai kesini?" Gharda bertanya balik.


"Belum," Astrid mulai panik.


"Afrinda." Kembali nomornya tidak aktif.


Panggilan dari Mang Leo dari ponsel Rivzal, "Halo, Mang?"


Mang Leo tiba-tiba mengantuk berat setelah kopi yang ditawarkan Rinto habis diminumnya, mengatakan ada kecurigaan di balik semua ini.


"Siall!" raung Gharda cemas.

__ADS_1


Egwin menahan diri putrinya juga bersama Afrinda, jangan ikut panik otaknya fokus menyetir lagi memikirkan tindakan apa untuk pemcarian Afrinda.


👇👇👇


__ADS_2