Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Tidak Dikenali


__ADS_3

Kenangan yang kini menyiksanya atas perbuatan jahatnya kepada orang-orang yang sempat memberi hati mempedulikannya, tak terkecuali Shandi, Egwin, Allen, dan Ardan. Semua itu memutuskan hubungan dengannya, Shandi dan Ardan kabarnya entah dimana sekarang.


Tiffany mengesah napas panjang.


Danu dan Nurma masih belum ada tanda-tabda berbaikan, sepasang suami istri terus bersitatap dingin saat berpapasan di rumah sekali pun. Danu masih membentak akibat namanya tercoreng bagaimana pun dirinya juga ikut terlibat dalam skenario kebohongan ini, pekerjaan yang mandet membuat keuangan semakin menipis.


Danu sering urung-uringan biaya hidup terus keluar padahal kariernya diambang kehancuran, beberapa relasi dan kolega memutuskan menolak membantunya. Dia hanya anggota DPR biasa yang tidak punya harta apa pun berpikir korupsi saja tidak akan dilakukan, atasan yang sering bermain licik Danu hanyalah kacung tidak mau mengikuti arus seperti itu, jadilah dirinya sekarang hanya sebagai anggota termiskin di kalangannya, kejujurannya tidak berbuah manis?!. Alasannya mau mengikuti rencana Tiffany karena ingin merebut hak yang dijanjikan Alfonso sewaktu masih hidup, dulu memang ia menolak mentah kesempatan yang ditawarkan temannya itu demi bertahan di dalam kepemirintahan beranggapan bahwa perusahasn yang didirikan Alfonso pasti tidak akan berdiri lama dan proses yang sangat panjang. Namun melihat bagaimana perusahaan itu tetap berjaya di tanngan Gharda, memvlbuatnya iri bisa dibilang dirinya menyimpan dendam dan menyesali keputusannya.


"Mah."


Nurma terkaget suaminya memanggil, dia tidak marah lagi kah?" "Iya," sahutnya dari meja riasnya.


"Ajak Tiffany cari kerja hari ini, pakai mobil papah saja."


"Cari kerja?"


"Iya. Bulan depan aku resmi masa memgundurkan dori dari kepemerintahan, dari mana kita dapat uang kalau dia tidak kerja."


Apa yang dikatakan suaminya benar, hanya Tiffanylah harapan mereka satu-satunya. Mengangguk melangkah pelan-pelan, semenjak dekat dengan Tiffany kesehatannya semakin membaik, lihat ia tidak harus dipapah lagi saat berjalan, keseimbangan tubuhnya mulai bisa dikendalikan.


"Nak, boleh tante bicara sesuatu."


Tiffany menuntun duduk tantenya di atas kasurnya, "Ada apa, Tante."


"Om-mu meminta kamu cari pekerjaan hari ini, bulan depan sudah resmi keluar dari jabatannya." Wajahnya tidak enak, di luar dugaan Tiffany mengangguk dan mulai bergegas mengumpulkan berkasnya.

__ADS_1


Tantenya tidak jadi ikut, mana ia tega. Menghembuskan napas panjang, sekarang ia kembali ke bawah lagi. Mencari pekerjaan bukan perkara mudah di zaman sekarang ini, apa lagi ia mantan model yang sudah rusak namanya, pasti sulit melamar pekerjaan mengingat rekam jejaknya yang tersebar luas di internet. Memukul setir kemudi mengacak rambutnya frustasi, ia bingung harus memulai dari mana.


Membuka mencari lowomgan melalui ponsel barunya, ada beberapa perusahaan yang membuka lowongan. Ternyata jam makan siang, melihat-lihat warteg tempat makan dululah.


Dengan penampilan terbarunya tidak ada yang mengenalinya, memesan makanan menu yang terjangkau. Membayarnya kemudian keluar dari warteg bernapas lega dia aman, tidak jauh dari tempat ini ada taman di sana. Duduk memandangi sekitaran area taman yang rindang dan sejuk, pengunjung tidak ramai membuatnya tidak usah khawatir.


Menenagkan stresnya menikmati semilir angin menggdanya hampir tertidur.


"Miss, tamannya sejuk sekali!"


DEG. Suara itu, kesadarannya sempurna matanya terbuka lebar.


Allen bergandengan dengan Jelita dan Jheve, dari belakang Miss Ticha menyusul rempong membawa tas besar.


Pemandangan itu persis di depan Tiffany berjarak beberapa meter saja, mulutnya ternganga ada yang hancur di bagian hatinya. Sekuat mungkin tetap bertahan duduk, "Allen putriku."


Egwin dan Ticha tampak cekatan melayani anak-anak bekal makan siang, celotehan ala anak-anak membuat suasana semakin ceria. Topik pembicaraan yang terdengar abstrud di telinga orang dewasa, tetapi bisa nyambung bagi mereka anak-anak. Menggemaskan sekali, Ticha sedari tadi tidak berhenti tertawa ngakak justru ikut-ikutan menimpali pembicaraan ketiganya.


Dari jauh Tiffany bisa menangkap cara pandang Egwin pada wanita yang disampingnya itu, "Apa aku sudah hilang dari hatimu?"


"Yaa, bolanya jauh menggelinding itu." Jheve cemberut.


"Maaf ya, Jhev. Aku kejauhan melemparnya," sesal Allendra.


"Tidak apa, aku ambil dulu ya." Belum selangkah maju, Egwin memanggilnya.

__ADS_1


"Siapa tadi yang melempar bolanya?" Egwim bertanya lembut namun tatapannya serius.


"Aku, pah." Allen mengaku.


"Itu artinya Allen harus bertanggung jawab atas kesalahannya, bukan Jheve yang mengambil ke sana. Sekarang, Allen jalannya jangan lari-lari ya, ambil bolanya ke arah aunty yang duduk itu."


Allen tersenyum lebar mendengar panuturan papahnya, "Baik papah!"


Allen berjalan ke arahnya, bola ini!


Semakin dekat jantungnya berdegup, apa yang harus dilakukan?


"Itu bolanya!" seru Allen asik berjalan.


Tindakan iinflusif Tiffany berjongkon mengambil bola, jantungnya tidak karu-karuan aroma tubuh Allen dan senyuman manis itu.


Bolehkah waktu berhenti sebentsr saja, ia merindukan Allendra yang sekarang sudah berjongkok menatap imut ke arahnya.


"Aunty, makasih bantuin Allen ngambil bolanya ya."


DEG.


Allendra tidak mengenalinya.


👇👇👇

__ADS_1


__ADS_2