
Memastikan riasannya sudah sempurna atau belum menarik napasnya panjang Ny.Syeni keluar menemui putranya yang juga sudah berpakaian memakai jas demgan gagahnya, tersenyum kecut wajah masam Gharda benar-benar menampar ke dalam hatinya sudah melakukan kesalahan.
Penjagaan ketat dikawal beberapa anak buah dari pihak Danu, dokumentasi resmi dari pihak Danu, CCTV menyala di setiap sudut ruangan, bahkan semua pelayanan makanan seluruh persiapan dikawal.Danu agar Gharda tidak berani bertindak macam-macam untuk pertunangan ini.
"Gharda, ini cincin kalian nanti." Menyerahkan kotak beludru berwarna biru tua menyerahkan pada putranya, Gharda menerima dengan masam menyimpan ke dalam saku jas.
Merangkul tubuh tinggi putranya menuruni tangga sudah ada beberapa tamu yang diundang hanya ada satu pihak wartawan resmi dan kameramen, memandangi dekorasi yamg dirasa cukup berlebihan padahal hanya pertunangan biasa saja, tapi jika tidak semewah ini nanti dirinya dikatai pelit.
"Mana Tiffany?" Celingak-celinguk keberadaan Tiffany tidak ada di ruangan.
"Mungkin masih di kamarnya." Ny.Syeni menerka.
"Mamah susul saja dia, lama sekali."
Menurut melangkah ke arah kamar Tiffany yang diberitahu salah satu pelayan padanya, baru saja ingin membuka pintu, tangannya terhenti di udara panggilan dari arah belakangnya balik badan pertemuan dua wanita yang sangat mengejutkan.
"Nu-nurma," bibir Ny.Syeni bergetar melihat perubahan drastis pada tubuh teman lamanya ini.
Nurma tersenyum sinis dipapah perawat ia menghampiri Syeni. "Apa kabar kamu? Jangan terkejut begitu, inilah kondisiku setslah aku kehilangan putrimu karena imbas ajakan suamimu."
Kalimat sindiran Nurma tidak mampu dia balas, memang ada benarnya ada juga salahnya, tapi ya sudahlah. Menegarkan hati memandang perasan biasa saja pada teman lamanya ini.
"Dimana keponakanmu?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Bergeselah dari pintu, biar aku yang menemuinya. Dia dalam kamar, rasanya kau tidak pantas memasuki kamar orang lain." Nurma menyenggol lengan Ny.Syeni.
Di dalam kamarnya Tiffany sudah selesai melakukan ritual persiapan, penata rias sudah keluar dia menggeleng saat diajak ikut keluar.
__ADS_1
"Imel!"
Tiffany tidak menjawab.
"Tiffany!"
Setelah nama itu dipanggil baru ia sudi menoleh, tantenya datang.
"Ayok turun, waktunya hampir tiba."
Tanpa dampingan Danu yang notabenenya adalah pengganti ayah, dengan langkah tenang Tiffany berjalan anggun berdiri di samping Gharda, sementara Danu hanya duduk santai menikmati acara ini.
"Apa sudah bisa dimulai?" Sejujurnya pemuka agama sudah menggerutu acaranya diundur satu jam menunggu si wanita agar bersiap dulu perintah dari wakil si wanita itu.
Membuka lembaran kertas membaca isi iklar perjanjian yang harus diucapkan, Tiffany nampak gugup tidak pernah mencati tahu tahapan dalam pesta pertunangan.
Gharda tersenyum miring memperhatikan gelagat Tiffany, "Kau tidak sakit'kan? Jangan berakting. Kalau kau tidak berhasil membaca ini, pertunangan kita tidak sah." Gharda berbisik mengancam.
"Maaf, Pak. Keponakan saya sepertinya tidak konsentrasi membaca iklar perjanjiannya, namanya juga masih sakit belum pulih betul. Apa tidak ada cara lain lagi? Langsung saja bertukar cincin."
Pemuka agam pria tua itu membuka kaca matanya pusing menghadapi keluarga ini banyak sekali permintaanya, "Baiklah. Hanya membaca saja terlihat sangat sulit," bapak pemuka agama itu berdecak kesal.
Gharda membaca iklar dengan suara yang loyo tanpa memperhatikan tanda baca, mana ia peduli.
Disampingnya Tiffany menyembunyikan senyum wajahnya.
Membuka kotak tempat cincin dengan gestur tidak senang, Gharda terburu-buru sampai cincin itu terjatuh ke arah mana?
__ADS_1
"Saya cari dulu." Gharda mencari cincinya, itu dia. Mengambilnya melemparkan lagi ke sembarang arah kemudian berpura-pura mencari. Sudah i5 menit tidak ketemu, beberapa orang ikut mencari memakan waktu setengah jam.
Waktu mundur lagi beristirahat dulu tamu yang hadir kasak-kusus saling berbisik, Tiffany duduk di samping Nurma dengan anggun. Danu menawarkannya minum dulu memanggil salah satu pelayan catering agar membawa minuman kesukaan Tiffany.
Salah seorang pelayan pria mengangguk berlalu ke arah dapur membuat minuman ke dalam gelas, berpapasan dengan Gharda masih berpura mencari cincin sempat bermain kontak mata sebentar.
"Awwww!"
Si pelayan sengaja menjegal kakinya tumpah mengenai pakaian Tiffany minuman itu mengotori hampir seluruh pakaian bagian depan basah, gelas tepat terjatuh di atas paha pangkuan Tiffany.
"Kau! Dasar pelayan, aahkk!"
Tanpa sadar Tiffany berdiri menghindar berteriak membentak si pelayan, adegan itu menjadi pusat perhatian semua orang.
"Hah? Dia bisa bicara!"
"Dia bisa cepat menyingkir dan membentak Enno."
"Tiffany kau-"
Membeku di tempat, kenapa ia tidak bisa menahan emosi!
"Kau berpura-pura selama ini?" Gharda meletakkan cincin yang sudah ditemukan di atas meja.
Pertunangan gagal Gharda merasa dibohongi dan kecewa, pergi begitu saja meninggalkan rumah Tiffany.
"Ahhhkk!! Keluar kalian semua!" Andai dia bisa lebih mengendalikan kemarahannya, pasti semua ini tidak terbongkar.
__ADS_1
Di dalam mobil tersenyum enteng, tidak segampang itu menipunya. Gharda sangat bersyukur rencananya berhasil, ide muncul ketika waktu sudah mendesaknya, menggunakan kesempatan dalam waktu yang sesempit ini.
👇👇👇