
Menciptakan kenangan di hari-hari terakhir mengajar disiubukan dengan penyelesaian pekerjaan dan membuat acara untuk anak-anak terutama di ruang kelsdnya barulah besoknya berkumpul di aula sekolah, mempersiapkan yang direncanakan menyimpan beberapa file foto dan rekaman yang dibuatnya koleksi dalam laktopnya. Sejauh ini hanya Ticha dan Kepala sekolah yang mengetahui, pihak lain masih berlaku seperti biasa saja.
Kesepakatan hari ini anak-anak makan bekal di ruang kelas dan mengabsen satu per satu menu gang dibawa mengabadikan dalam sebuah vidio, semua murid tidak berpikir ini adalah bagian dari sebuah perpisahan, menerima saja berpikiran sebuah kesenangan yang ditugaskan oleh miss.
"Aura bawa roti bakar isi keju ada tiga ini, terus susu sroberi!" Aura tersenyum kegirangan menjelaskan isi bekalnya.
"Kalo Jheve bawa mie goreng saja," Jheve sedih, usapan belain Afrinda membuat senyum lelaki mungil itu mengembang. Jelita dan Allen dengan tulus berbagi bekal.
"Chiko hati-hati kalau makan jangan terburu-buru." Afrinda menghampiri yang bernama Chiko.
"Rion dari tadi mau merebut makanaku, Miss," adu Chiko.
"Miss baiikk, Ouji susah makannya, durinya banyak. Huaa!" Ouji si pria cebgeng datang merebut perhatian Miss Frind dengan isi bekal berantakan ikan hancur. Dengan telaten memisahkan bagian duri dari ikan.
Chiko dan Rion berdecih meledek, Ouji semakin menangis.
"Iiuhhh, Ashel!! Kau kotor sekali muntahmu bau!!" Aura berpindah meja bergabung bersama Allen dan geng.
Tidak ada kata emosi, dengan sabar Afrinda membersihkan bekas muntahan Ashel.
__ADS_1
"Sudah selesai makan semuanya! Sekarang kita berfoto bersama ya."
"Baik Miss!"
Maju ke depan membuat gaya masing-masing menjadi beberapa potret yang akan dibingkai indah dalam hidupnya. Hal inilah yang paling susah untuk dilupakan selama menjadi guru TK, semua teriakan dan tingkah laku mereka akan sangat dia rindukan, mengajarkannya arti kesabaran dalam menghadapi sesuatu kesulitan maupun bekal masa depan saat ia menjadi seorang ibu. Hampir saja ujubg matanya mrengembun, segera menghapusnya menguatkan hati.
"Sebelum kita ke ruang playground, miss mau kasih tugas lohh. Coba kalian ceritakan tentang Miss, apa yang kalian suka dan apa yang tidak suka dari Miss, buat dalam bentuk vidio nanti dikirim melalui grup, untuk lebih jelasnya sudah ibu tulis di buku tugas masing-masing nanti berikan pada orang tua." Terang Afrinda.
"Miss Ticha juga?" Jheve bertanya.
"Untuk minggu ini untuk Miss Frind, minggu depan untuk Miss Ticha." jawzb Ticha berbohong.
Bel pulang sekolah semua menghambur ke arah gerbang, Ticha yang piket kebersihan sementara Afrinda beryugas menunggu semua murid kelas sampai pulang.
"Allen ikut?"
"Iya, aku ikut. Kata papah tadi malam, ayahnya Jelly dan papah aku mau jalan-jalan bersama kami ke mall," sambung Allen.
Semoga saja berjalan dengan lancar, ia tidak bisa ikut padahal Jelita dan Allen sangat menginginkannya.
__ADS_1
Jemputan datang bergantian memberi salam pada Afrinda saling melambai dengan wajtu yang cukup lama.
Membereskan meja kerjanya mencicil memasukkan beberapa barang pribadinya ke dalam paper bag kemudian berlanjut ke ruang kepala sekolah membawa sebuah keputusan.
"Su-surat pengunduran diri, Miss?" Ibu Kepala Sekolah membaca terbata tidak percaya ternyata semua ini benar-benar terjadi.
"Lalu bagaimana dengan kelasmu?"
"Jangan khawaatir, Bu. Masih banyak yang lebih dari kemampuanku."
kepala Sekolah menghela napas panjabg sekali lagi memastikan mengulabg membaca surat. "Padahal kau guru yang sangat disukai di sekolah ini," ungkapnya jujur tidak rela. "Maaf atas waktu itu."
"Jangan diingat lagi, Bu, semua sudah berakhir. Izinkan saya untuk membuat acara perpisahan Sabtu ini di aula, Bu."
"Itu pasti. Semoga kau bahagia dengan pilihanmu."
Secepat itulah ia harus melepaskan profesi ini? Rasanya sulit sekali.
"Kau tidak ada rencana membuat perpisahan khusus bersama Tuan Gharda?" Astrid memberikan makan siang jatah Afrinda.
__ADS_1
"Tidak, biarkanlah seperti apa seharusnya. Semoga aku cepat move on agar perasaan ini tidak menyiksaku setiap waktu."
👇👇👇