
Setelah mendapat kabar dari dokter bahwa surat tes DNA sudah bisa diambil ke rumah sakit jam 10 pagi nanti, Gharda masih terdiam memantapkan hatinya. Jelita duduk dibelakang sendirian sementara Tiffany datang dari kantornya duduk manis di samping Gharda.
"Selamat ulang tahun, Jelita," ucap Tiffany menghadap bangku belakang mengulurkan tangannya.
Jelita tidak membalas, ia tertunduk merapatkan badan ke sandaran kursi mobil.
"Jelita," panggil Gharda memperingati menekan suaranya.
Takut tangannya berkeringat, Jelita membalas uluran tangan Tiffany. Tiffany memang tersenyum manis, tapi gemgaman tangannya mengerat Jelita menahan sakit.
Menyembunyikan telapak tangannya yang memerah dalam gaun, Jelita sekuat tenaga menahan isakannya.
"Tiffany, kau sudah siapkan semuanya?"
"Sudah, kita langsung berangkat saja."
Waktu seolah lama berputar bagi Jelita, perjalanan terasa mencekam dengan ke dua orang dewasa yang menatapnya mengancam.
Mengintip ke arah jendela mobil dengan sorot ketakutan, adrenalinnya menguap memikirkan sesuatu, cemas selalu membayangi ingatannya. Tidak ada omanya, Miss Frind, Kakek Mang Leo, Allen, semua orang yang baik padanya tidak ada di sampingnya.
__ADS_1
Baik Gharda dan Tiffany tidak ada yang menyadari, mereka berdua sibuk berbincang di depan.
Sampai di tujuan, Menggandeng Jelita ke sebuah gedung yang sepi. Hanya ada mereka bertiga saja. Tidak ada manis-manisnya perayaan tiup lilin dan potong kue berjalan dengan terpaksa, sudut senyuman di bibir gadis kecil ini pun tidak ada. Rasa kurlenya seperti menelan batu, Tiffany terus menatapnya tajam setiap melakukan perintah Gharda untuk Jelita.
Jam menunjukan pukul 09:30, tergesa Gharda menyelesaikan acaranya, padahal Tiffany masih ingin menikmati tayangan wajah menakukan Jelita yang menurutnya itu salah satu cara mengancam agar menurut dengannya.
"Kau belajar banyak, ya, Tadi Jelita selalu menurut perkataanmu, padahal biasanya selalu ditolak," ungkap Gharda memuji.
Jelita sedikit banyaknya bisa memahami perbincangan mereka, tante menor itu bersandiwara.
Dengan berat hati Tiffany turun dari mobil masuk ke dalam kantornya, Gharda katanya ada urusan tiba-tiba.
Hampir satu jam menunggu ayahnya belum menghampirinya ke tempat dia dimana sekarang duduk, rasa bosan membuat kakinya melangkah perlahan-lahan menjauh memyusuri lorong sepi rumah sakit.
Tidak takut, hanya saja ia merasa asing di tempat ini. Semakin penasaran terus berjalan semakin keliru, sejenak ia lupa dengan ayahnya.
"Itu kotak orang muat masuk ke dalam," gumam Jelita keheranan melihat lift yang di depannya
Tanpa sengaja salah seorang yang mengira Jelita mau ikut ke dalam lift mendorong masuk lalu menekan tombol ke lantai dasar. Merasakan sensai yang baru seperti melayang turun justru membuat Jelita tersenyum kegirangan, tidak menyadari ini bahaya untuknya.
__ADS_1
Mengikuti kakak-kakak yang bersamanya tadi berjalan ke arah luar gedung rumah sakit, celinngak-celingukan kakaknya hilang tidak nampak lagi. Matanya tertarik melihat ada penjual balon di dekat aspal besar, semua sibuk tidak ada yang memperhatikannya. Tanpa tahu bahaya Jelita berlari kecil keluar melewati gerbang utama rumah sakit, matanya berbinar membayangkan balon terbang itu ada dalam pelukannya.
Amplop masih tersegel, sudah setengah jam ia hanya duduk menimbang-nimbang ia membuka atau tidak. Duduk di kursi ruang tunggu, terlalu berkuat dengan surat hasil tes DNA tidak sadar melupakan keberadaan Jelita yang sudah hampir sampai berlari melewati aspal besar.
Perlahan merobek pembuka amplop dan mulai membaca isinya menyeluruh, membaca sampai berulang hasilnya tetap sama. Jantungnya berdegup kencang, kakinya melemas tidak bertenaga.
"Jelita!" pekiknya kencang berlari ke arah lorong kursi tunggu dimana ia meninggalkan Jelita tadi, tidak ada! Baru menyadari bahwa ia telah meninggalkan Jelita terlalu lama dan jarak tempatnya duduk tadi lumayan jauh dari tempat Jelita menunggu.
"Segera persiapkan segalanya, anak ini dalam kondisi tidak stabil!"
"Baik Dokter!"
DEG!
Netranya menangkap itu gaun yang sama dengan yang dipakai Jelita tadi, darah berlumuran darah di atas branlar sedang didorong beberapa perawat yang berpapasan dengannya.
Dunianya terasa berputar, Gharda sudah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya.
👇👇👇
__ADS_1