
Afrinda melepaskan ciumannya belum mahir terasa engap sesak napas terbatuk-batuk, "Kau ganas sekali, ihh!" kesalnya mengatur pernapasannya.
Gharda tertawa lebar mengusap lembut bibir istrinya yang bengkak karena ulahnya, "Ginilah jadinya kalau duda ketemu perawan seperti kamu sayang. Tidak apa, aku sangat bahagia, aku adalah pria pertama yang mengambil ciuman pertamamu, mengajarimu apa itu dunia percintaan, masih hangat-hanganya." Sambil tertawa menggoda istrinya.
Afrinda melempar bantal sofa pada suaminya menyembunyikan wajah merona, "Sudah ciumannya, sekarang mandilah, aku akan siapkan air hangatnya, ya."
"Sekali lagilah!"
"Tidak!"
"Ayolah, hung-" Gharda memanyunkan bibirnya membuat Afrinda merinding geli menutup mulut suaminya dengan tangan.
"Bibirku sudah bengkak begini, nanti makin bengkak, bagaimana? Dilihat orang malu," cerocos Afrinda.
"Siapa? Mamah, beliau pernah muda, makanya aku lahir, pasti sudah pahamlah. Bibi Emma, sama beliau juga pernah muda. Jadi tidak usah malu."
"Perkara ciuman tidak akan selesai kalau berdebat terus-" Menarik tangan suaminya sekuat tenaga mengajak berdiri. "Kamu belum mandi, kita belum makan malam, kalau kamu sakit karena larut mandi, bagaimana? Cepat berdiriii, badanmu berat sek-Aaahkkkkk!! Gharda!!"
__ADS_1
Tiba-tiba Gharda menggendong istrinya seperti menggendong karung goni, "Kamu terlalu banyak mengomel, Sayang."
Tidak tahu malu Gharda membawa tubuh istrinya melewati ruang tamu dan anak tangga, Afrinda menenggelamkan wajahnya antara malu dan takut jatuh memberontak pun percuma.
Bibi Emma kebetulan masih sibuk di dapur tidak sengaja menyaksikan pemandangan ini, tertawa heboh sendiri memotret langsung mengirimkannya pada Syeni.
Tidak berselang lama nomor Syeni melakukan panggilan via aplikasi hijau, dirinya juga berjingkrak senyum sendiri di tempat duduknya.
"Emma, aku tidak akan pulang malam ini ya. Melihat vidio yang kau kirim barusan, pasti sebentar lagi cucuku akan bertambah, kita punya cucu baru!! Oh, tidak sabarnya!" pekiknya heboh sendiri.
Untung saja Bibi Emma tidak me-laudspeaker percakapan ini, mengelus dada suara lengkingan temannya dari ponselnya. "Itu ide bagus, aku juga akan masuk kamar lebih cepat malam ini agar Afrinda tidak merasa segan karena masih ada orang di ruangan utama, siapa tahu saja mereka turun makan malam romantis berduaan di sini. Sudah dulu ya, bersenang-senanglah di sekolah itu menjaga Jelly."
Di dalam kamar utama, akhirnya Gharda mandi juga setelah puas menggoda istrinya. Memilihkan baju suaminya lalu berjalan ke arah cermin.
"Apa ini sudah saatnya ya? Huff, pasti sakit, badannya tinggi besar begitu, badanku mungil begini, apa aku kuat ya kalau aku ditimpa begitu. Terus juga yang tadi pagi keliatannya ukurannya besar sekali, pasti rasanya sakit sekali padaku. Hiiihh!" gumam Afrinda membayangkannya belum juga mulai merinding duluan.
"Nanti ngapain saja ya, aku tidak tahu gaya-gaya yang seperti disarankan Astrid kemarin. Kalau Gharda sudah lebih paham bila merasa tidak puas, apa dia akan marah ya? Aku bahkan takut kalau menonton filim dewasa seperti itu, a-aku terlalu polos atau takut, astaga! Padahal dia suamiku tapi kenapa jadi malu-malu tidak jelas begini? Santai Afrinda, jangan membayangkan yang aneh, tarik nafas, lalu buang, tarik lagi lalu buang. Pakai nalurimu, ingat pakai nalurimu. Huff." Afrinda menarik napasnya mengatur kegugupannya, menelungkupkan wajah dalam telapak tangannya, tersenyum menggeram sendiri.
__ADS_1
Gharda sudah selesai membersihkan badanya sudah lebih segar dan wangi aroma sabun, bingnung melihat istrinya bertingkah aneh di depan cermin hias. Matanya melebar mengetahui apa yang dilamunkan istrinya melangkah mengendap Afrinda tidak menyadari, hap, tanganya melingkar di pinggang istrinya.
"Ahk-Gh-Ghar-Eh, sayang."
Sumpah demi apa pun Afrinda terkejut setengah mati, suaminya ada dibekakang tubuhnya memeluk dari belakang memasang senyuk tampang genitnya, hanya pakai kimono wangi sekali dan apa itu? Ada yang terasa menonjol dari bawah, badannya menegang
Deg.
Deg.
Deg.
Istrinya gugup dan tegang sekali, mencium pucuk kepala Afrinda lembut. "Tenanglah, aku tidak akan menyakitumu. Resapi dan nikmati perlahan, semua akan berjalan semestinya. Izinkan aku mengajarimu malam ini." Memutar badan istrinya saling berhadapan, mengusap wajahnya. "Nikmatilah malam ini, rasa sakitnya hanya sebentar saja dan berganti dengan kenikmatan."
"I-ya," Afrinda menunduk malu.
Gharda mengangkat wajah itu perlahan mengarahkan ciuman menyatu dengan bibir milik istrinya dan terjadilah seterusnya.
__ADS_1
👇👇👇
Aku tidak tahu cara membuat naskah bagian itu ya, maaf.