Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Bahaya 1


__ADS_3

Acara pemberkatan pernikahan sampai dengan makan siang diakhiri salam ucapan dari tamu telah usai, satu per satu tamu mulai meninggalkan gedung dan wajib melewati aturan penjagaan ketat di gerbang.


Astrid tergesa menghampiri salah satu pengawal yang bertugas di gerbang menyakan ciri wanita tamu undangan apakah sudah keluar apa belum, pengawal itu menjawab belum. Perasaannya mulai resah, wanita itu tiba-tiba menghilang saat sadar dipandangi Astrid.


"Strid." Rivzal datang napas ngos-ngosan. "Dia sudah keluar?"


"Belum, Zal. Pengawal lain sudah menelusuri gedung ini tetapi ciri-ciri wanita itu tidak ada, bahkan nama yang kau sebut tidak ada dalam daftar tamu," terang Astrid panik


"Dia pasti sudah mengganti bajunya, aku yakin itu. Yang menjadi pertanyaanya, bagaimana caranya menyusup? Bahkan pegawai restorant sekalipun tetap harus mendaftar namanya untuk masuk."


"Bisa jadi dia datang sebagai pelayan dan berganti baju agar terlihat seperti tamu."


Tentang mati lampu tadi kata pihak gedung sempat ada kesalahan, Rivzal sudah menge-ceknya dan ada uang mencurigakan tetapi hal ini tidak mungkin diperdebatkan pada puhak pengelola gedung.

__ADS_1


"Aku takut saja itu Tiffany, Zal. Dia bisa saja menjadi mata-mata memantau keadaan di pesta lalu memberitahukannya pada orang yang membayarnya. Tapi itu perkiraanku saja."


Rivzal menepuk pundak Astrid lalu tersenyum sekilas, "Bawa Nyonya Syeni beserta anak-anak pulang lebih dulu, selanjutnya biarkan kami yang memgurusnya.


Astrid mengangguk saja, "Semoga kalian pulang dengan keadaan selamat," doanya tulus.


Semua sudah diperkiran lebih dulu, jika di gedung aman saja, bisa saja bahaya itu datang dari luar gedung. Tidak main-main penjagaan selama acara berlangsung. Gharda dan Afrinda sudah berganti baju dan bersih-bersih sebentar, sudah berpakaian santai. Menyiruh anak-anak pulang jangan menginap di sini, tanda bahaya sudah ada terlihat dari cctv jalan yang dikirim melaui ponsel Rivzal.


Afrinda dan Gharda akan pulang naik mobil yang berbeda, tubuh dan plat mobil disengaja harus semirip mungkin agar terlihat meyakinkan. Afrinda akan disetir salah seorang pengawal yang akan berpakaian jas serupa seperti Gharda tadi. Gharda menyetir seorang diri.


"Sayang, kamu yakin? Kamu bisa digantikan oleh orang lain, aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk padamu." Gharda tidak rela.


Afrinda menggeleng pasti, dia tersenyum meyakinkan. "Ghar, aku sudah tekat dengan keputusanku. Aku akan baik-baik saja, percayalah. Bram sekalipun menyekapku dia tidak akan membunuhku- Meraih kedua telapak tangan suaminya menyentuh di kedua pipinya. "Aku dan kamu sama-sama ingin menuntaskan kejahatan Bram, jadi, kita harus saling bekerja sama dan saling mendukung satu sama lain. Kamu rela berkorban nyawa demi menyelamatkan nyawaku dari racun itu dan membuka mataku lebar-lebar membawaku pergi keluar dari keluarga itu. Aku tahu itu mengakibatkan risiko yang besar'kan, aku tidak ingin hanya duduk tenang padahal kalian sudah mati-matian memperjuangkanku. Ghar, aku imgin berkorban jug-"

__ADS_1


"Itu tidak perlu, sayang." Memeluk tubuh istrinya erat. "Aku dan yang lain tulus ingin membantumu keluar dan membuka kebenaran."


"Ini bukan tentang balas budi, niat dan kebenaran yang kamu katakan tadi. Aku juga ingin membuktikan Bram sejahat apa, aku adalah putrinya, kandung atau tidak, yang jelas kehadiranku pasti sangat berpengaruh pada rencana ini. Aku tetap ikut." Afrinda tegas.


Gharda terus memeluk Afrinda mencium keningnya cukup lama, tidak mau berpisah berat rasanya melepas tangan itu.


"Panggil aku sayang dulu, aku ingin mendengarnya sebelum kita berpisah sementara."


"Sa-sayang."


"Sekali lagi, ucapkan dengan benar."


"SAYANG!"

__ADS_1


Mrnarik ke pelukan sekali lagi, "Kembalilah dengan selamat."


👇👇👇


__ADS_2