Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Hampir Saja


__ADS_3

Setelah menghabiskan banyak waktu untuk pemulihan fisiknya, hari ini Jelita kembali bersekolah lagi masih di TK yang sama. Namun ada yang berbeda dari tadi malam wajahnya tampak sedih tidak seceria biasanya, bukan hanya pagi tadi tetapi dari hari selama Afrinda tidak datang ke rumah.


Bibi Ema yang bertugas menunggu sampai sepulang sekolah, Gharda hanya mengantar tergesa mengejar waktu ada hal yang harus dia urus. Menurunkan Jelita membantu memakaikan tas mencium kening agak lama kemudian pamit pergi mobil keluar dari lokasi sekolah.


Tidak berselang waktu lama taksi yang ditumpangi Afrinda juga sudah sampai, ujung mata masih bisa melihat nomor plat mobil Gharda berjalan baru mengantar Jelita.


Sebenarnya merasa gugup, bukan karena pandangan yang masih menatapnya sinis. Apa yang akan dijelaskanya pada murid-murid kalau nanti sampai jadi keluar dari sekolah ini? Sekali lagi ia mengamati tulisan visi dan misi TK Bina Insani memandang satu per satu bentuk lokasi letak ruamgan.


Murid kelasnya belum datang semua, Jelita sudah masuk ke dalam sebelum ia sampai tadi. Mengabaikan guru berbisik-bisik tentangnya duduk mempersiapkN pekerjaanya itu lebih bermakna. Tangannya membuka laci meja merogoh memcari sesuatu seingatnya ia menyimpan di laci ini.


Matanya melirik sekitarnya memasukkan foto itu ke dalam tasnya agar tidak ada yang sampai tahu. Untung saja laci nya tidak bisa dibuka selain kunci miliknya, lega rasanya, jika ketahuan namanya cukup malu. Tidak pernah bercerita pada siapun dirinya diam-diam pernah mencetak foto yang sama dalam ponselnya di hari perayaan ulang tahun kemarin, dirinya cukup lihai menyembunyikan perasaanya pada orang lain.


Sebelum memulai jam pelajaran harus melapor ke ruang kepala sekolah, berpapasan dengan Miss Sofie kakinya hampir terjungkal untung cepat ia memegang tiang menopang keseimbangan badanya. Mengusap dadanya sabar berkali lipat demi kariernya agar tetap baik.


"Ternyata kau cukup pandai mencari backingan untuk menyelamatkan nama baikmu, munafik!"


Tangannya mengepal di balik roknya, perkataan Sofia sangat menganggu telinganya. "Terserah apa pun yang Miss katakatan tentang saya. Yang jelas saya tidak pernah melakukan yang merugikan terhadap orang lain demi kesenangan dirinya sendiri. Permisi!" ucapnya menyindir melewati Sofia yang sudah menatapnya berang.


Apakah benar isu itu benar, Gharda yang membayar untuk membungkam berita ini? Astrid menceritakannya tadi malam tentang chattingannya bersama Ticha.


Ticha memeluk erat tubuhnya saling melepas rindu untuk memgajar kembali, bercerita bagaimana susahnya ia mengendalikan semua murid kelas tanpa kehadirannya.


"Miss Frindd!" Semua murud kelas berseru memanggil kegirangan baru saja muncul di depan pintu mengerumuni memeluk kakinya menghimpit berdesakan.

__ADS_1


Afrinda berjongkok mengusap pucuk kepala anak-anak kesayangannya menahan tangis haru, tak terkecuali Jelita dan Allen sama-sama menangis histeris meluapkan rindu.


Sebagai permintaan maafnya Afrinda membagi-bagikan gantungan kunci kepada seisi ruang kelas dan nanti saat snack akan membagi makanan oleh-oleh.


"Miss, nanti malam ke rumah lagi ya," bujuk Jelita dengan wajah polosnya.


"Tidak bisa sayang."


"Kenapa?"


Mulutnya tercekal jika menjawab jujur, meminta bantuan Ticha mencari alasan lain.


Ticha menahami. "Miss Frind dihukum kepala sekolah karena Miss Frind sudah mengambil libur sesuka hati. Jadi, Miss Frind harus mengerjakan tugas yang sangat banyak sebagai hukumannya. Kalau datang ke rumahnya Jelly, nanti tugasnya lama selesai. Iya'kan Miss?"


Mendengar kata dihukum membuat Jelita berpikkr keras, entah kenapa ia ingin marah tidak suka. Dengan influsif tangannya menarik Allen. "Allen, ayok ke ruang kepala sekolah, bilangin supaya Miss tidak dihukum. Ayo cepat jalan!"


Allen terlonjak kaget, wajahnya sudah berkeringat.


"Ticha bagaimana ini? Ya ampun!" Afrinda panik tidak menyangka tindakan konyol Jelita jika sampai terjadi justru semakin memperpanjang masalah baru.


Allen masih menuruti kemauan Jelita, tapi rasa kedewasaanya sudah bisa sedkitnya memahami apa yang terjadi kalau Jelita sampai nekat. Ia harus melakukan sesustu untuk mencegah selagi ruangan kepala sekolah masih bisa dihindari, tidak peduli jika kakinya sampai terluka ia sengaja menjatuhkan badanya lututnya membentur lantai.


"Ahk."

__ADS_1


"Allen." Afrinda berlari cemas memangku Allen lututnya memerah.


Jelita melupakan niatanya berganti rasa takut karena telah membuat sahabatnya terjatuh. Sambil menangis meniupi lutut Allen meminta maaf.


Salah seorang guru yang membantu mereka membawa ke ruang UKS, Ticha berlari ke arah kelas mengambil obat penenang jantung milik Allen. Jelita bersikeras ikut masuk.


Ticha kembali ke kelas setelah memberikan obat ke tangan Afrinda. Allen tidak meringis padahal alkohol itu membuat lututnya perih, Afrinda merasa sesal dihatinya.


"Minum obatnya, Allen." Membantu meminum obat.


"Maafkan Allen, Miss. Miss jadi ikut khawatir deh," ucap Allen ikut menyesalkan tindakannya mengaibaikan rasa lututnya yang masih perih.


Afrinda tidak menjawab, menoleh ke sebelahnya Jellita masih terdiam menunduk takut


"Jelly, dengarkan miss, ya. Sekali lagi harus lebih hati-hati dalam bertindak sesuatu, Sayang. Allen tidak sekuat badannya Jelly yang bisa leluasa bergerak kesana kemari, apa lagi tadi kan kalian berlari sampai tidak memperhatikan langkah. Maukan minta maaf pada Allen."


"Maafkan Jelly! Huaaa!" Jelita menghambur memeluk Allen. Allen tersenyum hangat ikut menangis seperti Jelita. Biarlah lututnya jadi korban, asalkan Miss Frind tidak lagi menanggung masalah baru.


Didikan Egwin padanya memang cukup membekali dan mendampingi kedewasaan yang terpaksa oleh keadaan.


👇👇👇


Part random ini mah..

__ADS_1


P


__ADS_2