
Tidak ada yang tahu akan apa yang terjadi di esok hari, manusia yang mempunyai rencana tetapi Tuhanlah yang menentukan.
Tidak ada yang menyangka jika sampai setragis ini kejadiannya di luar kendali, perkiraan Afrinda salah yang awalnya berpikir tidak akan mungkin Bram berniat membunuhnya, ternyata lihatlah bukti luka yang di tangannya adalah hasil lemparan peluru dari tangan papahnya sendiri.
Semua orang tidak habis pikir bagaimana bisa setega itu Bram menyekap istrinya sampai disiksa sampai tewas ditangannya sendiri, rahasia kelam yang tidak pernah terkuak pada akhirnya kini menjadi buah bibir seluruh negeri.
Danu tuba-tiba muncul ini tidak ada dalam rencana, pria paru baya itu masih dalam keadaan kritis kehabisan darah. Siapa dan kenapa awalnya sampai Danu bisa ditahan oleh Bram? Tiffany menghilang, sayangnya kecurigaan itu dibantah keras Nurma masih saja tidak percaya.
Gustav tertunduk menyesal ia datang terlambat sampai mengakubatkan kehilangan nyawa manusia, ini diluar kuasanya. Saat dirinya menerima laporan dan berkas dari Danu pihak yang membantu pengusutan kejahatan Beam, ia menyusun team secara sepihak tanpa peduli larangan atasannya.
Tidak mudah menarik teman untuk bergabung dengannya, para oknum yang masih setia menyimpan rahasia Bram menghasut jangan mau bergabung, bahkan Gustav hampir dipecat tidak hormat. Menemui Rivzal dan Egwin dan mulai menyusun strategi apa yang harus dilakukan, sayangnya ia melupakan cerita bahwa Danulah yang memberikan bukti itu, andai saja ia kepikiran memberitahukannya, pasti masih sempat menahan p Danu tidak ikut menjadi korban.
Gustav sudah pasrah duduk seorang diri tidak ada yang menemaninya untuk mencaritahu kebenaran itu, sampai tiba-tiba kabar dari Rivzal memberikan intel anak buah milik Alfonso bergabung dengannya.
Menyusuri lokasi alamat gedung pernikahan Gharda dan Afrinda menyamar menjadi warga sipil hanya berdua saja tidaklah mudah, anak buah Gharda datang membantu melawan anak buah Bram bersiteru panas, kejadian itu memakan banyak waktu, anak buah Bram menyerang satu per satu membentuk blok menghalangi seluruh sudut lokasi.
__ADS_1
Egwin turun tangan membantu, anak buah Bram kalah perlahan diringkus oleh anak buan Gharda. Menerobos masuk ke dalam gudang tempat penyekapan setelah lelah berkeringat, pemandangan memilukan menyayat hati, Afrinda terjatuh terlentang dan Danu yang sudah tidak sadarkan diri.
"Afrinda, bertahanlah." Egwin membopong tubuh wanira itu berlari menuju mobil yang disediakan anak buah Gharda disusul yang lain membopong tubuh Danu.
Membalut lengan tangan Afrinda dengan sapu tangan putih menjadi merah noda darah, membongkar peralatan medis memberikan pertolongan pertama.
Danu dibawa menggunakan mobil ambulance sudah datang menyusul.
Rivzal menyusul Gustav badannya luruh tidak bisa bergerak apa yang di depan matanya ini terlalu membuatnya trauma, "Tidak mungkin." Lungkai berjalan memuntahkan isi perutnya.
"SAYA MOHON BUKA KANTONG MAYATNYA, SAYA MAU LIHAT!" Lassio menangis histeris ketika petugas membuka kancing penutup kantong.
"MAMAHH!"
"PAPAHH!"
__ADS_1
Ini hanya mimpi'kan? Katakan ini hanya mimpi!
Kedua orang tuanya sekaligus pergi meninggalkan mereka, tangan bergetar sekali lagi mengusap wajah mamahnya darah itu sudah mengering. "Mamah," panggilnya parau.
Semakin histeris ia menangis memanggil mamah dan papahnya, ditengah-tengah kesendirian tanpa saudaranya yang lain. Lassio memukul dirinya sendiri dunianya runtuh.
"Lapor komandan. Kami sudah mencetak foto bagaimama kondisi mayat ditemukan, Bram tergeletak memegang pistol, Dahlya telengkup dan ada satu pistol tergeletak tidak jauh. Silakan dilihat sekali lagi, dan untuk alat yang kami temukan ini, kami masih mengujinya di lab."
Lassio tidak mendengarkan keterangan polisi, ia sudah lunglai.
Suara sirene bersahutan mengiringi mbelah jalan raya, kejadian ini langsung menjadi yang paling menggemparkan seluas negara.
"Mantan ketua DPR sekaligus founder perusahaan Sinatran group ditemukan tewas bersama istrinya di sebuah gudang, diduga saling tembak-menembak antar keduanya..."
Tragis!
__ADS_1
👇👇👇