
Berbagai kilasan mimpi buruk terus berganti sepanjang malam ia masih dalam keadaan koma, tangannya bergerak-gerak ingin mencari sesuatu tapi rasanya berat sekali seperti ada yang menimpa, matanya ingin terbuka susah ditarik, telinganya dapat menangkap suara dan hal itulalah pemicu saraf otaknya dipaksa bangun beserta kejadian di dalam mimpi itu pada akhirnya Syeni mampu melewati masa kritisnya.
Kedua bola matanya mengerjap berdaptasi dengan cahaya lampu menyilaukan, hampur lima belas menit mengumpulkan kesadaran seutuhnya menyadari ia bangun tidak ada yang menemani berjaga di sisinya.
Air matanya terjatuh membahasahi pipi yang mulai memgeriput, menggerak-gerakkan badannya sudah lebih terasa ringan tetapi berbanding terbalik dengan perasaan yang mengganjal di pikirannya. Menyentuh area dadamya ada yang terasa sesak di sana, insting keibuannya mengatakan keadaan tidak baik-baik saja selama ia sakit.
Menyimpulkan dari beberapa arti mimpi yang diingat, serta suara tangisan putranya seolah benar-benar nyata di telinganya.
Badannya bersih alat medisnya juga aman-aman saja, menekan tombol intercom memanggil perawat yang bertugas. Si dokter sempat meminta maaf karena terlambat, Syeni tersenyum kecil ia sudah baik-baik saja.
Meminjam ponsel salah seorang penjaganya menghubungi Gharda, apakah iya putranya bekerja di luar kota? Dadanya semakin terasa sesak, ini pasti bohong.
Memaksa perawat ingin sekali keluar menikmati udara, menunjukkan dirinya sudah lebih sehat. Kursi roda tiang infus di tangannya taman rumah sakit yang luas dan indah.
Si perawat membawanya ke kamar mandi meminta izin ke toilet sebentar, Syeni menunggu di depan tidak sengaja melihat pemamdangan dua orang gadis yang juga berada di sekitarnya sedang mengobrol ria membelakanginya.
Dari percakapan itu tentang Gharda ceo perusahaannya sedang dalam pencarian dan diujung bangkrut, perdebatan kedua gadis itu ada yang membela dan ada yang ikut percaya.
__ADS_1
Firasatnya tidak pernah salah. Diam-diam mendorong kursi roda menjauh dari pintu ruang toilet membuka jarum infus melangkah cepat bersembunyi diantara kerumunan orang lewat.
Entah tenaga dari mana sepanjang berlari hanya bayangan wajah putranya terluntas dibenatnya, sehingga kakinya sadar tidak sadar mampu melewati area lokasi rumah sakit menyeberangi jalan raya besar menumpang pada salah satu ojek online memelas wajah diizinkan naik sampailah ia di gedung kantor milik mendiang suaminya.
Semua tercengang, satpam yang berjaga menghampuri Syeni dan membayar ojeknya. Memberontak tidak mau kembali ke rumah sakit sebelum masuk ke dalam gedung.
Satpam senior membawanya ke ruang meating dan menjelaskan inti besar dari permasalahan yang terjadi, pintu tertutup rapat, benar adanya rapat.
Suara gaduh dari luar menghentikan rapat, semua mata tertuju pada Syeni yang tiba-tiba muncul masih berpakaian rumah sakit.
Astrid dan Rivzal memeluk memeriksa Syeni kebingungan.
"Syeni Lastatie! Rupanya kau masih kuat menyelamatkan perusahaan suamimu dalam keadaan sakit begini, putramu yang tidak bisa diandalkan itu sudah kalah perang mempertahankan reputasi jasa suamimu. Lihat! Dia sudah jadi burunan terbukti menggelapkan dana proyek bersama Dewono juga hilang entah kemana. Dan kau masih percaya diri sok arogan mau menghentikan rapat, rapat sudah berakhir dan saham Gharda yang tersisa resmi diserahkan sebagai ganti rugi pada kami."
"Tttidakkk!!" Syeni meraung meronta dalam pelukan Astrid dan Rivzal, Duddy menangis di bangkunya. "Kalian menjebak putraku!"
Badannya hampir jatuh, Astrid sekuat tenaga menahan. "Kalian penghianat suamiku, ahkl!" Bagaimapun ia tidak rela hasil kerja suaminya merintis dari nol sampai sudah sebesar ini hancur begitu saja.
__ADS_1
"Nyonya jangan seperti ini, tenangkan emosi anda, saya mohon." Astrid ikut menangis.
"Lalu apa yang mau kau perbuat membela putramu? Masa perjanjian untuk menunjukkan pembelaan selama dua minggu sudah habis. Tertangkap atau belum tertangkap, jika suatu saat nanti Gharda bisa membuktikan ia tidak bersalah pun, tidak berlaku lagi karena perjanjian mutlaknya adalah hari ini. Mau tidak mau saham Alfonso dan saham Ghaeda diserahkan pada kami, dan tidak ada lagi nama Alfonso di dalam perusahhan ini, artinya Alfonso dan Gharda tidak pemilik perusahaan dan wajib angkat kaki dari sini!" Salah seorang petinggi menjelaskan sambil tertawa lebar, dan yang lain justru tersenyum arogan.
Syeni memohon pada Astrid dan Rivzal katakan sesuatu.
"Sekarang, seret nyonya kalian dari perusahaan ini! Kau juga Rivzal dan sekutumu awa semua barang-barang kalian juga, pergi!" usir mereka.
"Strid, bawa Nyonya Syeni keluar. Biar aku yang menghadapi mereka," bisik Rivzal.
"Iya, Zal."
Astrid memapah tubuh lemah Ny.Syeni.
"Tidak, semua ketja keras suamiku sia-sia," ucap Ny.Syeni di sela-sela tangisannya. Bersandar pada bahu Astrid memejamkan matanya.
"Nyonya, tenanglah. Ini tidak seburuk yang nyonya pikirkan, kami tidak membiarkan itu terjadi"
__ADS_1
"Apa maksudmu, Astrid?"
👇👇👇