
Melamun memeluk bonekanya dalam kamar gadis kecil ini mengusap air matanya yang menetes mengingat sesuatu yang membuatnya bersedih, satu jam yang lalu sudah terbangun dari awal urung keluar niatnya tidak masuk sekolah saja hari ini.
Namun ketukan pintu dari luar membuatnya terpaksa harus bangkit, papahnya berjalan menghampirinya.
"Allen, kenapa pagi-pagi sudah murung begitu? Egwin merangkul putrinya.
"Pah, boleh tidak sehari ini saja aku tidak masuk sekolah?"
Egwin tercengan dengan rengekan Allendra yang tidak biasa, "Allen tidak menyembunyikan sesuatu dari papah'kan? Apa ada yang sakit?" Rasa cemas menghantui pikirannya.
"Tidak pah, aku sehat, aku baik-baik saja!" Allen gelagapan demgan reaksi papahnya ia merasa bersalah. "Maaf, pah, Allen memang tidak apa-apa, tapi aku mengantuk saja tidak bisa tidur nyenyak tadi malam," adunya tidak sepenuhnya berbohong.
"Astaga," Egwin memeluk putrinya erat. Pandangannya tertuju pada satu bungkus kado yang masih berantakan di bawah lantai. "Sudah papah bilang biar papah yang bungkus kado buat Jheve, tapi putri papah ini keras kepala ingin mengerjakannya sendirian. Kalau kamu tidak sekolah, siapa yang memberi hadiahmu untuk Jheve? Pasti dia kecewa padamu. Mandi ya sayang ya, Allen tetap sekolah." Egwin tegas namun tetap penuh kelembutan.
Wajah cemberutnya melangkah ke arah kamar mandi, Egwin menyiapkan perlengkapan sekolah Allendra.
"Apa ini?" Egwin menunduk ada lembaran foto yang terjatuh dari tumpukan buku.
"Kau masih mengharapakan mamahmu, Sayang? Maafkan papah yang tidak memyukai tindakanmu, rasanya bemci jika selalu mengingat Tiffany. Apa yang harus kulakukan, Tuhan!" resahnya. Tidak tega Egwin mengembalikan foto itu ke tempat semula, ini adalah foto Tiffany sewaktu masih menjadi model, bukan foto asli yang biasanya disimpan orang-orang. Hatinya tercubit.
Sepasang ayah dan anak ini berusaha saling menutupi keresahan hatinya masing-masing, ceria seperti biasa memgantar Allen mencium kening sudah sampai di depan ruang kelas.
Seketika wajah Alken langsun betbinar melihat hiasan kelas dekorasi untuk perayaan ulang tahun Jheve nanti jam pulang sekolah, balon warna-warni tampak menarik matanya ingin mengambilnya satu sangkin gemasnya.
"Nanti kalau acaranya sudah selesai, balonnya untuk kamu semua, deh."
Suara lembut Jheve mengagetkannya berbalik badan berhadapan tersenyum manis, "Memangnya boleh?"
"Hu-um, asalkan kamu tidak sedih-sedih."
"Teri-"
__ADS_1
"Selamat ulang tahun Jhevve!" Jelita tidak sengaja memotong pembicaraan kedua anak ini berlari menyalam teman yang sedang berulang tahun.
"Jelly, terima kasih."
Saat Jelita mengambil alih Jheve darinya, Allen duduk di kursinya jadi murung lagi tidak paham apa yang sedang dirasakannya.
Sepanjang jam pelajaran Allen hanya duduk malas tidak semangat seperti hari biasanya, Jelita bingung ada apa dengan temannya ini namun sebisa mungkin Jelita selalu berusaha menghibur temannya ini.
Semua murid sekelas berbaris membentuk melingkari meja yang di atasnya terdapat kue ulang tahun untuk Jheverick, bertepuk tangan menyanyikan lagu selamat ulang tahun kemudian acara potong kue dan membagikannya pada semua teman.
Acara memberi hadiah semuanya ikut gembira melihat Jheve bahagia, murid yang paling 'tidak punya' di sekolah ini sama rata diperlakukan seperti teman lainnya, ini adalah hasil keputusan kerja Afrinda yang diturunkan pada Ticha.
Ada yang berbeda hari ini, Allen memposisikan berdiri di sudut dan memamdang tidak fokus wajahnya sembab.
Ticha membereskan yang tersisa sementara murid lain sudah pulang, Allen dan Jelita duduk berdua di ruang tunggu. Tiba-tiba Sofia miss yang dianggap paling buruk di sekolah datang melotot pada Allen seperti merendahkan dari ujung kaki sampai ujung kepala, Allen menunduk.
"Hai, Allen!"
"Diam kau, aku tidak mengajakmu bicara! Hai Allen, kau harus jadi anak baik ya, jangan tiru mamahmu yang pencuri itu, ihhh, jangan sampai deh."
"Siapa yang pencuri, Miss! Asal bicara saja!" Jelita menjadi tameng, dia pernah jadi korban guru buruk ini.
"Anak kecil tahu apa. Tanya sama papahmu yang dokter itu, mamahmu itu adalah pencuri perhiasan milik nenekmu untuk kabur dari rumah! Biar kalian tahu!"
"Miss Sofi!" Ticha berteriak berlari merangkul kedua anak yang saling berpelukan ini.
Suasana menjadi tegang, detik yang sama Egwin dan Afrinda muncul dari mobil yang berbeda.
Melihat Allen yang menangis tertahan dan Jelita memerah marah, kedua orang tua ini mengambil masing-masing anak menatap tajam pada Sofia.
"Kau keterlaluan Sofia!" bentak Afrinda.
__ADS_1
Adegan itu menjadi pusat perhatian yang melintas ruang gerbang sekolah, tidak lupa kepala sekolah datang tergopoh-gopoh.
"A-aaa!"
"Kau dipecat!" Bu Kelala sekolah berbicara tegas.
Kerumunan dibubarkan Sofia menyeret kaki diteriaki malu oleh orang-orang.
"Kalian pulang duluan saja, aku masih ada sesuatu bersama Allen. Nanti kuceritakan."
"Baiklah, Gwin." Afrinda menngusap rambut Allen mengajak Jelita mwnaiki mobil.
Menyetir membawa putrinya ke sebuah taman memangku membiarkan putrinya menangis di dadanya. "Ceritakan pada papah, Sayang."
"Kenapa mamah harus pergi dengan mencuri? Allen sedih, mamah pergi meninggalkan aku tapi membuat aku malu juga, Papah."
"Tidak, Sayang."
"Jangan berbong terus, aku mendengar berita di televisi tadi juga Miss Sofia mengatakan hal yang sama, mamah memcuri lalu pergi ke luar negeri, iya'kan!"
Allen menangis menumpahkan kekesalannya memukuli dada bidang papahnya.
"Mamah jahat, mamah jahat! Mamah jahat!!"
"Allen." Egwin semakin mengeratkan pelukan pada putrinya, dia ikut menangis hatinya teriris. Ini tidak bemar, tapi ini juga tidak sepenuhnya salah, Tiffany yang terlena memutuskan untuk pergi bahkan tidak melihat Allen untuk terakhir kali.
Apakah keputusannya mengikuti rencan Gharda salah? Semua dilakulan untuk sebuah kebenaran, dia pun tidak memyangka Allen secepat ini memahami sesuatu hal yang harusnya diketahui orang dewasa.
Apa Allen akan membenci mamahnya juga?
👇👇👇
__ADS_1