Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Adik-Adik part 2


__ADS_3

"Tidak ada persidangan!" tolak Laxsa menentang amarahnya memuncak.


"Kenapa? Kau takut kebohonganmu terbongkar?"


Ucapan Gharda lagi membuat bingung Afrinda dan dua adik lainnya.


Memandang penuh tanya pada suaminya, hanya dibalas tersenyum penuh arti.


"Kebohongan apa yang kau maksud, hah?!" Laxsa semakin emosi wajahnya panik berlebihan, meminta tolong pada dua saudara yang lain tidak ada tanggapan.


Merutuki Lassio yang lemah ini percuma saja dia abang, adiknya Swan berlagak seperti orang bodoh, tidak ada yang bisa diandalkan selain keberaniannya sendiri. Sial benar-benar sial berada di antara saudara yang selemah ini, Laxsa bergerak gelisah.


"Wajahmu sudah panik begitu kau masih mau mengelak rupanya," sahut Gharda meremahkan.


"Ini ada apa? Apa yang dibohongi Laxsa dari sini?" Afrinda tidak bisa bertindak lebih dirinya juga tidak tahu apa-apa.


"Lassio!"


"Ha, i-iya, Tuan," Lassio gugup dipanggil Gharda.


"Berapa kiriman minggu ini yang ditransfer Afrinda kakakmu ke nomor rekeningmu?"


"Lima puluh lima juta," jawabnya jujur.

__ADS_1


"Untuk apa?"


"Un-" Bermain mata pada Laxsa dilema memberi tahunya atau tidak. "Unt-"


"Uang itu bukan Abang Lassio yang memegang, tapi Laxsa..Tidak tahu untuk apa, yang jelas uang makan kami masih kiriman Kak Afrinda minggu sebelumnya."


Jawab Swan membuat keduanya tercengang, setiap minggu Afrinda harus memberikan uang belanja pada ketiga adiknya jumlahnya bukan main-main harusnya cukup untuk mereka bertoga. Tapi entah mengapa Laxsa tetap ngotot ingin saham itu dan tidak mau bekerja alasan masih belum bisa berjalan. Dan inilah fakta sebenarnya. Belum lagi uang untuk modal Lassio yang katanya mau membuat usaha, sampai detik ini tidak kabar tentang itu Afrinda pun heran.


"Lalu untuk apa uang yang kalian minta itu?" Ghaeda mulai geram dengan drama Laxsa ini.


"Buat obatku, kau tahu, saya masih butuh pengobatan untuk kakiku."


"Oh iya?" Gharda mengeluarkan sesuatu dari amplop yang disimpan dari saku jasnya kemudian mengeluarkan isinya melemparkannya di wajah Laxsa. "LIHAT FOTO INI BAIK-BAIK!"


Semua mata terbelalak melihat foto Laxsa yang sedang berdiri sehat sedang berjalan masuk ke dalam gedung hotel, beberapa potret bahwa kakinya sudah sembuh dan tidak apa-apa.


"Masih ada kejutan lain-" Mengeluarkan satu buah lembar kertas dari dalam amplop yang sama. "Lihat ini, Sayang."


Mata yang mengembun Afrinda tetap tegar membaca surat yang menerangkan bahwa sebenarnya biaya rumah sakit pasca kecelakaan Laxsa sudah ditanggung asuransi yang bertatas namakan Dahlya, bahkan semua jenis obat sama ditanggung. Menerima surat berikutnya dari tangan suaminya, hasil lab yang menerangkan bahwa kaki Laxsa tidak terjadi kelumpuhan, semakin tercengang melihat tanggal berakhirnya pemeriksaan sudah dua minggu yang lalu.


"KETERLALUAN KAMU LAXSA!" pekiknya histeris.


"Kau membohongiku!" jerit Afrunda menangis kecewa, pengorbanannya sia-sia dan tidak dianggap.

__ADS_1


"Kenana kau gunakan semua uang pemberianku, KEMANA?"


Laxsa hanya diam, tidak ada raut penyesalan sama sekali dia tetap duduk angkuh di atas kursi rodanya.


"Kau berdiri Laxsa," Afrinda masih berusaha menahan gejolak emosinya.


"Berdiri!"


Laxsa tetap tidak mau.


"BERDIRI!"


Tanpa beban Laxsa betdiri dan melangkah sedikit wajahnya datar tidak bisa dibaca, "Iya, aku memang sudah sembuh."


Satu tamparan melayang di pipi kiri Laxsa, Afrinda menangis menutup mulutnya. "Kau tidak tahu malu," ucapnya disela isakannya.


Ketiga saudara ini tidak ada yang bergeming, Gharda tetap santai menikmati tontonan ini, ia percaya pada keputusan istrinya. Sebenarnya masih banyak bukti kebohongan saudaranya ini, ia tidak tega memberitahukannya, Lassio tampak lemah, Swan murni karena kesalahannya tidak disengaja, Laxsa yang paling mengotot jadi hanya rahasia Laxsa yang ia tunjukkan.


"Aku Afrinda Sinatrani dan sekarang sudah menjadi Afrinda Alfonso, akan segera mengurus surat penghapusan nama Sinatrani di belakang namaku. Dan aku akan memberikan surat warisan pemberian Nyonya Dahlya untuk kalian bertiga juga mengganti sertifikat rumah yang kalian tempati itu atas nama salah satu di antara kalian bertiga anggap saja itu sebagai imbalan atas telah kupakai nama itu dariku lahir, dalam kurun waktu satu minggu aku yang akan menandatangani di atas notaris. Pergilah dan tinggalkan rumah ini, hiduplah sesuai keinginan kalian masing-masing temukan kebebasan di luar sana!"


Lassio tertunduk lemah, Swan menangis memandang kakanya memohon, Laxsa tersenyum kecil. Afrinda membuang wajah tidak tega melihat adik bungsunya itu, ia sudah memutuskan demi kebaikan dirinya di masa depan juga.


"Sayang " Gharda memeluk istrinya menangis.

__ADS_1


"Jika aku tetap mempertahankan mereka, itu sama saja aku hidup dalam bayangan tekanan Bram selamanya. Aku sudah mempunyai keluargaku, ibu ayah, kamu suamiku mamah Syeni dan Jelita putriku. Aku akan fokus pada kalian bagian hidupku sebenarnya, mereka sudah dewasa sudah saatnya kulepaskan ikatan yang mengikatku ketat sekali, beban yang diberikan Bram terlalu berat untukku."


👇👇👇


__ADS_2