
"Tante-"
"Kamu sengaja'kan mengajak tantwe berlama-lama agar Afrinda bisa masuk?"
Ardan merasa tidak enak pada Nurma ditatap kecewa seperti itu, mereka berdua masih diluar Danu istirahat di dalam.
"Saya melakukan itu ada alasannya, Tante."
"Kamu tidak berhak ikut campur urusan orang lain dan jangan bertindak diluar batasmu."
Ucapan Nurma menyentil hatinya, lebih tidak memyangka dia masih diposisikan 'orang lain' di sini, seolah dirinya tidak tahu apa-apa padahal sejauh ini dirinya sudah banyak membantu keluarga ini.
Mengesah panjang meredam emosinya, "Tante, maaf sekali lagi. Menurut saya Afrinda berhak menemui ayahnya, tolong buka hati dan pikiran Tante jangan bersikap seperti ini terus." Masih berbicara lembut hormat pada orang yang lebih tua darinya, sekalipun sebenarnya ia sudah merutuki Nurma dalam hatinya merasa bodoh sendiri menghadapi sikap yang tidak pantas disebut orang tua menurutnya.
"Sudah saya katakan kau tidak berhak ikut campur, kau datang menemui putriku Tiffany bukan berarti kau bisa seenaknya berbicara pada masalah kami!" Hardik Nurma geram tidak terima perkataan Ardan.
__ADS_1
"Tante!" Habis kesabarannya masih mampu menekan volume suaranya. "Saya juga bisa menilai yang mana yang baik dan yang mana yang tidak, Afrinda sudah berulang kali datang kesini berlutut di hadapanmu sampai menangis, dengan mata kepala saya sendiri itu semua terjadi, waktu tante mengusirnya pergi saya juga ada di situ'kan. Saya masih punya hati nurani bisa merasakan sakit hati diperlakukan seperti itu oleh ibu kandung sendiri, saya kasihan Afrinda terus berusaha. Dari sinilah inisiatif untuk memberinya jalan bertemu ayahnya, dan berhasil suamimu sudah melewati masa kritisnya sekarang."
"Dia begitu karena merasa bersalah, bersalah karena dia dan suaminya menyebabkan suami saya menjadi seperti ini. Kau paham!"
"Dari mana bisa kesimpulan itu tante dapat, hah? Keras kepala!"
"Tante sudah melarangnya jangan menghadiri pernikah itu, tapi dia tetap nekat dan mencampurkan obat tidur dosis tinggi seharian ke minumanku agar tante tidak mengomelinya saat pulang nanti."
Ardan tercengang pengakuan Nurma, "Apa maksud Tante?"
Ardan menyugar rambutnya kasar, ini sudah keterlaluan. Tiffany pandai bermulut manis membalikkan fakta yang sebenarnya, Nurma yang bodoh ini begitu mudahnya mempercayai setiapbargument yang keluar dari mulut wanita gila itu.
Apakah tante ini tidak berpikir kalau ucapan putrinya itu tidak masuk akal?! "Ahhkk!"
"Kenapa? Kau juga tidak percaya pada Tiffany? Atau kau masih mencintai Afrinda itu?"
__ADS_1
"Apa?" Ardan bingung bagaimana Nurma sampai mengetahui hal ini.
"Dari wajahmu sudah terbaca, apa yang dikatakan Tiffany ternyata benar. Afrinda merebutmu dari Tiffany, setelahnya Afrinda juga merebut Gharda dari Tiffany. Dia suka sekali merebut milik orang lain."
"Karangan dari mana ini, Tante?!"
"Karangan?" Nurma tertawa meledek. "Tiffany sudah menceritakkanya pada tante, sekarang Afrinda sudah menikah dengan Gharda, kau tahu'kan Tiffany dan Gharda yang berpacaran, bukan Afrinda. Dia merebut merayu Gharda dari pelukan putriku. Kau sudah berpacaran dengan putriku sekarang, tapi kau masih membela Afrinda, itu sama saja kau masih mencintai Afrinda."
Kebohongan cerita ini sudah menyebar kemana-mana, Ardan tidak kuasa melepas tawa ironinya memukul dinding rumah sakit. "Ini gila! Tidak benar!"
"Saya tetap lebih mempercayai putri saya."
"Kami tidak pernah pacaran."
Pantas saja Nurma sampai tega membuang perasaanya pada Afrinda, ternyata wanita ini sudah dikendalikan oleh Tiffany dengan menceritakan hal yang tidak benar pada ibunya ini.
__ADS_1
👇👇👇