
"Ibu." Afrinda menahan cekalan tangan Nurma yang membuat gerakan memgusirnya. "Aku tidak akan pergi."
"Pergi!"
"Tidak!" Tentu tenaganya jauh lebih kuat dari tenaga ibunya, tidak payah melepaskan eratan pergelangangannya sedikit memerah. "Ibu jangan keras kepala, tolong bu. Ayah masih sakit sekarang ibu ikutan sakit, siapa yang akan menjaga kalian disini."
Nurma masih tetap pada pendiriannya memandang sinis pada Afrinda, "Tiffany sebentar lagi akan datang, dia yang akan menjaga kami."
"Tiffany, Tiffany terus! Sekarang begini saja, hubungi putrimu sekarang suruh dia kemari." Afrinda jengah terus-menerus diabaikan seperti ini, menghadapi ibunya menutup mata tidak melihat apa yang di depannya adalah dirinya, bukan Tiffany.
"Dia pasti akan datang," ucapnya yakin. Menyambungkan panggilan pada nomor Tiffany, sudah tersambung hanya saja belum diangkat, sudah panggilan ketiga hasilnya sama saja. Mengetik pesan singkat mengerimkannya semoga ada balasan.
Tersenyum kecil Afrinda menggelengkan kepala tingkah ibunya yang menahan malu, mengesah panjang jangan ikut terbawa emosi. "Sudahlah, Bu. Lebih baik ibu makan buah ini saja biar aku yang suap agar perutmu bersi sedikit, menunggu Tiffany yang ibu inginkan itu tidak tahu kepastiannya, kesehatan ibu yang paling penting."
Tanpa menunggu persetujuan ibunya, Afrinda mengupas buah memotong kecil-kecil ke dalam satu piring kecil, "Ayo makan buah dulu, aaaaa!"
Menutup mulutnya rapat-rapat menjauhkan wajah dari sendok yang diarahkan Afrinda, menelan air liurnya sekuat tenaga sebenarnya buah itu menggiurkan hanya saja terlalu gengsi.
__ADS_1
Mengesah kasar mengelus dadanya sabar, ia harus mencobanya agar perut ibunya tidak kosong, cairan infus ini tidak berarti banyak untuk perut ibunya.
"Ibu tahu tidak-" Memulai bercerita seraya memainkan semdok. "Harusnya aku sudah pulang tadi, mandi bersama putriku, main di taman sore duduk menunghu matahari terbenam, atau mungkin aku sedang tiduran berbaring karena sejujurnya aku lelah sekali hari ini, banyak kegiatannya. Tapi aku masih bisa datang menjemguk ayah'kan, itu karena aku memiliki rasa cinta, cinta itulah yang mampu menghilangkan lelahku dan aku akhirnya bisa sampai di rumah sakit ini tanpa aba-aba ibu juga sakit, aku juga ingin merawat ibu, tapi ibu menolakku dan mengusirku, jadi aku bertanya apa sebenarnya aku dihatimu? Aku terus berusaha datang padamu agar ibu mau menerimaku, apakah aku memang anak tidak tahu diri'ya terus memaksa padahal sudah ditolak. Apa aku tidak pantas diakui?-" Tanpa terasa buliran bening jatuh dari kelopak matanya, dengan tangan yang satu mengusap wajahnya, "Sudahlah, Bu. Aku jadi ikut menangis setiap kali mendengar perkataan ibu yang menyakitiku, tapi dendam itu tidak ada, untuk kali ini saja izinkan aku mendekati dan membuktikan kalau aku benar-benar putrimu, putri yang sangat merindukan ibu kandungnya."
Dan lagi ada yang menghangat di relung hatinya, tanpa sadar bibirnya mulai terbuka dan Afrinda mengambil kesempatan menyuapi ibunya dengan lembut.
"Lagi ya, Bu " Senang bukan main rasanya ingin menangis saat ini juga Afrinda dekat dengan ibunya, tanpa bersuara ibunya terus memakan buah darinya sampai tandas, semoga saja ini langkah terbuka untuk membuka dan membangunnya lagi.
"Terima kasih, Bu." Afrinda tersenyum bahagia.
"Kau sudah bisa pergi sekarang, aku sudah menuruti permintaanmu."
"Inu-" Afrinda seakan jatuh.
Nurma berbaring membelakangi Afrinda yang mematung, mencengkeam sprai ada banyak yang berputar dipikirannya entah bagaimana sebenarnya dirinya sendiri pun tidak mengerti.
Suara pintu terbuka Afrinda menoleh mengusap air matanya, Egwin berjalan tersenyum hangat padanya.
__ADS_1
"Tante Nurma akan dipindahkan satu ruangan bersama Om Danu, kami sudah mempersiapkannya. Gharda yang mengusulkan dan membiayai pengobatan orang tuamu, agar kamu tidak susah untuk bertemu keduanya. Susul suamimu ke ruangan ayahmu," terang Egwin memperbesar volume suara agar Nurma bisa mendengarnya juga
"Syukurlah, Gwin. Aku akan kesana." Suaminya selalu memberikan kejuran untuknya, bukan hanya Gharda yang datang, Jelita berlari ke arahnua memeluk kakinya.
"Bunda tidak ajak Jelly ketemu Kakek Danu ya," kesal Jelita cemberut.
Cup! "Maaf ya, Sayang. Bunda terlalu panik, lagi pula kau tadi lelap sekali tidurnya." Afrinda menggandeng putrinya ke arah ranjang ayahnya.
Jelita memang mudah akrab pada siapun yang menurut nalurinya baik, kakeknya paling cepat saat bertemu di pesta pernikahannya waktu itu. Jelita tidak segan membacakan dongeng anak-anak pada kakeknya, kedua kakek dan cucu ini terlihat bahagia tidak ada yang menganggu.
Sementara Gharda, Egwin dan Afrinda duduk di sofa mengawasi.
Brankar Nurma sudah sampai di ruang Danu menata barang-barang agar muat menamlung dua orang pasien, Gharda tersenyum puas dengan pelayanan orang dalam dari Egwin.
"Halo ibu martua " Sayangnya Nurma tidak menjawab sapaan Gharda, Egwin tersenyum meledek nasib temannya itu.
"Jangan ganggu ibu dulu, lebih baik kita tutup gorden ini kita kembali ke tempat ayah." Afrinda menutup tirai gorden melangkah terlebih dulu, tinggallah Nurma sendirian hening mendengar suara tawa anak kecil dari sebelah gorden pemisah.
__ADS_1
Suara ponselnya berdering ada panggilan telepon dari tetangganya, Tiffany tidak pulang sudah dua hari, barang jualan warung banyak yang hilang.
👇👇👇