Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Nurma


__ADS_3

Rencana pertunanangan gagal membuat kedua belah pihak keluarga malu, apa lagi Tiffany yang menjadi pusat kejadian terbongk kebohongannya dalam satu hari kembali mencapai puncak tranding topik di sosial media.


Sudah dua hari terus mengurung diri malu bertemu dengan orang lain, tetapi telinganya tidak luput mendengar pertengkaran om tantenya yang terus membahasnya, tante yang selalu berusaha membelanya, om yang terus menyudutkannya. Siapa yang tahan melihat adegan seorang suami yang terus membentak istri yang sedang sakit dan pernah memaki persis di hadapannya, membuat hati Tiffany terenyuh merasa bersalah karena membela dirinya terus tantenya menjadi korban. Berbagai macam ingatan muncul bagai pedang yang menancap jiwanya, ia mulai menemukan sesuatu yang salah pada kehidupannya.


"Ahhhkkk!" Amarah dan kekecewaan bercampur malu tidak bisa dikatakan lagi, melempar benda apa saja barang berserskan seisi kanarnya hancur dia ingin melampiaskan. Mungkin ia bisa frustasi sungguhan.


"Gharda kau!!" Merobek foto meleburkannya ke dalam air, memandang benci lalu sekejap memandang cinta. Semua sangat menganggu pikirannya.


Serpihan gelas pecah terlempar melukai kulitnya menggores luka berdarah, tapi ini tidak sebanding dengan luka yang dialaminya.


Perawat Nurma berhasil mencungkil kunci membuka kamar Tiffany, Nurma berlari hampir limbung sigap si perawat memapah membawa duduk di samping Tiffany kemudian berlalu keluar.


"Cukup, cukup!" Nurma merebut serpihan gelas membuangnya. Ia ikut menangis meratapi nasib keponakannya, ada rasa penyesalan kenapa dirinya tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah hal ini. Lemah? Atau dasarnya memang Danu keras kepala?


"Gharda!" Memanggil nama itu seraya terisak di dalam dekapan tantenya.


"Lupakan dia, Tiffany," ujar Nurma hati-hati mengelus pucuk kepala Tiffany.

__ADS_1


Lupakan!!??


Tertawa ironi dalam hatinya dia sudah merendahkan harga dirinya untuk membuat pria itu mencintainya lagi. Bolehkah ia marah pada dunia sekarang? Ia tahu cara yang dilakukannya adalah salah, untuk perasaan cinta satu pun tidak ada yang mau mengerti bahwa ia sangat menaruh harapan cinta pada Gharda.


"Apa yang membuatmu susah, Tiff?" tanya Nurma mencoba lebih mendalami persoalan yang dihadapi keponakannya ini. Membalut luka goresan, sudah saat ia harus lebih mencurahkan kasih sayangnya. Sudah sampai sedewasa ini tidak terasa ia lama mengabaikan tentang kehidupan Tiffany, terlalu larut bertahu -tahun atas kepergian putrinya sampai membuat kesehatannya menurun, tidak sadar selama ini ia telah diberikan takdir lain merawat Tiffany, menutup mata itu bukan anak dari rahimnya.


"Tante tidak akan mengerti, percuma aku cerita," tolaknya belum bersedia terbuka. Melepaskan dekapan perlahan menurunkan tangan tantenya dari bahu, saat badannya bergerak ingin tidur menarik selimut, Nurma menghalangi menatap lekat padanya.


"Tan-Aihh. Ada apa?" ia belum paham.


Menarik ke dalam pelukanannya menangis tersedu di bahu Tiffany, "Maafkan tante, Tiffany."


Harusnya dirinya lebih bijaksana menguasai diri, tidak perlu terlalu larut dengan masa lalu sampai-sampai ia melupakan ada pengganti putrinya dan baru detik ini menyadari kesalahannya.


Dan hal ini adalah salah satu kegagalan terbesarnya, membiarkan Tiffany jatuh ke dalam lubang yang sama tanpa dirinya sosok mendampingi dan menasihati jangan sampai bertindak. Tiffany tidak sepenuhnya salah, dirinya juga ikut salah di sini, tidak melakukan peran mendidik untuk memperbaiki kesalahan. Ia gagal, gagall!


Menangkup wajah pucat tantenya Tiffany menyeka air mata tersenyum hangat, mau membalas marah percuma saja. Dari pengakuan tantenya cukup memahami penyesalannya, tidak ada yang terlambat, ya tidak. Meneguhkan hati harus bisa meredam rasa dendamnya, iya harus bisa Tiffany.

__ADS_1


"Aku harusnya lebih dewasa tahu mana yang baik dan buruk kulakukan. Tapi tolong aku, Tante."


"Tolong? Apa itu?"


Lega rasanya menerima reaksi Tiffany.


Bersandar pada bahu Nurma memejamkan mata, baru saja ia merasa buruk akan dunia, tapi sekarang ia telah bertemu dengan kehangatan dari tantenya. Tersenyum kecut seperti inilah cara kerja alam semesta mempermainkan hati setiap manusia?


Sumpah, dirinya juga tidak mengerti situasi saat ini. Ada satu hal yang paling dia rindukan selama ini, "Ajari aku didik aku bantu aku untuk memperbaiki apa yang sudah kubuat rusak."


"Tiffany."


"Tante, aku mau jujur. Aku pernah berpikir mungkin penolakan Gharda adalah karmaku karena telah melakukan hal yang sama pada putri kandungku, Stephanie. Ak-aku telah membuang putriku, Tuhan membalasnya melalui Gharda. Aku bingung, aku kehilangan jalan, tidak ada satu pun yang mengajariku. Semua aku lakukan dengan modal nekat tanpa berpikir matang dampaknya, semua menjauhiku tanpa mengajakku keluar dari masalahku. Tante!!"


"Ssssttt. Jangan melanjutkan ucapanmu lagi, tante juga ikut menyesali. Mulai sekaramg mari kita coba bersama-sama memperbaiki satu per satu."


👇👇👇

__ADS_1


"Cintaa,,kau tau betapa besarnya cinta, yang kutanamkan padamu, mengapa kau memilih untuk berpisah...."


__ADS_2