Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Pertemuan Pertama


__ADS_3

Dua kursi masih kosong di kelasnya, Allendra kembali menjalani perawatan intensif sementara Jelly belum ada kabarnya. Afrinda menarik napasnya menghilangkan buruk sangka yang bersarang diotaknya, padahal dia sudah membuatkan sarapan untuk Jelly. Entah mengapa melihat bangku kedua murid ink masih kosong membuat perasaannya tidak menentu.


"Anak-anak, kita berdoa untuk kesehatan teman kita Allendra, ya!" Afrinda mengajak semua muridnya berdoa.


Setelah doa selesai, dilanjutkan dengan belajar. Hari ini anak-anak ditugaskan untuk mewarnai objek gambar yang sudah dibagikan Miss Frind dinatas masing-masing meja.


Afrinda menghentikan aktifitasnya yang sedang membimbing salah satu siswa cara mewarnai, Miss Ticha berkata bahwa ia dipanggil ke ruang kepala sekolah sebentar. "Jheve diajarin sama Miss Ticha dulu ya."


Yang dipanngil Jheve mengangguk setuju kemudian meneruskan tugasnya.


"Miss!" pekik Jelita berlari dari sofa tempat ia duduk begitu melihat Afrinda muncul dari balik pintu ruang kepala sekolah.


"Jelly." Afrinda tercengang melihat kondisi Jelita yang berantakan memeluk lututnya seperti ketakutan terhadap sesuatu.


"Miss Frinda, bawa Jelita duduk kembali!"


Afrinda terbangun dari fokus perhatiannya pada Jelita, netranya bertemu pandang dengan sosok pria ber-jas abu-abu sedang duduk di depan kepala sekolah. Siapa dia?


Jelita duduk di tengah-tengah Afrinda dan Gharda, saat Afrinda menoleh Gharda, Gharda hanya meresponya sekilas dengan wajah datar.


"Saya Afrinda, miss di kelas Jelita." Afrinda dengan hormat mengulurkan tangannya memperkenalkan diri.

__ADS_1


"Ya!" jawaban yang singkat tidak menoleh ke arah Afrinda. Gharda bahkan tidak membalas uluran tangan Afrinda.


"Eh," lirih Afrinda malu sendiri langsung menarik tangannya.


"Ehhekmm!" Bu Kepala Sekolah berdehem mencairkan suasana yang canggung. Jujur saja, dirinya pun ikut merasa malu dengan tindakan Afrinda dan respon ayah dari Jelita ini.


"Apa sanski yang harus diterima jika datang terlambat?" Gharda langsung berbicara ke intinya saja, melirik jam tangannya mengesah kasar.


"Untuk hari ini tidak ada, Pak. Karena baru satu kali dan alasan bapak masih bisa ditoleransi. Tapi untuk hari berikutnya, diusahakan jangan mengantar anaknya sampai terlambat ya, Pak." Bu Kepala Sekolah menerangkan dengan eksprrsi tegang.


Tanpa disangka-sangka Gharda membuka dompetnya dan mengeluarkan uang merah sebanyak 5 lembar lalu menyodorkannya menghentak meja ke hadapan Bu Kepala sekolah. "Uang ini akan mengganti rugi keterlambatan Jelita, saya rasa ini sudah lebih cukup. Dan urusan ini cukup sekali di hadapan saya."


Dengan tidak sopan Gharda beranjak dari sofa tamu tanpa mendengar ada ucapan dari kepala sekolah terlebih dulu.


"Ta-tapi, Afrinda!! Hei! Astaga anak itu terlalu berani." Bu Kepala Sekolah mendesah frustasi. Membujuk agar Jelita mau bersamanya ke dalam kelas, tapi Jelita menolak. "Ahkk. Biarlah ini Afrinda yang mengurus, payah," keluhnya.


Buk!


"Buka pintunya, Pak!"


Afrinda mengejar Gharda sampai ke parkiran mobil. Gharda berang, lancang sekali perempuan ini menyentuh mobil mewahnya sembarangan sampai mengetuk pintu juga.

__ADS_1


"Apa 500ribu kurang banyak, Nona? Saya tidak pubya waktu untuk meladeni tingkahmu ini!" seru Gharda emosi dari dalam mobil.


"Keluar sebentar, Pak. Bicara di luar " keukeh Afrinda menahan kaca mobil agar tidak menutupi sampai ke atas.


Tersulut emosi Gharda membuka pintu mobil dengan kuat, hampir saja badan Afrinda terpelanting sigap Afrinda menyeimbangkan badannya sudah berdiri tegap membalas tatapan tajam Gharda sama sengitnya.


"Ambil uang ini kembali, bukan ini yang kami butuhkan dari Anda." Afrinda mengulurkan uangnya ke hadapan Gharda.


"Kau!" Gharda tidak terima apa yang diberikan dikembalikan dengan cara seperti ini, baginya ini merendahkan harga dirinya.


"Anda tidak tuli untuk mendengar penjelasan Kepala Sekolah tadi, dengan angkuhnya anda menyogok kami dengan uang. Kami butuh konsisten anda untuk mengantar anak anda agar tidak terlambat, itu saja," ucap Afrinda berapi-api.


Mengepalkan tangannya menahan emosi, jika lawannya ini laki-laki, pastilah beda cerita. Menatap lamat-lamat wajah Afrinda, ada tanda pengenalnya juga. "Semoga kita tidak bertenu lagi," ucap Gharda mengambil uang dari tangan Afrinda secara kasar.


"Ingat komitmen, bukan semuanya harus dengan uangmu itu. Dasar pria sombong!"


Mendengar umpatan Afrinda, Gharda berbalik menatap bengis sekali lagi sebelum ia masuk ke dalam mobil.


Ttinnn!


Rivzal membunyikan klakson mobil melewati Afrinda, otomatis Rivzal dihadiahi satu makian dari bosnya. Gharda marah-marah mengumpat missnya Jelita mengatai segala ucapan tidak ramah di telinga, masih dendam melihat uang itu seolah-olah benda menjijikan.

__ADS_1


"Semoga kalian ditakdirkan berjodoh, Bos. Aminn..Aaaa! Belum pernah ada perempuan yang berani menentang si bos, sepertinya aku harus terus berdoa lebih sering lagi." Rivzal membatin terkekeh dalam hati.


👇👇👇


__ADS_2