
"Ayyyyahhh!"
Begitu melihat ayahnya muncul dari pintu, Jelita melepaskan mainannya berlari kencang merentangkan kedua tangannya mendarat dalam pelukan pria dewasa yang sangat ia rindukan. "Hhuaaa!! Ayah!" Tangisnya pecah detik itu juga.
"Kenapa menangis? Ayah sudah datang loh ini," ucap Gharda membujuk Jelita menggendongnya membawa duduk di ruang tamu bergabung bersama Allen dan Bibi Emma.
Mengggeleng keras menolak turun dari pangkuan ayahnya, sesenggukan seraya menghirup aroma tubuh itu dalam-dalam.
"Jelly-" Astaga, tubuhnya sampai berkeringat dan pandangannya seperti hendak mengatakan sesuatu. "Ada apa ini?" tanyanya khawatir.
Allen dan Bibi Emma saling pandang.
"Tadi malam Jelly terbangun tengah malam lalu menangis memanggil nama om, dibujuk-bujuk tidak berenti juga. Eh lama-lama Jelly demam," cerita Allendra.
"Bi." Gharda meminta penjelasan.
"Demamnya sudah turun, Nak Egwin sudah mengobatinya. Seharian ini Jelly murung dan merengek ingin bertemu tuan, saya bingung harus berbuat apa. Yang saya takutnya trauma kecelakaan itu kembali, karena tuan tidak tidur bersamanya semenjak kita tinggal di rumah ini."
Seminggu sudah menjadi buronan terpaksa berpisah dengan putrinya dan mamahnya, harus berganti-ganti penyamaran agar bisa datang kesana-kemari tanpa diketahui siapa dia. Tidak ada yang mau diposisi seperyi itu, Gharda mengalaminya sekarang.
"Om jangan ikutan nangis juga, nanti Jelly tidak mau diam."
__ADS_1
"Ahk." Gharda malu sekali ketahuan hampir menangis dihadapan Allendra. "Allen, om minta maaf ya kalau kedatangan Jelly jadi menganggu kamu."
"No!" Allen mengangkat kedua tangannya bergerak di udara. "Tidak, Om. Allen justru merasa senang karena jadi banyak temannya, Bibi Emma suka dongengin kami, terus juga, kegiatan kami tidak hanya belajar terus tapi kami main bersama. Baru tadi malam Jelly menangis, bukan dari hari kemarin."
Mengesah napasnya berat Gharda mengajak Jelly untuk mengobrol mencaritahu apa yang dirasakan Jelita, perlahan membuat tekanan suara selembut dan sabar.
"Ayah, kenapa kita belum pulang? Apa rumahnya sudah selesai di ren-renov-"
"Sabar ya, Jelly. Tukangnya diganti karena kerjanya tidak bagus," sahut Gharda berbohong.
"Yah, kenapa lama sekali. Jelly rindu tidur sama ayah, kangen oma, kangen semuanya. Ayah tidak tinggal sama-sama di sini, mau jenguk oma tidak boleh ayah bilang. Terus. Miss lain di sekolah ada bilang kalau ayah itu penjahat dikejar polisi, apa itu benar?"
DEG.
"Tapi kenapa ayah hilang-hilang?"
"Ayah'kan sibuk mengawasi rumah, menjenguk yang oma belum sehat. Yang terpenting Jelly harus nurut apa kata bibi dan om Egwin.
Malam ini ayah todur sama Jelly!"
"Beneran?"
__ADS_1
Menyisakan waktu yang terus berjalan, Gharda menyempatkan waktu menemui putrinya mengajak bermain serta makan malam, Jelita tampak bahagia sedari tadi ia bermanja-manha ingin terus di samping ayahnya.
Sudah terbiasa tidur bersama ayah membuatnya ketakutan di kamar baru bersama Allen, pernah berpikir bahwa ia ditinggal ayahnya yang kedua kali di rumah ini, Bibi Emma dan Dokter Egwin memberinga pengertian dari kesalah pahamannya.
Kedua anak gadis kecil ini sudah mengantuk setelah lelah bercanda bersama orang tuanya, Egwin membawa Allen kekamarnya, Gharda membawa Jelita tidur di kamar tamu.
Malam ini tidur bersama ayah, Jelita tidak berhenti tersenyum.
Tidak butuh waktu mata Jelita mulai sayu terbawa cerita dongeng yang dibaca Gharda, tetapi gemgaman tangan mungil itu tidak mau lepas dari pergelangan Gharda. "Jangan pergi lagi," ucapnya parau sebelum benar-benar tertidur.
Hati-hati melepas tangan Jelita, mengamati wajahnya lamat-lamat mengecup permukaan wajah dengan lembut, menyelimuti.
Menahan suara isakannya Gharda harus kuat berpisah untuk malam ini, terasa berat tetapi ini sudah waktunya.
"Maafkan ayah jika nanti kau bangun ayah tidak ada di sampingmu, tapi ayah janji akan secepatnya pulang. Kita akan bersama lagi, Sayang. Doakan ayah."
Tangannya bergetar menutup gagang pintu dadanya sesak.
"Ayok Gharda, mereka sudah menunggu."
Malam larut sekali Gharda dan Egwin menuju ke kota tempat Afrinda dirawat, memakai identitas palsu Gharda bisa naik pesawat kelas ekonomi.
__ADS_1
Sementara di tempat lain, Rivzal sudah berhasil menemukan Dewono yang hampir saja lolos melarikan diri jalur laut lalu membawanya ke gudang untuk disekap.
👇👇👇