
Baru saja hatinya merasakan rindu karena Afrinda menghilang satu minggu, sekarang wanita itu pergi lagi tampa kata dan kabar apa pun tak tahu sama sekali. Setengah hatinya tertinggal pada Afrinda entah bagaimana kabarnya dan kehidupan perjalanan cintanya, bukannya tidak berusaha mencari, jejaknya susah dilacak hilang ditelan bumi.
Sudah berulang kali membongkar isi kamar dan barang yang semuanya tertinggal di sini, tidak ada tanda-tanda dimana alamat rumahnya. Mencari melalui sekolah pun menemukan kejanggalan, seperti ada yang menganngu jaringan memptoses data identitas pengajar yayasan.
Malam ini Gharda hanya duduk merenung di depan jendelanya menatap langit pikirannya berkelana, mengesah kasar merogoh ponselnya menerima panggilan dari anak buahnya. Dugaanya tidak salah, ada pihak lain yang berhasil menghilangkan jejak Afrinda. Bandara, Halte, dan Stasiun tidak ada nama Afrinda terdaftar.
Jelita perlahan membuka pintu dengan tangan kirinya, tangan kananya memeluk boneka yang diambul dari kamar Afrinda.
"Ayah," panggilnya melangkah menghampiri ayahnya.
Gharda tersenyum manis, semenjak tahu semua kebenarannya ia semakin meratapi penyesalannya yang dulu dan sekarang rasa sayangnya pada putrinya melebihi dirinya-sendiri.
__ADS_1
"Kok kesini? Belum mengantuk ya?" Gharda membawa Jelita ke atas ranjangnya.
Jelita tidak menjawzb pandangannya lurus ke depan keningnya berkerut wajahnya murung, usapan lembut ayahnya menyadarkannya dari lamunan. "Miss Frind tidak sayang Jelly, dia pergi terus," cicitnya menundukkan wajah.
"Jangan seperti itu, Nak. Jelly tahu tidak? Setiap manusia itu mempunyai masing-masing cita-cita dan tujuannya, contohnya Jelita pengen jadi seorang guru seperti Miss Frind, nanti kalau sudah dewasa Jelly pasti bertekat untuk menggapainya. Begitu juga dengan Miss Frind yang sudah dewasa, semakin banyak umur kita akan semakin banyak impian yang ingin digapai. Suatu saat nanti Jelly juga mengalaminya." Gharda mencoba menerangkan apa yang diketahui anak-anak di grup whatsapp yang dibacanya.
"Ta-tapi Jel-ly masih mau sama Miss Frind terus," ungkap Jelita tersendat-sendat menangis tertahan dalam pelukan ayahnya.
Menggendong Jelita masih menangis kecil menimang-nimang badannya sudah hampir berat. Untungnya Jelita tidak mengalami tentrum seperti waktu itu, dengan mudah sudah tertidur jejak air mata mengering.
Menyelimuti tubuh Jelita dirinya sendiri belum mengantuk, Gharda memutuskan berkuat dengan laktopnya menghilangkan sejenak bayangan Afrinda.
__ADS_1
Nyonya Syeni tidak sengaja melewati kamar Gharda yang sedikit terbuka, tangannya menggantung di udara urung menyentuh daun pintu. Dadanya merasa sesak melihat Gharda terus mencoba bujuk Jelita karena sangat merindukan Afrinda. Perlahan menutup pintu agar tidak menimbulkan bunyi, masuk ke dalam kamar miliknya duduk termenung mengusap air matanya. Sinatrani, nama itu benar-benar dikenalnya dan salah satu keturunannya ternyata sudah mencoba ke kehidupan keluarganya. Ahk, segera menelan obatnya.
Apa yang harus dilakukannya adalah dilema untuk batinnya. Jika benar Afrinda anggota keluarga itu, harus bersiap membuka luka lama lagi dan perseteruan yang tidak kunjung usai, jika tidak benar rasanya sangat mustahil mengingat jejak kepergian Afrinda yang sangat diayur sedemikian rupa. Tapi jika tidak memberitahu pada Gharda, maka cucunya terus bersedih tidak berjumpa dengan miss kesayangannya.
Kekuatannya untuk membalas perbuatan keji keluarga itu belum bisa dipastikan, suaminya Alfonso sudah meninggal padahal pria itulah lawan yang seimbang. Memanfaatkan Gharda, putranya sendiri jatuh cinta pada putrinya keluarga itu, jelas ini tidak bisa. Dirinya tidak mumgkin sendirian. Hanya ada satu orang yang mampu melawan kekuasaan keluarga Sinatrani, tetapi jika meminta orang itu kembali satu dengannya, sama saja ia memberi ruang untuk melukai Gharda putranya.
"Pah, bagaimana ini?" tanyanya pada udara.
Abraham Dao Sinatran!
Mengingat namanya saja sudah membuat meremang. Apakah dia sangat menakuti orang itu?
__ADS_1
👇👇👇